Josh mendekati Josh yang sedang menikmati pemandangan kasino dari lantai dua seolah sedang menikmati pemandangan di tepi pantai. Pemuda itu juga sering merasa heran karena Judas kuat bertahan selama berjam-jam memandangi kasinonya dari lantai dua seperti itu, tanpa pernah merasa bosan. Padahal, pemandangannya ya begitu-begitu saja.
“Permisi, Tuan. Nona Ara akan segera kemari. Dia mengajak bertemu di restoran lantai tiga, Tuan.” Josh melaporkan hasil perbincangannya dengan Ara di telepon.
“Sungguh?” Judas yang saat itu sedang duduk di kursi tinggi langsung berdiri dan menatap Josh dengan mata berbinar. Judas benar-benar kehilangan wibawanya kalau itu tentang Ara.
“Dia ke sini sekarang? Kau hebat, Josh. Apa yang kau katakan padanya sehingga gadis galak itu mau menuruti ucapanmu, bahkan sekarang juga dia meluncur kemari. Pasti ada trik khusus yang kau miliki. Ayo, ceritakan padaku.” Judas tertawa keras mengakhiri kalimatnya.
Dalam hati, dia salut pada Josh. Dia saja yang sudah terkenal sebagai penakluk berbagai jenis wanita masih kewalahan menghadapi sifat liar dan ganas Ara, tetapi Josh yang terlihat tenang dan santun malah bisa menundukkan gadis itu, bahkan hanya via telepon saja. Kedatangan Ara yang langsung saat itu juga, tentu saja merupakan hal di luar ekspektasi dia.
Josh lantas menceritakan tentang kecintaan Ara terhadap laut. Dari data yang sudah Josh dapatkan, lalu dia manfaatkan untuk memancing Ara agar mau datang.
“Hmmm, jadi ketika dia bilang bahwa dia menyelamatkan aku bukan demi diriku melainkan demi laut kecintaan dia, itu tidak bohong. Dia memang sangat mencintai laut. Begitu maksudmu?” tanya Judas sembari sedikit memiringkan kepala.
“Gadis yang sangat unik,” ujarnya lagi, sedikit bergumam.
“Betul, Tuan. Dia memang sangat mencintai laut. Laut pasti punya kisah dan makna tersendiri bagi gadis itu, Tuan. Saya tidak tahu apa,” jawab Josh.
“Cari lebih banyak lagi soal dia. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Aku mau tahu semua kisah hidup gadis unik itu. Semuanya. Dari dia lahir sampai hari ini,” titah Judas dengan wajah serius.
Semangat pria itu untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang Ara, menurut Josh adalah lebih dari sekadar rasa penasaran. Bahkan, ketertarikan dia pada informasi bisnis tidak pernah seperti sekarang ini. Gadis itu jelas sudah mencuri hati tuannya.
“Baik, Tuan. Saya akan segera meminta orang-orang untuk menyelidikinya.” Josh mengangguk dengan hormat.
“Laporkan padaku secara berkala. Tidak perlu menunggu semua lengkap. Aku ingin tahu setiap detailnya. Setiap kali ada potongan berita tentang dia, langsung kabari aku,” ucap Judas lagi dengan sangat antusias. Wajahnya benar-benar bersinar penuh semangat.
“Baik, Tuan. Satu lagi, Tuan. Tuan harus bisa mengarang cerita soal kekhawatiran Tuan pada keselamatan laut kita karena memang hal itu yang tadi saya sampaikan pada Nona Ara agar dia mau datang ke sini. Saya bilang kalau Tuan sendiri yang akan membicarakan dan mendiskusikannya dengan dia.”
Judas mengangkat tangannya, memanggil salah satu penjaganya. Dia meminta sebotol red wine dan dua gelas untuk Josh dan dirinya. Penjaga itu segera pergi untuk mengambil yang diminta oleh tuannya.
“Kau ada ide, aku harus bicara soal apa?” Judas balik bertanya.
Tidak mungkin kalau Josh mengatakan hal itu tanpa sebab, selain bahwa Ara sangat menyukai laut. Jika isu keselamatan laut yang langsung tercetus dari mulut Josh, pasti ada sesuatu di kepala pemuda itu yang membuatnya merespons dengan cepat sehingga keluarlah ide tersebut. Ucapan refleks Josh tidak pernah tanpa ada dasar yang jelas. Dia adalah pemuda paling responsif dan logis yang Judas kenal selama ini. Ditambah lagi, Josh sangat stabil secara kepribadian. Dia sangat netral. Tidak kejam, tetapi juga tanpa belas kasihan. Karena itulah, Judas langsung menyukai pemuda itu hingga menjadikannya sekretaris pribadi.
Sebelumnya, Josh hanyalah seorang waiters di salah satu hotel milik Judas. Mimik wajah serta perilaku Josh yang terkesan datar, tegas, tetapi komunikatif itu menarik perhatian Judas. Dia lantas menguji mental pemuda itu. Dia memanggilnya secara pribadi ke ruang kerja Judas.
Tanpa rasa takut sedikit pun, Josh menghadap Judas dengan sikap yang teramat tenang. Biasanya, orang yang berhadapan langsung dengan Judas, apalagi mereka hanya berdua saja, akan menunjukkan dua sikap. Sikap golongan pertama adalah pura-pura akrab, baik, hangat, dan berusaha untuk menjilat Judas. Satu sikap yang sangat dia benci dan dia jauhi. Siapa pun orangnya, kalau terkesan menjilat, pasti akan langsung dijauhi atau bahkan dibuang oleh Judas jika keterlaluan. Dia sangat merasa tidak nyaman dengan golongan manusia penjilat seperti itu.
Sikap golongan kedua adalah takut. Berhadapan dengan Judas secara pribadi itu artinya mereka sedang mempertaruhkan diri di antara hidup dan mati. Berhasil keluar dari ruangan hidup-hidup saja, mereka sudah sangat bersyukur. Karena kalau selama perbincangan itu Judas kurang berkenan, nyawa bisa saja melayang seketika alias saat itu juga. Bahkan, jasad mereka belum tentu bisa ditemukan.
Rumor sudah beredar luas ke mana-mana bahwa Judas memiliki sekumpulan hewan-hewan buas yang siap untuk memangsa orang-orang yang ingin dia singkirkan. Benar tidaknya, memang tidak ada yang tahu. Orang juga tidak berani menanyakan tentang hal itu. Pernah ada satu orang yang nekat bertanya pada salah satu penjaga vila Judas tentang hewan-hewan itu. Keesokan harinya, dia sudah menghilang. Terbersit kabar kalau para pasukan pengawal khusus milik Judas menjemput dia dan mengantarkan dia pada hewan-hewan buas itu untuk memenuhi rasa penasaran dia. Sejak itu, dia tidak pernah kembali.
Dengan adanya kasus tersebut, orang tidak berani lagi bertanya atau menelisik lebih jauh tentang kehidupan pribadi Judas. Orang hanya berani berbisik lirik di belakang sana. Judas hanya dikeliling oleh pasukan pengawal khusus dan beberapa orang kepercayaan saja. Tentu saja, Josh adalah orang yang paling dia percaya selama ini.
Dulu, pemuda itu datang untuk undangan untuk pertama kali tanpa menunjukkan ekspresi takut ataupun menjilat. Dia adalah golongan ketiga, yakni biasa saja. Datar.
Josh menceritakan tentang permohonan beberapa pebisnis untuk mulai mengeksploitasi kekayaan laut kerajaan Monaghan. Ada beberapa yang ingin mengambil batubara serta minyak bumi yang ada di dasar laut Monaghan. Josh sudah mendengar isu ini sekitar dua tahun belakangan. Sepertinya, isu ini makin gencar tahun ini. Judas bisa menggunakan itu sebagai dasar untuk berbincang dengan Ara.
“Hahaha. Kau memang paling cerdas, Josh. Kerja yang sangat bagus! Aku suka sekali. Oke, aku sudah tahu nanti harus bicara apa.” Judas tertawa girang.
Tak lama kemudian, penjaga Judas datang dan membawa pesanan wine tadi. Josh dengan sigap mengambil dua gelas di tangan penjaga itu dan mengulurkan satu gelas pada Judas. Penjaga itu lalu membuka tutup botol wine dan menuangkan isinya untuk Judas dan Josh.
“Taruh saja botolnya di situ dan kamu kembali ke tempatmu,” kata Judas sembari menunjuk pagar tembok di hadapannya.
Pria penjaga itu melakukan sesuai titah Judas, lalu membungkukkan badan dan kembali ke tempat jaga dia tadi, beberapa meter dari tempat mereka berdiri saat ini.
“Mari bersulang untuk pabrik yang hanya terbakar sebagian, untuk wanita pengkhianat yang menjadi santapan hewan-hewanku hari ini, dan untuk pertemuanku dengan Ara.” Judas mengangkat gelasnya hingga setinggi wajah. Josh melakukan hal yang sama.