Drama Dimulai

1019 Kata
“Papa juga merasa sangat kehilangan Mama, Jud. Mama sudah sangat banyak berjasa dan membantu Papa dalam segala hal. Tidak hanya kamu yang merasa sangat kehilangan Mama, Sayang. Papa juga. Papa kehilangan setengah hati, setengah diri Papa.” Max sengaja mengeraskan kalimat terakhir. Setidaknya, agar para dokter dan suster mendengar kepedihannya, meski itu semua hanya pura-pura. Judas menepis tangan Max di bahunya dengan kasar. Dia merasa muak dengan segala sandiwara sang ayah. Sudah sejak dulu, dia tahu kalau Max hanya memanfaatkan Elena saja demi kehidupannya. Sejak kecil, Max hanya akan bersikap manis kepada dirinya ketika ada di hadapan Elena atau anggota keluarga kerajaan lainnya. Bahkan, sikap pria itu akan makin menjadi-jadi ketika ada wartawan atau media sedang meliput. Dia akan bertingkah lebay, berpura-pura lembut dan sangat menyayangi dirinya. Sebutan sayang, my boy, my prince, akan meluncur lembut dari bibir busuk Max. Pria itu memang tampan. Wajar saja kalau ibunya tergila-gila. Bukan hal aneh juga kalau khalayak lantas percaya pada wajah dan senyum manisnya itu. Dia memang lebih layak untuk jadi aktor ketimbang anggota keluarga kerajaan. “Bawa Mama pulang. Sekarang!” Judas berucap sambil menggeram, menahan amarah. Rahang bocah kecil itu mengetat dan tangan terkepal kuat. Dia hanya ingin ibunya segera dibawa pulang, lalu dimakamkan dengan layak. “Baik, Sayang,” jawab Max, masih tetap lembut. Dia sengaja ingin menampilkan kemarahan Judas terhadap dirinya dan mengekspose citra diri sebagai ayah yang penyabar di depan orang lain. Max menoleh ke arah para suster dan berkata, “Tolong, bawa jenazah istri saya ke istana.” Seorang perawat langsung mendekati Max dan mengulurkan lembar persetujuan yang harus dia tanda tangani sebelum mereka membawa jenazah Elena ke istana. Pria itu segera menandatangani. Dia juga ingin pemakaman segera dilakukan. Ini bukan demi kepentingan Elena ataupun keluarga besarnya melainkan agar acara duka bisa segera berlalu. Selanjutnya, tinggal dia mengatur orang-orang di dalam istana untuk segera mengusulkan dirinya sebagai pewaris tahta kerajaan Monaghan. Memang masih ada Judas. Dia bisa beralasan bahwa dirinya akan menjaga tahta itu sampai Judas dewasa dan siap untuk menerima tampuk raja di singgasana Monaghan. Selebihnya, akan dia pikirkan nanti. Setidaknya, selama menjadi raja, dia bisa menumpuk harta sebanyak-banyaknya atas nama pribadi. Untuk jaga-jaga kalau nanti Judas tidak mau bersikap baik pada dirinya. Max ingin mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk kepentingan pribadi. Dia mau hidup kaya dan foya-foya seumur hidupnya. Elena telah berhasil dia singkirkan. Raja yang sekarang juga sudah tua. Langkah Max untuk berhasil, tinggal sedikit lagi. Judas, dia masih terlalu kecil untuk ikut campur di kancah politik kerajaan. Dia tidak punya hak bersuara ataupun berpendapat mengingat usianya yang belum dewasa. Max merasa bahwa dirinya sedang berada di atas angin. Kalau bukan dia, siapa lagi yang akan menjadi putera mahkota saat ini? Tidak ada calon lain lagi. Petugas rumah sakit segera bersiap untuk membawa jenazah Elena ke istana. Di depan rumah sakit, para wartawan kembali menyerbu ketika jenazah itu hendak dinaikkan ke ambulans. Max kembali memasang mimik wajah sedih di hadapan para wartawan, bahkan dia tak segan untuk meratap lirih, seolah benar-benar menangisi istrinya. Judas memaksa untuk ikut masuk ke dalam ambulans. Dia ingin menemani sang ibu selama dalam perjalanan menuju ke istana. Demi drama yang sempurna, Max juga bermaksud untuk ikut masuk ke dalam ambulans, tetapi Judas menahannya. Mata Judas kecil mampu berbicara lebih banyak dari sekadar deretan kata-kata. Meski bungkam, tatapan mata itu sudah mewakili segenap rasa di dalam diri bocah kecil itu. Bahkan, ada pesan ancaman di dalam tatapan itu. Jangan masuk atau aku akan membongkar semua sandiwaramu. Seolah kalimat itu yang sedang Judas teriakkan lewat tatapan tajamnya. Tak ingin masalah jadi besar dan malah merugikan dirinya, Max memilih untuk mengalah. Dia pura-pura meluangkan waktu untuk memberi sedikit keterangan pada para wartawan. “Tutup pintunya dan kita langsung berangkat,” titah Judas kecil pada petugas rumah sakit yang ikut naik ke dalam ambulans. “Baik, Pangeran,” jawab petugas itu patuh, lalu segera menutup pintu belakang ambulans. Dia juga meminta sopir untuk segera menginjak pedal gas. Judas merasa makin muak melihat kelakuan sang ayah. Pria itu tidak hanya mengabaikan Elena dan dirinya, tetapi juga telah berkhianat. Lebih parahnya lagi, dia berani berselingkuh ketika Elena sedang dalam keadaan kritis dan bertarung dengan malaikat mau. Judas tak bisa diam saja. Dia tidak akan pernah memaafkan hal itu. Max sudah sangat keterlaluan. Apa terlalu sulit bagi dia untuk menemani Mama di saat-saat terakhir? Terlalu mustahilkah bagi dia untuk sekadar berbuat baik sebentar saja dan meninggalkan kenangan indah untuk Mama di akhir hidupnya? Judas berniat untuk membalas perlakuan Max dan wanita selingkuhannya tadi. Tidak untuk saat ini. Namun, dia pasti akan memberi mereka berdua pelajaran. Tunggu saja pembalasanku! teriak Judas di dalam hati sambil menggertakkan gigi. Berita kematian Elena langsung tersebar luas ke seluruh penjuru kerajaan Monaghan. Banyak rakyat yang menangisi kepergian puteri mahkota mereka itu. Elena yang selama ini dikenal sebagai puteri bersahaja. Penampilannya tak pernah mewah, apalagi berlebihan. Dia selalu tampil sederhana, tetapi tetap elegan. Dres putih dengan berbagai model menjadi andalan dia dalam keseharian. Elena memang sangat menyukai warna putih yang menurut dia simpel, terlihat bersih, dan membuat dirinya merasa nyaman. Para pelayan istana menyambut dengan tangisan ketika ambulans memasuki area istana. Sebagian kerabat dekat istana juga sudah hadir di sana. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada Elena. Ya, meski tidak semua orang menyukai wanita itu. Tentu saja, ada beberapa makhluk yang sejenis dengan Max. Mereka pura-pura bersedih, padahal bahagia melihat kematian Elena. Banyak dari mereka yang merasa iri dengan kehidupan Elena yang terbilang sempurna di mata orang kebanyakan. Dia terlahir sebagai puteri tunggal, pewaris kerajaan Monaghan, cantik, cerdas, lemah lembut. Dia benar-benar sempurna sebagai seorang wanita. Nyaris tak ada cela. Selama menjadi pelajar dan mahasiswa, Elena juga berprofesi sebagai model, baik itu untuk bergaya di atas catwalk maupun pemotretan. Gadis kaya, punya segalanya, tentu mudah bagi dia untuk mendapatkan pria yang berkualitas dari kalangan atas. Namun, siapa yang menyangka, dia malah jatuh cinta pada rakyat biasa, Max Brown. Max hanya seorang pria biasa, tidak kaya, tidak juga miskin, dengan prestasi yang hampir tidak ada. Bisa dibilang, pria itu memang tidak punya apa-apa. Tentu saja, selain wajah yang tampan serta tubuh yang terpahat indah, meski tidak sekekar para binaragawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN