Judas bergegas turun lagi dan menuju ke dapur. Dia ambil sebilah pisau berukuran sedang. Panjangnya sekitar dua puluh sentimeter.
“Sepertinya, ini cukup,” gumamnya sembari mendesis penuh kemarahan.
Judas kecil segera naik kembali. Yang ada dalam benak dia saat ini adalah menghabisi dua orang terkutuk yang kini sedang tertawa bahagia merayakan keberhasilan mereka, membunuh Elena. Dia akan menunggu keduanya tertidur pulas agar lebih mudah dalam menjalankan rencananya. Judas tidak mau kalau rencananya sampai gagal. Dia menyadari, dalam keadaan terbangun, dia tidak mungkin menang melawan dua manusia dewasa, apalagi Max yang memiliki tubuh lumayan besar dan berotot.
Kini, Judas berdiri di depan pintu kamar Max. Sayup-sayup, dia masih mendengar pergumulan hebat di dalam sana. Terdengar wanita itu merintih sembari sesekali berteriak manja, entah karena apa. Max mengerang dan sesekali terdengar seperti seekor serigala yang sedang menggeram lapar. Judas menunggu dan terus menunggu.
Hampir satu jam berdiri di depan pintu kamar, dia masih bisa mendengar gumaman-gumaman dari dalam kamar. Rupanya, Max dan wanita selingkuhannya tidak segera tidur.
Tubuh penat bercampur rasa lapar yang mendera perutnya, membuat Judas terduduk di atas lantai sambil menyandarkan punggungnya pada daun pintu kamar Max. Dia tetap akan menunggu sampai suara-suara di dalam sana menghilang dan berganti dengan dengkuran.
Judas merasakan matanya sangat berat dan terasa sangat lengket. Berulang kali dia mencoba untuk mengusir kantuk dengan menggosok kedua matanya menggunakan telapak tangan kanan, tetapi bukannya berkurang, rasa kantuk itu malah makin menjadi-jadi. Dia menguap berulang kali. Judas terus mengerjap-ngerjapkan mata untuk menjaga kesadaran dirinya. Dia tidak boleh tertidur. Tidak boleh! Begitu pemikiran Judas.
Tekad belum tentu seiring dengan kenyataan. Sekuat apa pun tekad Judas untuk tidak terlelap, tetap saja bocah kecil itu tertidur sambil duduk di depan pintu Max. Untung saja, tidak ada petugas istana yang berpatroli di area kamar tidur mereka.
Dini hari, Judas terbangun karena rasa dingin yang memagut tubuhnya. Matanya mengerjap beberapa kali, sebelum kemudian kesadaran diri bocah kecil itu telah sepenuhnya terisi. Dia berdiri, lalu menempelkan telinganya pada daun pintu kamar Max. Terdengar dengkuran keras sang ayah di dalam sana.
Ini saat yang paling tepat, ucap Judas di dalam hatinya.
Dia genggam kuat pisau di tangan kanan yang tadi tergeletak begitu saja di atas lantai karena dia jatuh tertidur. Untuk sesaat, dia bingung memilih tentang siapa yang harus dia habisi lebih dulu. Sang ayah atau wanita j*****m pembunuh ibunya itu.
Beberapa detik berpikir sambil termangu di depan kamar, Judas akhirnya lebih memilih untuk menikam Max terlebih dahulu. Jelas, dia lebih kuat daripada wanita itu. Namun, ada resiko wanita itu berteriak keras ketika dia membunuh Max. Itu juga satu hal yang harus dia pertimbangkan. Kalau membunuh wanita itu lebih dulu, justru jauh lebih berbahaya. Max bisa saja melawan dan pasti akan dengan mudah melumpuhkan dirinya. Terlalu berbahaya.
Judas membuka pintu kamar Max dengan perlahan, lalu menutupnya pelan-pelan. Tak lupa, dia segera mengunci pintu kamar itu agar mereka tidak bisa lari. Judas akan menuntaskannya secepat mungkin. Apa pun yang terjadi nanti, itu urusan belakangan. Yang terpenting, dua manusia tidak tahu diri itu harus segera lenyap dari muka bumi. Mereka tidak pantas berdiri dan berpijak di tanah kerajaan Monaghan, apalagi menghirup udara bersih kerajaan tercinta ini.
Judas memasukkan kunci kamar ke dalam saku celana panjangnya. Dia memang belum mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Dia masih mengenakan pakaian yang sama sedari siang kemarin. Setapak demi setapak, dia melangkah mendekati ranjang. Hanya ada satu lampu tidur yang dinyalakan di salah satu nakas. Namun, itu sudah cukup bagi dia untuk mengenali dua sosok yang sedang tertidur pulas di hadapannya itu.
Dua manusia dewasa sedang berpelukan tanpa seutas benang sekalipun. Mereka terlihat pulas sekali dalam balutan selimut tebal berwarna hijau toska, warna favorit sang ibu. Dalam samar, Judas masih mampu melihat kalau dua b******n itu sedang tersenyum dalam tidur mereka.
Ah, mereka pasti merasa sangat bahagia. Kalian berpikir akan menjadi raja dan ratu kerajaan ini? Mimpi! teriak Judas di dalam hatinya.
Dia melangkah pelan ke arah sisi kanan ranjang, tempat sang ayah sedang tertidur pulas. Nyaman sekali. Posisinya tertengadah, lalu dipeluk dengan erat oleh wanita selingkuhannya yang menyandarkan kepala di d**a pria tampan itu.
Selamat tinggal, Max!
Judas menghunus pisaunya, lalu langsung menusuk tepat di tenggorokan Max. Tak sempat berteriak, Max langsung mengeluarkan suara seperti orang sedang mengorok dengan keras. Tubuh pria itu kelojotan, kejang-kejang sembari kedua tangan memegangi lehernya, seolah dia sedang berusaha untuk menghentikan kucuran deras darah dari lubang yang menganga di lehernya itu. Tak berhenti sampai di situ, Judas menusuk mata kanan Max, lalu beralih ke mata kirinya.
Judas menyeringai puas melihat pria yang sangat dia benci itu tersiksa di akhir hayatnya. Judas yakin, Max pasti akan mati. Kalaupun dia tidak mati, malah akan jauh lebih menderita lagi. Kedua matanya buta dan luka di leher pasti akan berpengaruh besar pada kesehatan pria itu. Dan yang paling jelas, dia tidak akan bisa jadi seorang raja dengan kondisi tubuh seperti itu.
Wanita selingkuhan Max terkejut karena merasakan ada sesuatu yang basah mengenai wajahnya. Refleks, dia duduk dan segera menjauh dari tubuh Max. Matanya yang baru saja terbuka, ditambah kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, hanya mampu melihat ada sesosok manusia di dekat Max. Posisi Max memang berada di dekat lampu nakas yang tidak menyala, sehingga hal itu menyulitkan dirinya untuk mengenali siapa sosok di dekat Max itu dan apa yang sudah dia lakukan sebenarnya.
Dia masih berusaha untuk mencerna tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun, insting dan intuisinya mengatakan bahwa ada bahaya. Dia usap cairan basah di wajah yang perlahan meleleh ke sudut bibirnya. Terasa anyir, asin, sedikit kental.
Wanita itu kemudian melihat ke arah tangan kanannya setelah mengusap wajah. Darah! Ini ... darah! Wanita itu berteriak di dalam hati. Belum sempat dia bergerak, Judas sudah langsung melompat ke atas kasur dan mencengkeram rambut wanita itu.
“Aduh, ampun! Ampun! Saya hanya pelayan di sini, Tuan. Saya tidak tahu apa-apa,” teriak wanita itu ketakutan. Dia rupanya belum sadar kalau orang yang sedang mencengkeram rambutnya saat ini adalah Judas, anak dari wanita yang telah dia bunuh.
Judas tidak menjawab. Dia menarik rambut wanita itu, membawanya turun dari atas ranjang. Wanita itu berjalan merangkak sembari ketakutan. Tangisnya menganak sungai. Dia tahu, melawan sudah tidak mungkin lagi. Kalau Max yang begitu kuat saja bisa kalah, apalagi dia yang seorang wanita bertubuh kurus. Harapan dia satu-satunya saat ini hanyalah belas kasihan dari si pembunuh ini.
“Saya tidak tahu apa-apa, Tuan. Tolong, lepaskan saya. Saya juga tidak melihat wajah Tuan. Saya juga tidak berteriak. Orang-orang tidak akan tahu. Tuan bisa segera pergi dan kabur sekarang juga. Saya akan tutup mulut sampai Tuan berhasil meninggalkan istana,” ratap wanita itu.
Dia mengira kalau si pembunuh pasti adalah salah satu musuh Max. Semoga saja, pembunuh itu sedikit merasa kasihan dan mau melepaskan dia.
Judas menyalakan lampu kamar Max. Wanita itu tetap menunduk. Dia tetap tidak ingin melihat wajah si pembunuh. Hanya itu cara dia untuk meyakinkan si pembunuh agar mau melepaskan dia.
“Lihat aku!” kata Judas lirih sembari mendesis.
“Tidak, Tuan! Saya tidak mau. Tuan bisa pergi. Biar saya tidak tahu apa-apa soal Tuan,” kata wanita itu tetap bersikukuh. Dia tetap menunduk, bahkan menutup matanya rapat-rapat. Namun, dalam hati, dia sedikit terkejut karena suara itu mirip sekali dengan suara Judas. Dia tidak bisa berpikir jernih. Itu semua hanya dugaan dia saja.
Judas menempelkan pisau di tangan kanannya, persis di bawah daun telinga sebelah kiri wanita itu.
“Lihat aku atau telingamu akan tersisa satu saja,” ucap Judas sambil terkekeh. Perasaan takut, gemetar, waswas, semua itu tiba-tiba menguar begitu saja. Dia bahkan sangat menikmati suasana kamar itu saat ini. Suasana mencekam, menegangkan, dan itu ... ternyata mengasyikkan baginya.