Munculnya Sang Pembunuh

1036 Kata
Jenazah Elena lantas diletakkan di dalam peti. Peti itu dibiarkan terbuka di aula istana, hanya ditutup dengan semacam kain jaring berwarna putih untuk melindunginya dari debu dan benda asing, tetapi para pelayat dan keluarga istana masih bisa melihat jenazah Elena sebelum dikebumikan. Pemakaman baru bisa dilakukan besok pagi karena raja dan ratu masih di luar negeri. Setibanya mereka di Monaghan esok pagi, baru jenazah akan segera dikebumikan. Hingga malam menjelang, pelayat tak juga kunjung berhenti. Beberapa wartawan diizinkan untuk masuk ke aula istana agar bisa meliput berita kematian Elena, dengan syarat mereka tidak membuat keributan dan gaduh. Max tentu saja melanjutkan sandiwaranya. Dia terlihat linglung, seolah sedang terpukul karena kehilangan istri tercinta. Judas masih bertahan di samping peti Elena, meski sesekali dia melirik tajam ke arah sang ayah yang menyebalkan. Malam makin menjelang dan para pelayat sudah mulai berkurang, meski masih terbilang cukup ramai. Max memanggil salah satu penjaga istana dengan melambaikan tangan. “Ya, Tuan?” Pria jangkung dengan tinggi sekitar 180 sentimeter itu datang mendekat ke arah Max. “Di mana Perdana Menteri? Cari dia. Minta dia mengumumkan agar para pelayat meninggalkan istana pukul sembilan malam nanti. Tutup istana. Sudah saatnya kami beristirahat,” ucap Max tegas. Perutnya sudah meronta karena terlambat makan malam. Dia sempat mengganjal dengan secuil roti tadi selepas senja. Tidak mungkin kalau dia harus pamit makan. Itu akan merusak pencitraan dia. Dia harus terlihat menderita, bahkan tidak enak makan karena kematian Elena. Dengan menahan lapar seperti ini, wajahnya juga pasti akan sedikit memucat. Itu bisa menambah kesan kesedihan pada dirinya. Kebohongan memang harus sempurna. Karena kalau tidak sempurna, pasti nanti akan rawan terbongkar. Pukul sembilan malam kurang lima menit, terdengar suara keras di aula yang meminta agar para pelayat segera meninggalkan istana karena istana sudah harus ditutup. Besok pagi, pelayat bisa berkunjung lagi sekaligus mengantar jenazah ke pemakaman khusus keluarga kerajaan atau langsung hadir di lokasi pemakaman. Secara berangsur, para pelayat mulai meninggalkan aula. Sebagian masih terlihat sedih karena merasa kehilangan Elena, sebagian lagi terlihat jelas sedang berpura-pura sedih. Tanpa sengaja, Max bertatapan pandang dengan Judas yang duduk termenung, persis di samping kiri peti mati, sementara Max ada di seberangnya, yakni di samping kanan peti mati. Dua manusia sedarah yang tidak hanya duduk berseberangan, tetapi juga selalu hidup saling berseberangan selama ini. Max melangkah dengan sedikit terburu-buru. Dia sudah terlalu lapar. Tak mampu lagi dia menahan perut yang sudah berteriak sedari tadi. Peti mati sudah ditutup. Judas juga merasa lapar. Apalagi, dia memang belum makan sejak siang tadi. Dia melangkah menuju paviliun, berniat untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, baru beristirahat di kamar. Sebagian besar lampu di paviliun sudah dimatikan. Memang, pukul sembilan malam, lampu secara otomatis akan padam di beberapa tempat. Judas terus melangkahkan kaki menuju dapur. Biasanya, dapur juga gelap gulita kalau sudah jam segini. Makin dekat ke arah dapur, sayup-sayup Judas mendengar suara dua orang sedang berbincang sambil tertawa. Dia berusaha untuk menajamkan pendengaran. Itu sepertinya suara Papa, batin Judas. Benar saja. Itu suara sang ayah sedang berbincang bersama seorang wanita. Pasti pelayan selingkuhannya tadi. Judas langsung menebak seperti itu. Bocah kecil itu ragu untuk sejenak. Dia ingin masuk ke dapur karena merasa lapar, tetapi dia malas kalau harus melihat kemesraan dua orang yang tidak tahu diri itu. Dalam kebimbangan, Judas berdiri di dekat pintu dapur yang sudah terbuka itu. “Rencana kita akhirnya berhasil juga. Cepat sekali reaksi pecahan-pecahan kaca itu untuk merusak tubuh Elena. Kerjamu bagus sekali,” puji Max kepada wanita itu disertai suara terkekeh penuh kemenangan. Tubuh Judas gemetar mendengar kalimat Max. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding di dekat pintu agar bisa lebih jelas mendengar percakapan mereka. “Ssst. Jangan dibahas di sini, Sayang. Nanti, ada yang dengar. Yang penting, jangan lupakan janjimu bahwa kamu akan menikahi aku, Tuan,” kata wanita itu dengan nada manja. “Iya, dong. Itu sudah pasti. Tapi nanti, setelah aku dinobatkan menjadi raja di kerajaan ini. Sekarang, kita masih punya satu tugas berat, yaitu mempercepat kematian raja. Selagi dia masih hidup, aku tidak akan bisa naik takhta. Kalau Judas terlanjur dewasa, bisa-bisa takhta langsung turun ke dia.” Terdengar suara Max berbicara sambil mengunyah sesuatu di mulutnya. “Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apa perlu kita lenyapkan Judas sekalian agar tidak ada penghalang?” tanya wanita itu dengan nada datar, seolah yang sedang dia bicarakan itu bukan nyawa manusia. Dia berbicara seolah nama Judas hanyalah seekor nyamuk yang tinggal ditepuk sampai mati, lalu dibuang begitu saja dan dilupakan. Judas terus mendengarkan percakapan mereka dengan geram. Tangannya mengepal kuat-kuat untuk menahan amarah. Jadi, ibunya meninggal karena perbuatan mereka, terutama wanita itu. Dan kini, mereka malah mengincar dirinya. “Jangan dulu. Dia belum terlalu penting untuk disingkirkan saat ini. Nanti, setelah raja mati dan aku naik takhta, kita akan lebih mudah lagi menyingkirkan dia,” jawab Max santai di sela kunyahan. “Baiklah. Aku terserah kamu saja, Tuan. Apa pun yang kamu perintahkan, pasti akan aku jalankan dengan baik.” Rahang Judas makin mengetat. Perlahan, dengan langkah berjingkat, dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Selera makannya juga sudah telanjur hilang. Dia merasa muak pada dua manusia j*****m yang tinggal satu atap dengannya itu. Judas kembali ke dalam kamarnya dan merenungi kalimat-kalimat yang tadi dia dengar. Dia meraih pigura kecil di atas nakas, berisi foto dia bersama Elena. Mata Judas menatap nyalang. Ada kepedihan, kehilangan, kemarahan, juga sedikit keputusasaan dalam pandangan itu. Dia tahu Max tidak mencintai dia meski pria itu adalah ayah kandungnya. Namun, dia benar-benar tidak menyangka sama sekali kalau pria yang dengan sangat terpaksa harus dia panggil papa itu tega untuk punya pikiran menyingkirkan dirinya, darah daging dia sendiri. Kalau seorang ayah saja tidak bisa dia percaya, lalu siapa yang harus Judas percayai di dunia ini? Nenek kakek dia? Ya, mereka sepertinya masih bisa dipercaya. Namun, Judas juga sadar kalau usia mereka tidak akan lama. Ditambah lagi, niatan Max dan selingkuhannya tadi untuk mempercepat kematian sang raja dan ratu. Tidak! Aku harus membatalkan rencana busuk mereka. Judas bertekad kuat di dalam hatinya. Selang sekitar setengah jam, Judas mendengar langkah kaki sang ayah bersama wanita selingkuhannya di lorong paviliun. Suara pintu kamar dibuka, tawa cekikikan yang menjijikkan dari keduanya, lalu suara pintu ditutup. Aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga, ucap Judas di dalam hati.       
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN