Judas selalu menyingkirkan orang-orang yang berani mengganggu bisnis dan kehidupannya, apalagi kalau sampai mengancam nyawanya seperti yang dilakukan oleh Brenda kali ini. Tidak ada ampun baginya. Judas selalu punya banyak cara untuk menyiksa, bahkan hingga ajal menjemput mereka.
Pria bertubuh tegap dan jangkung itu sadar kalau dia punya banyak musuh di luar sana. Tidak hanya soal bisnis, tetapi juga tentang kerajaan yang menempatkan dia sebagai pewaris takhta. Banyak pihak yang mengincar kekuasaan itu. Sayangnya, dia adalah satu-satunya cucu dari garis langsung raja terdahulu. Ada kerabat luar, tetapi tidak langsung terhubung di bawah raja. Mereka adalah keturunan dari kakak maupun adik raja sebelumnya, kakek Judas. Sepeninggal sang raja, takhta digantikan oleh nenek Judas, Ratu Moana, karena ibu Judas telah meninggal ketika pria itu masih kecil.
Mobil Judas melaju dengan kecepatan sedang menuju kasino miliknya. Dia ingin bersantai sejenak di sauna yang tersedia di sana, sembari menunggu kabar dari Josh tentang perkembangan pertemuannya dengan Ara. Dia ingin segera bertemu dengan gadis itu, entah untuk apa.
Kenapa aku terus teringat pada dia? Gadis mungil, lemah, tapi pemberani. Mata itu. Mata yang teduh, tapi punya sorotan tajam dan menaklukkan ketika dia marah.
Tanpa sadar, Judas menggeleng-gelengkan kepala, membuat Josh yang duduk di sampingnya menatap heran.
“Anda sakit, Tuan? Perlu saya panggilkan dokter?” tanya Josh dengan sigap.
“Oh, no! Aku tidak apa-apa. Kamu fokus saja mengatur pertemuanku dengan Ara,” jawab Judas sambil mengibaskan tangan kanan. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela. Dia tidak menoleh sedikit pun ke arah Josh.
“Baik, Tuan.” Josh tahu, bos dia satu ini paling tidak suka menunggu terlalu lama. Dia tidak mungkin mengatur pertemuan dengan Ara via telepon. Dia harus bertemu dan berbicara langsung dengan gadis itu.
“Saya izin untuk langsung pergi setelah mengantar Tuan ke kasino,” sambung Josh memberi tahu.
“Hmmm.” Judas menjawab dengan gumaman. Itu artinya, dia setuju dan mengizinkan Josh untuk pergi.
Pikiran Judas berkelana. Entah kenapa, di antara berjuta bilik memori yang ada di dalam otaknya, dia malah menarik kembali kenangan tentang kematian sang ibu ketika dia masih berusia sembilan tahun kala itu.
“Ma, cepat sembuh, Ma. Mama harus bertahan, Ma. Judas tidak mau kehilangan Mama. Please, Ma. Please!” Judas menangis tersedu-sedu melihat sang ibu mengejang kesakitan.
Seorang perawat menahan Judas agar tidak mendekat ke tubuh Elena yang sedang ditangani oleh dokter. Kondisi kesehatan wanita itu tiba-tiba memburuk satu bulan belakangan. Judas sempat mendengar penjelasan dokter pada neneknya tentang penyebab sakitnya Elena.
Dokter menemukan beberapa serbuk kaca di dalam tubuh Elena. Sayangnya, serbuk ini terlambat untuk diketahui sebelumnya. Serbuk-serbuk itu sudah telanjur menyebar ke seluruh tubuh bersama darah. Tak hanya merobek sebagian pembuluh darah, serbuk-serbuk mematikan itu juga melukai setiap organ yang dilaluinya, menimbulkan luka-luka halus yang memang tidak akan terasa seketika.
Perlahan, serbuk-serbuk itu menghancurkan organ-organ penting. Ketika tubuh mulai mengirimkan sinyal bahwa ada bahaya, semua sudah terlambat. Luka sudah ada di mana-mana dan tak bisa lagi ditangani. Judas menyaksikan sendiri penderitaan sang ibu selama di rumah sakit.
Hari keempat dia menunggu di rumah sakit selepas pulang sekolah, kondisi Elena makin memburuk. Darah keluar dari mulut, hidung, bahkan telinga Elena. Wanita itu mengerang kesakitan. Dokter segera turun tangan di tengah teriakan pilu Judas menyaksikan wanita tercintanya bergulat melawan malaikat maut.
Empat hari ini dia selalu sendirian. Sang nenek sesekali menemani. DIa sibuk dengan urusan kerajaan, membantu kakeknya. Sementara ayah Judas, entah ke mana dia. Pria itu beralasan sibuk mengurus perusahaan keluarga mereka. Tidak adakah waktu barang sejenak untuk istri dia yang sedang tergolek tak berdaya di rumah sakit? Judas terus bertanya-tanya di dalam hati.
Dia mungkin masih berusia sembilan tahun. Namun, anak usia sembilan tahun bukan terlalu kecil untuk bisa memahami situasi yang terjadi. Dia yakin, ada yang tidak beres dengan ayahnya. Belum satu kali pun pria itu datang ke rumah sakit. Bahkan, ketika Judas mencoba untuk menghubungi dia melalui telepon genggamnya, tetap saja pria yang dengan sangat terpaksa harus dia sebut ayah itu malah menolak panggilan teleponnya.
[Papa sibuk di kantor. Kalau ada apa-apa, kirim kabar lewat tulisan saja.]
Hanya itu kalimat balasan yang pernah dikirimkan oleh ayah Judas. Pria itu tidak pernah menanyakan kabar ataupun perkembangan kesehatan istrinya sendiri. Terkesan seolah-olah dia hanya menunggu Judas memberi kabar tentang kematian sang istri saja. Selagi masih sakit, tidak perlu repot-repot untuk menghubungi dia.
Setelah beberapa puluh menit menunggu dengan perasaan tidak karuan, juga mencoba menghubungi sang ayah, tetapi tetap tidak diangkat, akhirnya Judas harus mendengar kabar buruk itu dari mulut dokter yang menangani Elena.
“Ibumu sudah meninggal. Sabar, ya, Jud. Setidaknya, dia tidak akan kesakitan lagi. Ini yang terbaik dari Tuhan.” Dokter paruh baya itu berjongkok dan memegang kedua lengan Judas.
“Bohong! Mamaku tidak akan meninggal. Kamu bohong!” Judas berteriak sambil menepis tangan dokter itu.
Dia langsung berlari mendekati jasad sang ibu. Dia sibakkan Kain putih yang menutupi wajah Elena. Dia meraung keras sambil mengguncang-guncang tubuh sang ibu. Dia ketakutan. Dia merasa ditinggalkan seorang diri di dunia yang penuh dengan kekejaman ini.
Elena adalah satu-satunya manusia yang bisa dia percaya sepenuhnya di dunia ini. Tidak ada yang lain. Nenek, kakek, paman, dan kerabat lainnya, tetap punya sisi berbahaya. Hal itu yang selama ini ditekankan oleh Elena kepada Judas kecil. Dia tidak boleh mempercayai siapa pun, selain Elena. Dunia ini terlalu kejam. Apalagi, para manusia yang ada di dalamnya.
Setelah beberapa belas menit menangisi kematian ibunya, beberapa perawat datang mendekat.
“Nenek dan kakekmu sedang ada di luar negeri. Besok pagi, baru mereka akan tiba di sini. Untuk sementara, jasad ibumu akan kami simpan di ruang mayat.” Suster itu berucap lembut pada Judas.
Dalam hati, dia merasa iba melihat anak sekecil itu harus menangis sendirian meratapi kepergian ibunya. Padahal, dia ini putera mahkota kerajaan Monaghan. Posisi yang selama ini banyak diincar dan diimpikan oleh banyak orang. Ternyata, kehidupan seorang pangeran, bahkan putera mahkota tidaklah seindah yang dibayangkan. Buktinya, dia harus sendirian di masa sulit seperti ini.
“Kenapa tidak dibawa pulang saja sekarang?” Judas menatap heran ke arah perawat berambut pirang itu.
“Ayahmu belum bisa dihubungi, Jud. Kami sudah coba menelepon, tetapi tidak diangkat. Kalau memang ayahmu menginginkan jasad ini dibawa ke istana, tentu saja kami akan bawa ke sana. Kami tidak berani bertindak tanpa persetujuan dari anggota keluarga. Jadi, untuk sementara waktu, kami harus menyimpan jasad ibumu di kamar mayat rumah sakit.” Suster itu menjelaskan dengan nada pilu.
Dia bisa merasakan kesedihan Judas. Anak kecil itu pasti ingin ibunya segera dibawa ke tempat mereka tinggal. Namun, bagaimana lagi. Prosedur melarang itu sebelum ada izin dari keluarganya. Kini, yang bisa mereka lakukan hanyalah memindahkan jasad cantik yang sudah terbujur kaku itu ke ruang mayat yang terletak di ujung bangunan rumah sakit tua itu.
“Tapi, aku juga keluarganya, kan? Aku yang minta agar jenazah Mama dibawa pulang sekarang.” Judas berucap dengan tegas. Dia memang sangat cakap dan tegas untuk anak seusia dia.
“Kamu masih di bawah umur, Jud. Kami perlu tanda tangan orang dewasa untuk bisa membawa jenazah ibumu pulang. Coba kamu hubungi ayahmu, Jud. Minta dia ke sini untuk menandatangani semua berkas. Atau kalau tidak, cukup menghubungi kami saja via telepon, nanti kami akan bawa jenazah ibumu ke istana sembari membawa serta berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh ayahmu,” ucap suster itu lagi menyarankan pada Judas agar mencoba untuk menghubungi sang ayah.
Suster itu berpikiran, bisa saja ayah Judas dari tadi sengaja tidak mau mengangkat nomor telepon dari rumah sakit karena menganggap bahwa nomor itu adalah nomor asing dan tidak dia kenal. Siapa tahu, kalau Judas yang menghubungi, dia akan mengangkatnya.
“Aku coba dulu ya, Sus. Tadi sih sudah kucoba hubungi Papa beberapa kali. Tapi, tetap dia tidak angkat,” jawab Judas dengan wajah resah. “Tolong, jangan bawa mamaku ke kamar mayat dulu. Beri aku waktu.”
Judas mencoba menghubungi sang ayah. Berkali-kali tak ada jawaban hingga sambungan terputus secara otomatis karena terlalu lama tidak ada tanggapan. Judas makin gusar. Para perawat juga sudah mulai kehilangan kesabaran. Tidak mungkin mereka menghabiskan waktu lama di kamar itu. Mereka masih punya banyak pekerjaan lain.
“Jud, sebaiknya, jenazah ibu kamu dibawa ke kamar mayat dulu, ya. Nanti, kalau sudah ada tanggapan dari ayah kamu, baru kita bawa pulang. Kami masih ada banyak tugas lain menanti. Tidak bisa juga kalau harus menunggu lama-lama, apalagi tanpa kepastian seperti ini. Maaf, ya, Jud.” Suster itu berucap lembut sembari mengusap pelan puncak kepala Judas kecil.
Judas menepis dengan kasar tangan itu. “Pokoknya, jangan bawa dia ke mana-mana. Mamaku harus tetap di sini. Tunggu sampai aku kembali. Segera, tidak akan lama,” sanggah Judas.
“Kamu mau ke mana, Jud?” Suster cantik itu berteriak melihat Judas yang langsung berlari, meninggalkan jasad sang ibu.
Judas tidak menjawab. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Dia terus berlari, keluar dari rumah sakit. Satu tempat yang dia tuju sekarang, tempat parkir. Dia harus segera pulang dan menemui ayahnya. Tadi sebelum Elena mengembuskan napas terakhirnya, salah satu pembantu di istana memberi kabar kalau Max, ayah Judas, sedang beristirahat di kamarnya.
Dasar, pria berengsek! maki Judas di dalam hati.