Dengan penuh rasa takut, wanita itu mendongakkan wajah ke arah Judas. Matanya seketika terbelalak melihat bahwa sosok pembunuh Max tadi adalah benar Judas, seperti tebakan dia dari suara tadi. Judas kecil menyeringai. Satu sudut bibir yang tertarik sempurna, menambah kesan bengis di wajah tampan yang biasanya terlihat polos itu. Amarah dan dendam memang mampu mengubah manusia dengan sangat cepat. Bahkan, manusia baik sekalipun.
“Pangeran Judas. Lepaskan saya, Pangeran. Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya menuruti perintah Tuan Max untuk menemaninya tidur. Hanya itu, Pangeran.” Sedikit gagap, wanita itu masih berusaha memohon dengan tatapan memelas.
“Tidak tahu apa-apa? Bukankah kamu yang sudah memasukkan pecahan kaca itu ke tubuh mamaku?” tanya Judas kecil dengan nada sinis, masih tetap menjambak rambut wanita itu. Pisau di tangan kanan Judas juga masih menempel di telinga kiri wanita berambut pirang bercampur kecokelatan itu.
“Saya ... hanya diperintah, Pangeran. Tuan Max yang memerintahkan saya. Kalau saya tidak mau, saya pasti akan dia bunuh. Saya terpaksa menuruti dia, Pangeran. Sungguh!” Wanita itu masih saja bersikukuh.
“Terpaksa, katamu? Kamu terpaksa melakukannya atas suruhan Max? Dan kamu terpaksa membunuh mamaku karena kamu dengan sangat terpaksa ingin menjadi ratu di kerajaan ini?” Judas menggeram di akhir kalimatnya. Dia merasa sangat muak dengan kepalsuan wanita yang kini bersimpuh memohon di hadapannya itu.
Sudah jelas ketahuan, masih saja dia berkelit. Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf dengan tulus, dia malah bersikukuh dengan segala kebohongannya. Namun, mana ada permintaan maaf yang tulus setelah ketahuan? Kalau memang benar-benar tulus, pasti permintaan maaf itu dilakukan sebelum ketahuan.
“Maafkan saya, Pangeran. Itu hanya janji dari Tuan Max saja. Saya tidak pernah berani memimpikan hal itu, Pangeran.” Dalam hati, wanita itu sebenarnya merasa heran, bagaimana Judas kecil bisa tahu tentang semua hal itu.
“Baiklah. Aku akan melepaskan kamu, tapi dengan satu syarat,” ucap Judas pelan sembari menekankan ‘satu syarat’.
“Apa itu, Pangeran? Saya akan turuti semua kemauan Pangeran. Saya janji, asal Pangeran melepaskan saya.” Mata wanita itu berbinar sesaat. Dia merasa, setidaknya ada sedikit harapan untuk dia bisa tetap hidup dan segera pergi meninggalkan kerajaan, sebelum dia diadili atas laporan Judas nantinya.
“Syaratnya adalah ... aku potong satu telingamu dulu. Kalau kamu bisa tetap bungkam dan tidak berteriak sama sekali, maka aku akan bebaskan kamu. Tapi, kalau kamu berteriak, kamu masih punya satu kesempatan lagi, yaitu telinga kananmu. Aku baik hati, bukan?” Judas kecil terkekeh.
Wanita itu seketika diam. Tubuh melemas dan wajahnya langsung pucat pias serupa kapas. Bagaimana bisa, dipotong telinga tanpa harus berteriak? Dia bukanlah wonder woman.
“Bagaimana?” tanya Judas sekali lagi. Tatapan Judas terasa sangat mengintimidasi.
“Tidak adakah cara lain, Pangeran? Saya akan mengabdikan seluruh hidup saya pada Anda, Pangeran. Seumur hidup saya.” Wanita itu masih mencoba untuk bernegosiasi.
“Tidak ada pilihan lain. Mati atau kehilangan satu telinga?” Judas sengaja menaikkan sedikit pisau dalam genggaman tangan kanannya.
Rasa perih mulai terasa di bagian bawah cuping wanita itu. Wanita itu meringis. Dia sadar, sepertinya memang tidak ada kesempatan lain. Dia harus merelakan satu telinganya hilang sebagai pengganti nyawa.
“Lakukan dengan cepat, Pangeran.” Wanita itu langsung menutup mata dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sebisa mungkin, dia harus bisa menahan sakit yang sebentar lagi akan menderanya.
Judas menyeringai sekali lagi, lalu mulai mengiris telinga wanita itu. Tidak dia lakukan dengan cepat melainkan dengan kecepatan biasa seperti sedang mengiris steak di atas piring ketika dia sedang makan malam. Tentu saja, wanita itu berteriak kesakitan. Namun, dia tak berani untuk melawan, apalagi sampai menahan tangan Judas yang sedang mengiris telinga kirinya itu. Dia berteriak sekuat tenaga.
Judas membiarkan wanita itu meraung-raung kesakitan sambil memegangi bekas telinga kirinya. Sedang asyik menikmati permainan barunya, Judas mendengar langkah beberapa orang di luar kamar.
“Max, ada apa? Siapa yang berteriak tadi?”
Judas mengenali suara itu. Itu suara kakeknya, sang raja yang baru saja tiba di istana. Kedatangan raja dan ratu tidak juga menyurutkan niatan Judas untuk menyiksa wanita itu sampai mati. Judas kembali meraih rambut wanita itu dan berniat untuk menggoroknya. Namun sayang, pintu sudah telanjur didobrak oleh penjaga istana.
Kakek dan nenek Judas masuk ke kamar Max diikuti oleh beberapa penjaga istana. Mereka terperangah ketika melihat kondisi pelayan wanita itu dalam keadaan polos tanpa busana sama sekali dan terlihat memegangi kepala bagian kiri sambil meraung-raung. Darah membanjir deras dari kepala wanita itu.
“Tolong, Raja. Tolong, Ratu. Ampuni saya,” ratap wanita itu ketakutan sembari menahan rasa sakit akibat satu telinganya kini telah hilang.
“Judas, lepaskan dia!” teriak sang raja.
Semua mata sontak menatap ke arah Judas. Judas tetap bergeming. Pisau tadi dia tempelkan di leher pelayan wanita itu, bersiap untuk menggoroknya.
“Judas, lepaskan dia, Nak. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik,” ucap nenek Judas dengan lembut.
Melihat keadaan wanita itu di kamar Max, dia sudah bisa langsung menebak, apa yang sebenarnya telah terjadi. Dia menyimpulkan bahwa Max telah berselingkuh dengan wanita pelayan itu, bahkan di hari kematian Elena. Hal itu pasti melukai perasaan Judas yang baru saja kehilangan sosok sang ibu.
“Dia tidak pantas untuk hidup, Nek. Dia telah membunuh Mama,” ucap Judas tegas, lalu menggoreskan pisau di tangannya dengan kuat dan cepat.
Judas melepaskan genggamannya pada rambut wanita itu. Rambut yang kini terlihat kumal, bercampur antara keringat dan darah yang memancar. Semua orang terpekik melihat apa yang sudah dilakukan oleh Judas.
“Kamu jaga di tangga. Tidak boleh ada yang naik kemari!” Sang raja langsung memberikan titahnya kepada dua penjaga istana di belakangnya.
“Baik, Raja.” Dua penjaga itu bergegas turun dan berjaga, tepat di anak tangga paling bawah.
“Judas, Sayang. Buang pisaumu, Nak. Ayo, buang, Sayang,” tutur nenek Judas lembut.
Dengan santai, Judas membuang pisau itu begitu saja. Sang nenek langsung memeluk Judas dan menangis selama beberapa saat melihat keadaan cucunya. Dia pasti sangat terluka hingga nekat melakukan perbuatan itu. Sang ratu membawa Judas kembali ke kamarnya. Dia meminta salah satu penjaga istana untuk mengambil air bersih di baskom, lalu mulai membersihkan tangan dan wajah Judas yang terciprat oleh darah. Sambil membersihkan bekas darah itu, dia meminta Judas untuk menceritakan semuanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Judas menceritakan semua yang dia dengar di dapur semalam dengan rinci. Sang nenek pun merasa terkejut. Dia tidak menyangka kalau Max akan melangkah sejauh itu hanya demi merebut takhta kerajaan Monaghan.
Sang nenek membantu Judas untuk berganti pakaian. Setelah itu, dia membaringkan Judas di atas ranjang dan menyelimutinya.
“Lupakan semua yang sudah terjadi, Sayang. Nenek dan Kakek akan mengurus semuanya. Tidurlah.” Ratu Moana mengusap lembut rambut Judas, lalu melangkah meninggalkan kamar sang cucu satu-satunya itu.
Dia menceritakan semua hal yang sudah dia dengar dari Judas kepada sang raja. Dengan cepat, raja menyelesaikan semua masalah itu. Dia mengatakan kepada semua orang bahwa Max dan wanita pelayan itu telah saling bunuh karena perselisihan setelah mereka membunuh Putri Elena. Keduanya adalah pasangan selingkuh yang juga berniat untuk merebut takhta resmi kerajaan Monaghan. Tak tanggung-tanggung, mereka juga merencanakan untuk membunuh raja dan ratu yang sekarang bertakhta, yakni kakek dan nenek Judas.
Berita itu tersebar ke seluruh penjuru negeri. Sang raja bahkan tidak mengizinkan dua orang itu untuk disemayamkan. Dia memerintahkan penjaga istana untuk menusukkan sebatang kayu besar dari lubang dubur mereka hingga ke tenggorokan, lalu memajangnya di luar wilayah kerajaan Monaghan sampai bangkai mereka habis dimakan burung dan hewan-hewan buas lainnya. Itu adalah hukuman bagi mereka yang berani membunuh anggota inti keluarga kerajaan.