Duduk Bersama

1234 Kata
Sembari menunggu kedatangan Ara, Judas membaca beberapa artikel terkait isu kelautan di kerajaan Monaghan. Berita tentang bisnis kelautan memang sedang marak setahun belakangan. Wajar saja kalau Ara sebagai manusia pecinta laut sangat tertarik dengan undangan Josh tadi untuk bertemu dengan Judas dan membahas hal ini. Dalam benak Ara, Judas pasti punya banyak informasi penting tentang isu kelautan itu. Setelah menghabiskan setengah gelas wine tadi bersama Judas, Josh langsung pergi ke pabrik yang terbakar beberapa hari lalu untuk memantau perkembangan perbaikan di sana. Dia tinggal menunggu kabar dari Ara kalau gadis itu sudah tiba di kasino atau bisa jadi Judas sudah terus mengawasi dari atas. Dia pasti akan melihat kedatangan gadis itu. Begitu pikir Josh. Benar saja. Tak berapa lama, gadis kurus dan mungil itu terlihat memasuki kasino. Kali ini, dia hanya mengenakan baju terusan berwarna biru muda, entah dari bahan apa. Dia mengenakan sejenis bolero dari bahan rajut yang sama-sama berwarna biru, tetapi sedikit lebih tua dari warna baju terusannya. Judas langsung menyunggingkan senyum ketika melihat sosok yang sudah membuat dia merasa sangat penasaran itu hadir di kasino miliknya. Selagi Ara melangkah masuk dan menuju area lift, Judas sudah buru-buru naik ke lantai tiga menggunakan tangga darurat. Dia berniat untuk menunggu di depan lift dan langsung menyambut kedatangan gadis itu sebagai wujud penghormatan. Seorang Judas yang terhormat dan sangat arogan, belum pernah sama sekali menyambut tamunya seperti ini. Dia sendiri tidak mengerti kenapa hatinya mendorong dia melakukan hal itu. Logika pria itu sebenarnya sudah meronta dari tadi. Pikiran menolak apa yang dia lakukan itu karena sangat menghina dan merendahkan martabatnya sebagai putra mahkota kerajaan Monaghan, konglomerat muda, pebisnis handal, dan juga pria tampan. Namun, kali ini hati dan pikiran dia sedang berbeda pendapat dan tidak mendapat kata sepakat. Meski pikiran dan logika menolak keras, tetap saja hati dan perasaan dia menggerakkan tubuh untuk berdiri tepat di depan lift yang sedang membawa gadis pujaan hatinya itu ke atas. Malaikat penyelamat yang sudah membuatnya lolos dari maut. Denting yang cukup nyaring, mengawali terbukanya pintu lift. Ara sedikit terkejut karena begitu pintu baja itu terbuka, terlihat wajah tampan Judas yang langsung menyambutnya dengan senyuman ramah. “Selamat datang, Nona Ara.” Judas melemparkan senyum termanisnya. “Apa kamu selalu melakukan seperti ini pada setiap tamumu?” Ara bertanya sambil melangkah dengan kaki kurusnya, melewati Judas begitu saja. Meski tampak dingin, tetapi Judas bisa menilai bahwa gadis ini tetap saja memperhatikan penampilan, sama seperti perempuan-perempuan lain di dunia. Buktinya, dia selalu mengenakan rok yang pendek. Jelas, itu untuk membuat kakinya terlihat lebih jenjang dan membuat dirinya terlihat lebih tinggi dari kenyataannya. Namun, ada hal yang aneh. Gadis itu malah lebih suka mengenakan sepatu flat. Mestinya, dia mengenakan sepatu dengan heels tinggi atau bahkan super tinggi untuk membantu menunjang tinggi badannya. “Tidak juga. Ini adalah pertama kalinya aku melakukan ini. Hanya demi kamu, Nona Ara.” Judas tidak mau kalah. Dia melangkah di samping gadis itu. Tentu saja tidak sulit untuk berjalan di samping Ara. Kaki mereka jelas punya jangkauan yang berbeda. “Apa kamu juga selalu menggombal seperti ini pada semua tamumu? Ehem. Lebih tepatnya, tamu wanita.” Ara meralat ucapannya sendiri setelah berdeham satu kali. Mendengar nada bicara Ara yang selalu sinis terhadapnya, Judas langsung mencekal lengan gadis itu agar langkah mungil bak tarian burung pipit berhenti. “Dengar, Nona Ara. Aku tidak suka diintimidasi oleh siapa pun, apalagi oleh seorang wanita. Aku berusaha menahan diri karena aku tidak akan lupa bahwa kamu adalah dewi penyelamatku. Tapi, jangan terus melewati batas, Nona. Aku bisa saja kehilangan kesabaranku dan kamu akan melihat sisi gelap atau bahkan sisi tergelap dari diriku ini.” Mata Judas menatap tajam, tepat di manik mata abu-abu muda milik gadis berambut teramat pirang itu. “Apa kamu juga selalu mengintimidasi orang-orang di sekitarmu dengan cara seperti ini?” tanya Ara pelan sembari membalas tatapan mata Judas yang terlihat garang dan menyala-nyala penuh kemarahan. Tatapan Ara bukan tatapan jutek, marah, bengis, atau marah. Tatapan itu begitu sendu dan menenangkan. Sungguh sangat bertolak belakang dengan ucapannya yang terkesan sinis dan menyakitkan. “Tidak juga,” jawab Judas, langsung melepaskan cekalan tangannya. Pria arogan itu tak mampu melawan keteduhan yang ditawarkan oleh sepasang mata Ara. Api amarah yang tadinya berkilat serta menyambar-nyambar di kedua pupil mata Judas, seolah langsung mati begitu saja terkena siraman pandang mata gadis itu. Ara langsung melanjutkan langkah kakinya, menuju ke restoran di lantai tiga itu, seperti rencana semula. Judas berjalan di sampingnya, dalam keadaan bungkam. Dia tidak lagi berani bicara.    Judas merutuk di dalam hatinya. Dia merasa heran, kenapa dirinya bisa dikalahkan oleh gadis yang masih teramat muda satu itu. Kali ini, dia yang merasa sangat terintimidasi dengan sikap gadis itu, sebenarnya. Melihat bos mereka datang bersama gadis asing, pelayan di restoran itu segera menyambut dan mengantar mereka ke meja yang tadi sudah dipesan oleh Josh. Mereka membantu menarik kursi, lalu mendorongnya lagi setelah dua tamu istimewa itu tiba di meja mereka. Manajer restoran khusus datang untuk memastikan bahwa bos besar mereka akan terlayani dengan baik. Berdasarkan informasi dari Josh tadi, gadis itu sangatlah istimewa untuk Judas sehingga dia tidak mau ada cela sedikit pun dalam pelayanan mereka. Harus super ekstra hati-hati, cermat, dan teliti. “Selamat siang, Tuan Judas dan Nona Ara. Silakan, buku menunya.” Salah satu pelayan restoran mengulurkan buku menu untuk Judas dan Ara, sementara satu lainnya menata napkin ke pangkuan Judas dan Ara bergantian, dan masih ada satu pelayan lagi yang dengan sigap mengisi air putih di gelas keduanya secara bergantian. “Kamu mau pesan apa?” tanya Judas, kali ini dengan nada yang sangat lembut. “Fettucini Carbonara with garlic cheese bread. Untuk minumnya, saya minta hot chocolate with rhum.” Ara mengulurkan kembali buku menu di tangannya pada pelayan restoran. Dia sudah hafal dengan menu di tempat itu. Ya, sejak kembali lagi ke Monaghan setelah tragedi dalam hidupnya yang membuat dia terpisah jauh dari keluarga, kasino milik Judas adalah salah satu tempat favorit dia untuk menghabiskan waktu, selain di pantai tentunya. Judas tersenyum simpul mendengar Ara yang memesan dengan cepat makanan serta minumannya. Jelas terlihat kalau gadis itu sudah sangat familiar dengan restoran miliknya itu. “Tidak mau tambah kudapan atau apa?” tanya Judas lagi sembari tersenyum tipis. Ara hanya menggeleng sambil emnatap sekilas ke arah Judas. Ah, setidaknya, kali ini dia tidak menanggapi ucapanku dengan ketus lagi. Judas menghela napas lega. Dia seperti seorang anak kecil yang takut dimarahi ibunya ketika bertanya. “Bawakan saya spaghetti dengan saus bolognese, hot americano coffe, tambahkan rhum di kopi saya.” Judas tersenyum lagi ke arah Ara. Pesanan gadis itu membuatnya ingin menikmati kopi dengan beberapa tetes rhum sebagai penambah rasa dan aroma. “Sekalian bawakan satu piring buah segar dan dua salad buah. Tambahkan banyak keju untukku,” ucap Judas lagi. “Baik, Tuan. Apa ada tambahan lagi?” tanya pelayan bagian taking order itu. “Itu dulu.” Judas mengibaskan tangan. “Baik, Tuan.” Pelayan itu lalu mengulangi pesanan Judas dan Ara sambil mengambil kembali buku menu dari hadapan Judas. Dia kemudian meninggalkan dua manusia itu untuk menyiapkan pesanan. “Apa kamu selalu seperti ini menjamu tamu kamu?” tanya Ara masih dengan nada dan ekspresi yang sama seperti tadi. Sangat datar. “Apa kamu tidak punya pertanyaan lain untuk aku jawab selain itu?” balas Judas sedikit kesal dengan bibir sedikit maju. Dari tadi, pertanyaan Ara bisa dikatakan selalu sama. Subyek dan predikat yang sama, hanya obyek saja yang berbeda.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN