Pintu mobil yang tiba-tiba terbuka, menyadarkan Judas dari lamunan masa kecilnya. Rasanya masih nyeri di hati ketika dia mengingat pengkhianatan ayah kandungnya sendiri yang menyebabkan kematian ibunda tercinta, satu-satunya orang yang paling dia percayai di dunia ini.
Judas berjalan pelan memasuki kasino miliknya. Seperti biasa, dia langsung naik ke lantai dua dan memandangi kesibukan yang sedang berlangsung di bawah sana hingga matanya terpaku pada salah satu sudut. Sudut tempat dia bertemu dengan gadis itu untuk pertama kalinya. Ara. Gadis kurus dengan penampilan yang teramat biasa, tetapi entah mengapa, dia sulit untuk membuang bayangan gadis itu di dalam kepalanya.
Dari sekian banyak perempuan yang dia kenal, kenapa harus gadis belia dan kurus tinggi langsing seperti itu yang malah tersimpan lekat di bilik ingatan? Perempuan lain banyak yang jauh lebih cantik dan seksi dibandingkan gadis itu. Bahkan, tak perlu bersusah payah untuk mendekati, mereka sudah jelas memuja ketampanan, kekayaan serta keperkasaan Judas tentu saja. Judas tinggal menjentikkan jari, mereka akan datang dan dengan sigap melayani. Berbeda jauh dengan Ara yang justru memandang dia sebelah mata, bahkan setelah tahu bahwa dirinya adalah putra mahkota kerajaan Monaghan. Hati gadis itu tetap saja bergeming.
“Aku mau ketemu Ara secepatnya,” kata Judas kepada Josh yang sedang berdiri di sampingnya.
“Hari ini,” tegasnya lagi.
“Baik, Tuan. Saya usahakan.” Josh mengangguk sembari badannya sedikit menunduk, lalu meninggalkan Judas.
Tidak mudah untuk dia mengundang Ara yang terkenal keras dalam pendirian. Gadis itu juga terkenal tertutup, tidak mau dekat atau bergaul dengan siapa pun. Josh sudah mendapatkan banyak informasi ketika mencari tahu identitas gadis penolong Judas di kecelakaan waktu itu. Namun, tak ada salahnya untuk dicoba. Josh langsung menuju salah satu kafe di gedung kasino tersebut dan duduk di meja paling ujung agar tidak terlalu bising. Dia mengambil telepon genggam dari dalam saku celana setelah memesan segelas minuman pada pelayan kafe.
Nada sambung terdengar beberapa kali, tetapi belum diangkat juga. Tak ingin dianggap meneror atau panggilan spam, Josh menghentikan panggilan teleponnya setelah tiga kali tidak terangkat. Dia menunggu, berharap gadis itu akan segera menghubungi dia.
Pelayan datang membawa segelas rainbow mocktail pesanan Josh. Pilihan tepat untuk pria itu menyegarkan tenggorokannya setelah melihat satu manusia mati kepanasan pagi ini. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Ara.
[Siapa?]
Pesan yang teramat singkat. Hanya satu kata dan satu tanda baca saja. Benar-benar gadis yang sangat misterius, pikir Josh sambil memulas senyum.
[Bisa saya telepon, Nona Ara? Saya Josh.]
Josh sengaja tidak menjelaskan maksud dan tujuan dia mgnhubungi gadis itu. Kalau hanya via tulisan, bisa saja gadis itu langsung mengabaikan permohonannya agar mau bertemu dengan Judas. Bisa saja dia membaca, lalu langsung menghapus pesan itu. Kalau melalui sambungan telepon langsung, setidaknya Josh masih punya kesempatan untuk merayu. Selama ini, relasi sesulit apa pun bisa berhasil dia rayu. Semoga saja, gadis ini juga bisa dia rayu untuk memenuhi keinginan tuannya.
[Perlu apa?] Lagi-lagi, balasan super singkat yang Josh dapatkan.
[Saya jelaskan di telepon, Nona. Boleh?] Josh tidak kehilangan akal. Dia tetap tidak mau terpancing.
[Waktu bicaramu hanya satu menit. Kalau tidak menarik, saya akan langsung tutup teleponnya.] Ara memang penasaran, Josh ini siapa dan ada perlu apa dengan dirinya. Selama ini, tidak banyak yang tahu nomor telepon dia, apalagi berkomunikasi dengannya.
Tak mau membuang waktu, Josh langsung menekan tombol telepon. Apa pun yang terjadi nanti, setidaknya ada celah meski sempit untuk dia berbicara langsung dengan gadis itu.
“Ya.” Suara gadis yang terkesan sangat dingin terdengar di ujung sambungan.
“Saya mewakili Tuan Judas mengundang Anda untuk sekadar minum teh atau makan malam sebagai ucapan terima kasih kami karena Nona telah menyelamatkan nyawa Tuan Judas. Jam berapa dan di mana, kami serahkan pada Nona untuk menentukan.” Josh berbicara dengan lancar.
Aman, tidak sampai satu menit, ucap Josh dalam hati sembari terus menatap jam rolex yang melilit pergelangan tangan kirinya.
“Dia atau kamu yang mengundangku?” tanya Ara dengan nada datar. Tidak terkesan ketus, tetapi lebih terkesan dingin, tanpa perasaan apa pun.
“Tuan Judas, Nona. Saya hanya mewakili beliau saja,” jawab Josh dengan tangkas.
“Kenapa bukan dia yang mengundang langsung?” tanya gadis itu lagi.
“Tuan Judas sedang ada pekerjaan penting, Nona. Jadi dia mewakilkannya pada saya untuk mencari nomor telepon Nona Ara dan langsung mengundang Anda.” Josh menelan ludah dengan kasar. Baru kali ini dia menghadapi gadis sedingin ini.
“Aku bukan orang penting. Dia tidak perlu mengundangku. Soal kecelakaan itu, aku tidak ambil pusing. Semua sudah selesai. Kalian jangan menggangguku lagi.”
“Tunggu, Nona. Bukan hanya itu yang ingin dibicarakan oleh tuan kami. Beliau juga ingin membicarakan tentang keamanan laut.” Josh buru-buru menahan Ara dengan kalimatnya sebelum gadis itu memutus sambungan telepon secara sepihak.
“Keamanan laut? Ada apa dengan laut?” Nada bicara Ara terdengar sangat penasaran.
Ah, syukurlah. Pancinganku berhasil. Josh mengepalkan tangan saking semangatnya.
Untung saja, dia sempat membaca detail semua laporan tentang Ara sebelumnya. Di laporan itu disebutkan bahwa gadis itu menghabiskan sebagian besar waktunya di pantai. Dia sangat suka laut, bahkan terkadang sampai seharian dia bermain di laut dan berenang.
“Maaf, Nona. Saya tidak berhak untuk menjelaskan lebih banyak lagi tentang hal itu. Tuan Judas yang akan menjelaskannya secara langsung kepada Anda. Yang jelas, Tuan ingin menjaga kelestarian laut yang sekarang sepertinya sedang terancam.” Josh sengaja memancing lagi rasa penasaran gadis itu.
“Terancam? Baiklah. Saya mau ketemu sama tuan kamu.” Ara akhirnya mengalah.
Rasa penasaran mengalahkan rasa malas Ara untuk bertemu dengan Judas yang menurut dia sangat menyebalkan karena pria itu sok tampan, sok kaya, dan sok berkuasa. Bertemu dengan manusia biasa saja dia malas, apalagi bertemu dengan jenis yang sok-sokan seperti itu. Namun, demi kecintaan dia terhadap laut, mau tidak mau dia harus mengesampingkan perasaan muaknya. Ditambah lagi, Ara tahu kalau Judas adalah putra mahkota kerajaan Monaghan. Mungkin saja, dia punya informasi penting yang tidak banyak orang tahu. Tidak ada salahnya untuk menemui dia.
“Terima kasih banyak, Nona. Nona Ara mau ketemu di mana dan jam berapa? Nanti, biar Tuan Judas yang menyesuaikan jadwalnya.” Josh sengaja menampilkan bahwa Judas sudah sangat berkorban demi bisa bertemu dengan Ara. Padahal, Judas hari ini tidak ada agenda penting apa pun, selain menunggu pertemuannya dengan Ara.
“Di kasino kalian saja. Aku suka di sana. Sekarang juga, aku meluncur ke sana. Kita bertemu di restoran lantai tiga.” Ara langsung menutup panggilan telepon secara sepihak.
Yes. Berhasil. Josh berteriak dalam hati sambil mengepalkan tangannya. Dia bergegas naik untuk menemui Judas dan mengabarkan berita baik itu, sekaligus agar sang tuan bisa segera bersiap menyambut kedatangan gadis istimewa itu. Baru kali ini, Josh melihat sang tuan gusar hanya karena seorang wanita.
Apa dia benar-benar jatuh cinta pada Nona Ara? Ah, mungkin saja tidak. Siapa tahu, itu hanya karena utang budi. Kalau tidak ada gadis itu, pasti Tuan Judas sudah mati. Josh terus bergulat dengan pikirannya sendiri, sepanjang langkahnya menuju lantai dua untuk menemui Judas.