Benda Kesayangan

1106 Kata
Mereka bertemu ketika Max menjadi asisten salah satu fotografer yang bertanggung jawab dalam pemotretan Elena. Max yang memang cerdik, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ketika dia melihat puteri satu-satunya dari raja kerajaan Monaghan ada di dekatnya. Bakat palyboy serta pengalaman dalam menghadapi wanita yang tidak perlu diragukan lagi, menjadi senjata pamungkas bagi Max untuk bisa meluluhkan hati Elena. Gadis lugu, tidak pernah berpikiran buruk pada siapa pun itu akhirnya terlena. Dia menjatuhkan diri, tunduk pada pesona seorang Max Brown. Tanpa sadar, dia sudah terperosok terlalu jauh. Max yang tidak mau kehilangan kesempatan, segera membawa Elena ke atas ranjangnya begitu mereka resmi berpacaran beberapa minggu kemudian. Pria itu adalah cinta pertama Elena. Dia juga menjadi pria pertama yang mencicipi tubuh legitnya. Elena yang sadar bahwa hubungan dia dengan Max pasti akan ditentang oleh keluarganya, malah mengutarakan niat untuk bisa hamil duluan sebagai alat untuk memaksa keluarga agar mau menikahkan dia dengan Max tanpa dihalangi. Dengan senang hati, Max menerima tawaran itu. Tanpa harus bersiasat, apalagi bersusah payah untuk menjebak Elena, gadis itu malah menawarkan diri. Serigala ditawari daging domba. Tentu saja tidak akan menolak. Serigala lapar itu segera menerkam domba cantik dan lemah lembut di hadapannya. Dia mencengkeram dan menguasai sekuat tenaga hingga akhirnya ... Elena memang hamil. Keluarga kerajaan tak mampu berbuat apa-apa. Mengetahui Elena hamil bersama laki-laki yang dia cintai, mereka memutuskan untuk segera menikahkan keduanya. Pesta besar-besaran pun diselenggarakan. Raja mengatur siasat demi kepentingan politis juga. Dia mengatakan pada seluruh rakyat bahwa Elena sendiri yang meminta untuk dinikahkan dengan rakyat biasa atas dasar atau atas nama cinta. “Rakyat sama berharganya dengan keluarga kerajaan. Kami tidak memandang kasta dan derajat keluarga kerajaan lebih tinggi daripada rakyat biasa. Keluarga kerajaan pada hakikatnya adalah pelayan bagi seluruh rakyat di negeri Monaghan ini. Semoga saja pernikahan campuran ini mampu untuk menjadi simbol bersatunya keluarga kerajaan dengan rakyatnya.” Begitu sambutan sang raja kala itu. Rakyat bersorak sorai. Mereka merasa dihargai. Elena dielu-elukan sebagai dewi pecinta rakyat jelata. Dia dipuja sebagai putri rendah hati yang tidak memandang sebelah mata pada rakyat biasa. Padahal, Elena tidak peduli dengan itu semua. Dia menikah dengan Max memang atas dasar cinta, terlepas dari siapa dia dan dari kasta mana pria itu berasal. Elena tidak menyukai politik. Dia juga tidak pernah menganggap manusia itu berbeda secara kasta. Bagi dia, manusia ya manusia. Semua adalah manusia biasa. Pekerjaan, kedudukan, apa pun itu, semua hanyalah fungsi peran saja. Ibarat panggung sandiwara, kita hanya sedang menjalankan tokoh yang memang diberikan pada kita, dianugerahkan untuk kita perankan. Kalaupun ada tokoh utama dan tokoh pendukung, ya memang seperti itulah dunia berputar. Judas tahu semua cerita itu dari salah satu adik kakeknya. Bukan karena mereka dekat, justru karena mereka saling tidak suka. Baron, sang paman, menceritakan semua kisah masa lalu Elena demi menyakiti hati Judas. Ya, untuk menunjukkan bahwa dia adalah anak yang lahir di luar pernikahan. “Memangnya kenapa kalau aku lahir di luar pernikahan? Apakah ada bedanya? Aku tetap manusia, sama sepertimu. Tidak ada seorang pun yang bisa membedakan mana anak yang terlahir sebelum menikah dan sesudah menikah,” jawab Judas kala itu. Meski masih kecil, Judas memang sudah dikenal sebagai anak yang kritis. Jenazah Elena dipindahkan dari ambulans ke dalam paviliun. Ketika petugas rumah sakit akan membawa jenazah wanita itu ke kamar, Judas buru-buru mencegah. Dia masih ingat bahwa kamar itu lepas digunakan untuk b******a sang ayah dengan wanita selingkuhannya. Siapa tahu, belum dibersihkan. Kalaupun sudah sempat dibersihkan, Judas tetap tidak rela kalau Elena harus berbaring di ranjang penuh noda itu. Noda perselingkuhan. Judas meminta para petugas untuk membawanya ke kamar tidur dia. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat anggun menyusul masuk ke dalam kamar Judas. Rupanya, dia adalah orang yang ditunjuk oleh keluarga kerajaan untuk merias jenazah Elena sebelum dimasukkan ke dalam peti mati. “Pangeran Judas, sebaiknya kamu keluar dulu sebentar. Kami harus mengganti baju Putri Elena dulu. Nanti, setelah selesai, Pangeran boleh masuk lagi,” tutur lembut wanita bernama Clemente itu kepada Judas. Judas mengangguk. Dia lalu meninggalkan kamarnya, menunggu di luar sembari menutup pintu. Clemente dibantu seorang asistennya mengganti baju yang dikenakan Elena dengan gaun pengantin yang dulu dia kenakan ketika menikah dengan Max. Memang sudah jadi tradisi di kerajaan itu bahwa orang yang meninggal akan dikebumikan dengan mengenakan pakaian pernikahan mereka ketika masih muda dulu. Tak menunggu terlalu lama, asisten Clemente sudah membuka kembali pintu kamar dan mengizinkan Judas untuk masuk. Judas terus memandangi wajah sang ibu ketika dirias. Tangan Clemente dengan cekatan, tetapi tetap terkesan lembut dan tidak buru-buru, terus memulas wajah pucat yang sedang terbaring dengan tenang itu. Perlahan, wajah pucat itu seolah ceria kembali. Clemente benar-benar punya semacam sihir dalam setiap pulasan kuas yang dia pegang. Bahkan, wanita itu mampu membuat wajah Elena seolah sedikit tersenyum. Wajah pucat pias serupa kapas itu berubah menjadi tenang, lembut, dan ramah jika dipandang. Judas menatap tak percaya. Tidak salah kalau Clemente dijuluki sebagai tangan ajaib yang mampu ‘menghidupkan’ orang mati. Ini rupanya, kenapa dia sangat terkenal dengan julukan itu. Dalam hati, Judas memuji keahlian Clemente. “Suruh mereka membawa kemari peti matinya,” perintah Clemente pada si asisten. “Baik, Nyonya,” jawab asisten itu, lalu dia bergegas meninggalkan kamar. “Pangeran, adakah barang-barang kesayangan Putri Elena yang ingin disimpan di dalam peti? Atau mungkin perhiasan kesayangan yang ingin dipakaikan di jenazah selain cincin kawin ini?” tanya Clemente sembari menatap lembut ke arah Judas. Tatapan wanita itu memang lembut, meski tetap ada kesan mistis di dalamnya. Mungkin, karena dia sering bersentuhan dengan mayat dalam kesehariannya sehingga ada kesan seram yang menempel lekat pada diri wanita penggemar baju berwarna hitam itu. “Ada. Sebentar.” Judas segera berlari ke arah kamar orang tuanya. Dia mengambil sebuah kalung dengan liontin berbentuk oval, terbuat dari bahan platinum. Dia mengecup satu kali kalung itu sebelum membawanya ke kamar dan menyerahkan kepada Clemente. Clemente tersenyum memandangi kalung yang diserahkan oleh Judas. Dia lalu membuka liontin itu. Ya, liontin itu bisa dibuka. Di dalamnya, terlihat foto Elena sedang menggendong Judas ketika bayi. “Itu kalung kesayangan Mama, hadiah dari Papa setelah aku lahir,” kata Judas meski dia tidak ditanya. “Putri Elena pasti bahagia membawa kalung ini, Pangeran. Setidaknya, dia akan terus bersama Pangeran.” Clemente tersenyum sendu. Dia lalu memakaikan kalung itu di leher Elena. “Ada yang lain lagi?” tanya Clemente. Judas menggeleng pelan. Seingat dia, hanya itu barang kesayangan sang ibu selama ini. Wanita itu tidak banyak mengoleksi benda-benda. Ketika masih hidup, dia lebih suka menghabiskan waktu bersama Judas. Sejak adanya anak itu dalam kehidupan dia, hampir seluruh waktunya hanya untuk Judas. Dia bahkan jarang menggunakan waktu untuk dirinya sendiri. Elena sangat mencintai Judas, anak satu-satunya yang dia miliki.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN