Drama King

1061 Kata
Judas terus berlalu pergi. Dia tidak mempedulikan teriakan Max. “Aku tunggu di rumah sakit!” Judas berteriak dengan lantang sampai beberapa pelayan menatap ke arahnya. Judas benar-benar marah. Langkahnya tergesa dan sengaja dia hentakkan dengan keras untuk melampiaskan rasa kesal. Max menggerutu, tetapi tetap menuruti keinginan Judas tadi, yakni pergi ke rumah sakit untuk membawa pulang jenazah sang istri. Bagaimanapun, dia harus muncul di sana demi pencitraan. Jangan sampai masyarakat melihat dia sebagai sosok yang tidak peduli pada anak istri. Max sudah sempat membawa obat tetes mata sebelum meninggalkan paviliunnya. Dia yakin, sebentar lagi, wartawan pasti akan berkerumun di rumah sakit. Anak tunggal dari raja kerajaan Monaghan meninggal dunia. Ini berita yang spektakuler. Dia harus siap untuk disorot. “Bungkam semua perawat dan dokter di rumah sakit. Mereka tidak boleh mengatakan hal apa pun tentang kematian Elena. Apa pun soal Elena. Kalau ada yang melanggar, kita akan beri mereka pelajaran. Siapa pun itu.” Max menghubungi salah satu anak buahnya selama dalam perjalanan. “Siap, Tuan. Saya akan pastikan semua aman,” jawab seorang pria di seberang sana. Max tersenyum lebar di dalam mobilnya. Rencana yang sudah dia susun lama, akhirnya berhasil juga. Dia memang pernah sedikit mencintai Elena. Ya, hanya sedikit. Rasa tertarik itu makin berkembang setelah tahu bahwa wanita itu adalah putri tunggal raja. Max yang berasal dari rakyat biasa dan tadinya berusaha mencari wanita kaya untuk dia nikahi, ternyata punya nasib yang sangat beruntung. Dia berhasil menikahi Elena, yang tidak hanya kaya, tetapi juga punya takhta. Dia tidak hanya mengincar harta. Seiring berjalannya waktu, dia tidak mau punya mimpi yang tanggung-tanggung. Dia juga mengincar takhta kerajaan Monaghan. Hari ini, semua sudah ada dalam genggamannya. Kesabaran dia selama bertahun-tahun untuk memberikan pencitraan yang baik di mata keluarga istana dan masyarakat telah membuahkan hasil. Nama dia di masyarakat memang sudah dikenal baik. Nama harum mewangi, dampak dari kegiatan sosial yang banyak dia lakukan. Dia mengeruk dana kerajaan untuk berbagai kegiatan sosial. Bukan karena belas kasihan dia pada sesama melainkan demi nama baik dan pencitraan. Selain itu, dia juga menyelipkan sebagian dana untuk berfoya-foya tanpa sepengetahuan keluarga. Dia hidup dalam kepura-puraan selama bertahun-tahun lamanya demi menggapai impian besar dia. Benar saja, tiba di depan rumah sakit, sudah banyak sekali wartawan berkerumun. Melihat mobil mewah berwarna merah miliknya tiba, para wartawan itu segera menyerbu. Mereka mendekat, berusaha untuk mendapatkan gambar terbaik dari kamera mereka dan berharap bisa mendapatkan satu atau dua kalimat dari mulut Max sebagai bahan berita. Sebelum mobil mendekat, Max sudah sempat meneteskan obat mata ke kedua netranya. Dan begitu pintu mobil dibuka, drama pun dimulai. “Tuan Max, tolong ceritakan apa yang terjadi.” Teriakan demi teriakan wartawan terus berkumandang. Max mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan. Semua wartawan langsung berhenti bersuara. Hanya ada kerlip lampu kamera yang terus bekerja, berkilatan sahut menyahut. “Istri saya, Putri Elena telah meninggal karena komplikasi yang dia derita selama ini. Fisiknya memang lemah. Dia sering mengalami gangguan pernapasan, jantung, dan lain-lain. Mungkin, ini memang jalan yang terbaik dari Tuhan agar dia tidak lagi menderita dan bisa lebih tenang di alam sana. Saya mohon, doakan yang terbaik untuk istri saya.” Max menghapus air mata yang meleleh di kedua pipinya. Mata Max benar-benar perih. Bukan karena sedih melainkan dia meneteskan terlalu banyak obat mata ke kedua pelupuk matanya. Dalam hati, dia mengumpat kesal. Dia terlalu terburu-buru tadi. Beberapa petugas keamanan mencoba menahan para wartawan agar Max bisa mulai melangkah, masuk ke dalam rumah sakit. Beberapa wartawan masih terus mengejar Max dengan berbagai pertanyaan. Ada satu pertanyaan kritis yang membuat langkah pria itu seketika terhenti. “Dengan wafatnya Putri Elena, apa ini artinya, Anda yang akan mewarisi takhta Monaghan?”     Max menatap tajam ke arah wartawan wanita bertubuh mungil. Suaranya tidak semungil tubuhnya. Dia bicara sangat tegas dan lantang. “Saya tidak pernah berminat pada takhta kerajaan Monaghan. Saya mencintai istri saya. Saya mencintai keluarga saya. Itu saja sudah cukup bagi saya.” Max berpura-pura marah. “Tapi, banyak orang menganggap bahwa kegiatan sosial yang selama ini Anda lakukan adalah demi pencitraan dan memenangkan hati masyarakat. Kerajaan Monaghan tidak punya pangeran. Tidak menutup kemungkinan, Anda berusaha untuk duduk di takhta kerajaan, kan?” ucap gadis itu lagi dengan lebih pedas. Max ingat. Gadis ini memang sudah beberapa kali muncul di acara amal yang dia selenggarakan. Ya, Max yakin sekali. Dia tidak akan salah mengenali. Wajah gadis itu begitu familiar. “Terserah orang mau bicara apa. Mereka punya mulut yang jadi tanggung jawab mereka sendiri. Saya hanya ingin berbuat yang terbaik yang saya bisa. Seperti yang sudah sering saya sampaikan sebelumnya, semua kegiatan sosial yang saya jalankan adalah wujud rasa syukur saya. Tuhan telah memungut saya dari ketidakpunyaan. Saya orang biasa, bisa punya kesempatan menaikkan derajat dengan menjadi salah satu anggota keluarga kerajaan. Dan tidak main-main, saya menjadi bagian dari keluarga inti kerajaan Monaghan. Bukankah itu sesuatu yang sangat patut untuk saya syukuri? Saya tidak terpikir jalan lain, selain dengan kegiatan amal dan sosial. Terima kasih.” Max mengakhiri promosi dirinya. Dia melangkah cepat, menerobos kumpulan wartawan dengan dibantu oleh beberapa petugas keamanan. Begitu dia tiba di lobi rumah sakit, petugas keamanan terpaksa harus berjajar di depan pintu masuk untuk mencegah para wartawan merangsek masuk. Wartawan sialan! Kritis sekali jadi orang. Belum pernah diberi pelajaran, rupanya, gerutu Max sambil membetulkan kemejanya yang sedikit kusut. Tidak hanya kusut karena ulah para wartawan di luar tadi, tetapi juga ulah pelayan wanita di kamarnya tadi. Max memanggil salah satu perawat, lalu memintanya untuk mengantar ke ruangan tempat jenazah Elena berada. Ya, dia belum pernah berkunjung sama sekali. Tentu saja, dia tidak tahu di mana ruangan Elena dirawat. Tiba di depan ruangan, dia melihat Judas menggenggam erat tangan jasad wanita itu. Bocah kecil itu tidak lagi histeris. Dia menatap wajah sang ibu yang terlihat makin pucat dengan sendu. Air matanya terus mengalir, tetapi tak ada suara isakan. Max melangkah mendekat. Dia sentuh bahu Judas perlahan. Dia tidak ingin, perawat dan dokter yang kini berkumpul di depan ruangan jadi curiga. Dia harus tetap terlihat sedih. “Sudah, Jud. Jangan terlalu larut dengan kesedihan. Kita doakan yang terbaik untuk Mama ya, Nak. Mari, kita bawa mama kamu pulang, Sayang. Ayo.” Max bertutur sangat lembut. Judas mengetatkan rahangnya. Kalau saja tidak menghormati sang ibu, pasti sudah dia pukul dan injak-injak bibir munafik milik ayahnya itu. Judas hanya bisa menggeram, menahan amarah dan gelombang panas yang tiba-tiba menyeruak di dalam d**a.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN