Fakta Buruk Max

1040 Kata
Judas kecil meminta sopirnya untuk menginjak pedal gas kuat-kuat. Dia ingin segera menemui ayahnya dan meminta pria itu menghubungi pihak rumah sakit agar jasad sang ibu bisa segera dibawa ke istana. Dia tidak ingin tubuh Elena bercampur dengan mayat-mayat lain terlalu lama. Di dalam kamar mayat, pasti akan ada berbagai macam mayat manusia, dari yang meninggal karena sakit sampai korban kecelakaan. Dari jasad yang masih utuh sampai yang berantakan atau bahkan tinggal tulang. Di sana pasti ada orang-orang tak dikenal yang mati karena pembunuhan atau para tuna wisma yang tidak punya keluarga. Belum lagi, dokter bisa saja menjual organ tubuh mereka, lalu menggeletakkan begitu saja sisa-sisa tubuh mereka di kamar mayat, teronggok tanpa ada yang mau mengurusnya. Pikiran Judas kecil terbawa ke mana-mana. Dia mencampuradukkan dengan film-film thriller yang pernah dia tonton sebelumnya. Aku tidak rela kalau Mama sampai harus bercampur bersama bangkai-bangkai yang tidak jelas itu, teriak Judas di dalam hati. Mobil hitam dengan logo bergambar kuda di bagian depan itu memasuki halaman istana. Semua tampak biasa saja, seolah tidak ada kejadian apa-apa. Para penghuni istana mungkin belum mendengar kabar duka tentang Elena. Judas bergegas membuka pintu mobil, lalu berlari secepat mungkin menuju kamar ayahnya di lantai dua begitu mobil berhenti tepat di depan salah satu paviliun di area istana. Tak dia hiraukan tatap keheranan para pelayan yang melihat tingkah lakunya saat itu. Judas yang selama ini selalu terlihat santai, berjalan pun tak pernah tergesa-gesa, sekarang tiba-tiba berlari secepat kilat seperti dikejar hantu. Mobil ayahnya terparkir dengan rapi di depan paviliun. Jelas, sang ayah ada di sana. Judas bergegas masuk ke dalam paviliun, lalu menjejakkan kaki dengan cepat pada setiap anak tangga, menuju ke lantai dua. Dua kali dia hampir terpeleset akibat terlalu terburu-buru. Untung saja, dia bisa cepat menguasai diri dan tidak sampai terjatuh ke bawah. Judas kecil tiba di depan kamar sang ayah dengan napas terengah-engah. Dia ingin segera mengetuk pintu itu, tetapi ada suara-suara mencurigakan di dalam sana. Terdengar ayahnya sedang mengerang seperti orang sedang kesakitan, juga suara seorang wanita. Tak jauh beda dengan sang ayah. Wanita itu pun merintih seperti kesakitan. Apa yang terjadi di dalam sana? Judas bertanya-tanya di dalam hati. Dia tempelkan telinga ke daun pintu agar bisa mendengar lebih jelas suara misterius itu. Wanita itu sesekali menjerit, masih diiringi lenguhan dari sang ayah seolah mereka sedang mendorong atau mengangkat benda yang berat dan terlalu sulit untuk dipindahkan. Tak ingin terjebak dalam kubangan rasa penasaran terlalu lama, Judas membuka pintu itu lebar-lebar. Seketika, dia berdiri mematung menyaksikan dua manusia dewasa di hadapannya sedang mandi peluh. Keringat deras membanjiri tubuh keduanya. Dan tubuh itu .... Tubuh mereka polos tanpa selembar kain atau seutas benang pun menempel. Tubuh mereka saling menempel dengan tangan saling berpelukan. “s**t! Dasar, anak tidak tahu sopan santun! Kamu tidak bisa ya ketuk pintu dulu sebelum masuk?” Max berteriak marah. Dia segera melepas pelukannya pada salah satu pembantu di paviliun itu. Wanita itu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polos dia yang terlihat mengilap, basah kuyup akibat keringat. Sementara Max, dengan santai dia beranjak dari ranjang, lalu berdiri membelakangi Judas dan meraih boxer miliknya yang tadi terlempar di dekat salah satu nakas di samping tempat tidur. “Ada apa? Kenapa kamu datang tiba-tiba seperti orang kesetanan?” Max bertanya sembari mengenakan boxer hitam itu, baru berbalik dan memandang ke arah Judas kecil yang kini sedang menatap dia dengan tatapan sinis dan tajam. Tatapan marah seorang anak kecil. Anak yang dianggap lugu dan tidak tahu apa-apa oleh Max. Pelayan wanita itu buru-buru melilitkan selimut tipis di badannya, lalu mengambil onggokan baju yang berserakan di lantai. Dia langsung keluar dari kamar dan menutup pintu itu cepat-cepat. Dia masuk ke kamar di sebelah untuk membenahi pakaian. “Mama sudah meninggal.” Hanya kalimat singkat itu yang bisa Judas ucapkan. Hatinya perih. Tidak hanya menyaksikan sang ibu mengembuskan napas terakhir, dia masih harus dikejutkan dengan pemandangan tak senonoh yang dilakukan oleh sang ayah. Ketika istrinya sedang berjuang melawan maut, dia malah enak-enakan b******a dengan wanita lain, bahkan di kamar tidur Elena. Tidak di tempat lain. Ini benar-benar sudah keterlaluan, rutuk Judas di dalam hati. Dia terus menatap Max dengan tatapan nyalang. “Syukurlah,” jawab Max singkat sambil menyunggingkan senyum dengan salah satu sudut bibirnya saja yang terangkat. Senyuman sinis atau bahkan senyuman menghina dalam pandangan Judas. “Apa maksudmu dengan kata syukurlah?” Judas bertanya dengan nada tinggi dan setengah berteriak. “Ya, syukurlah dia cepat mati. Bukankah itu baik untuk dia. Dia jadi tidak perlu merasakan sakit berkepanjangan. Dia sudah bisa tenang sekarang. Damai di alam baka sana.” Lagi, Max tersenyum. Namun, kali ini senyuman itu makin lebar. Akhirnya, hari yang dia tunggu-tunggu tiba juga. Dia sudah membayangkan bahwa dirinya akan mewarisi tahta kerajaan, menggantikan Elena. Tak hanya itu, semua harta kekayaan Elena akan jatuh ke tangannya. Kalau dia jadi raja, maka negara Monaghan beserta isinya, semua adalah milik dia. Max tertawa kecil. Meski coba untuk dia tutupi, Judas kecil tetap mampu melihat itu. Dia benar-benar merasa muak melihat pria itu. Kenapa dia harus terlahir dari benih laki-laki berengsek seperti dia? Judas terus merutuk di dalam hati. “Hubungi rumah sakit. Minta jenazah Mama untuk segera di sini. Hanya kamu yang bisa lakukan itu,” ucap Judas sambil menahan geram. Tangannya mengepal kuat untuk meredam amarah yang membuncah di d**a. Dia tidak ingin hari ini terjadi keributan. Hari duka untuk menghormati kematian sang ibu. Terlebih lagi, dia sangat membutuhkan ‘kebaikan hati’ Max agar jenazah Elena bisa segera dibawa pulang. “Kamu? Sejak kapan kamu memanggil papamu dengan sebutan kamu, Jud? Apa mentang-mentang mama kamu mati, lalu kamu bisa seenaknya bersikap kurang ajar sama Papa? Sebentar lagi, aku ini jadi raja kalian, lho.” Max berteriak pongah. Dengan congkaknya, dia membusungkan d**a setelah mengenakan kembali celana panjang dan kemeja biru tua yang tadi teronggok di atas lantai. Mendengar ucapan congkak Max, Judas makin merasa muak. “Bawa jenazah Mama sekarang juga ke istana. Kalau tidak, kamu akan merasakan sendiri akibatnya.” Judas berlalu pergi, meninggalkan kamar sang ayah. Dia sudah muak berada di dalam kamar itu. Dia ingin segera kembali ke rumah sakit. Dia tidak ingin ibunya sendirian di sana. “Apa kamu bilang? Kamu mengancamku? Dasar, anak sialan! Anak tidak tahu diri!” Max berteriak seperti orang kesetanan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN