Pesta Besar

1069 Kata
Judas meminum anggur lalu menikmati salah satu kue yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Matanya lekat, memandang ke arah Brenda yang ada di dalam sangkar. Dia terlihat bahagia sekali. Sudah lama, tidak menyaksikan tarian kematian. Apa sebenarnya yang mereka tunggu? Kenapa semua orang memandangku? Apakah akan ada binatang buas dimasukkan ke sini? Brenda bertanya-tanya dalam hati. Dia masih terlihat kebingungan. Perlahan, besi di sisi bawah sangkar, tempat dia berpijak, yang tadinya terasa dingin sekali menyentuh kulit kaki, sekarang terasa menghangat. Brenda berusaha mencerna, apa yang sebenarnya terjadi. Dia menatap Judas seolah meminta jawaban. “Nyalakan musiknya,” titah judas. Josh menekan tombol pada remote. Musik salsa terdengar menggema di seisi ruang bawah tanah itu. Brenda semakin bertanya-tanya, apa ini maksudnya. Sementara besi-besi itu terasa semakin memanas, bukan lagi hangat. Gadis tanpa alas kaki itu terlihat mulai cemas. “Judas, apa ini maksudnya?” Dia berteriak sambil berusaha membuka pintu sangkar yang terkunci. “Aku akan melihatmu menari. Tarian kematian.” Judas menjawab sambil terkekeh. Brenda mulai menyadari apa yang terjadi sebenarnya. Telapak kakinya mulai terasa pedih. Dia berjingkat-jingkat seraya berteriak. “Judas! Bunuh aku sekarang. Jangan siksa aku seperti ini!” Wajah Brenda mulai memucat. Gadis itu mulai ketakutan. Dia tahu siapa Judas dan segala tindak-tanduk lelaki itu selama ini. Karena terbakar cemburu dan sakit hati, dia nekat berusaha mencelakai Judas. Sekarang, dia harus menerima akibatnya. Judas bersenandung lirih mengikuti irama musik. Dia tersenyum puas melihat kaki Brenda mulai melepuh. Gadis itu terus melompat tidak keruan. Tarian kematian yang tampak gemulai indah di mata Judas. Dia menikmati tarian itu sembari terus menyesap anggur di tangan kanannya. “Ampun, Judas. Bunuh aku sekarang! Judas!” Brenda terus meracau. Teriakannya sudah bercampur dengan pekik kesakitan. Gadis itu mulai menangis. Cairan bening mulai mengucur dari kedua kakinya yang terus berjingkat ke sana kemari. Semakin lama, cairan itu semakin memerah, bercampur dengan darah. Brenda mulai merasa lelah karena harus terus berjingkat. Dia terjatuh dan terus berteriak menahan perih yang kini tidak hanya ada terasa di telapak kaki. Dia terus berguling. Tengkurap, tertelentang, berusaha melawan panasnya besi yang semakin memerah. Tubuh itu terus berguling tak tentu arah disertai teriakan yang semakin lama semakin terdengar memilukan. Sedikit demi sedikit, bajunya mulai terkoyak. Sebagian kain terlihat menempel di besi-besi dan mulai menghitam karena terpanggang besi panas. Tubuh serta wajah gadis itu mulai rusak. Melepuh di sana sini, mengucurkan darah di sana sini. Judas tersenyum puas. Tidak ada yang bisa mempermainkan seorang Judas Ellington, apalagi mengancam nyawanya. Ini balasan yang akan mereka terima jika berani melawan Judas, putera mahkota kerajaan Monaghan. Teriakan Brenda berganti menjadi rintihan. Bau daging terbakar dan bau arang menyengat ke seisi ruangan. Judas menikmati itu semua. Mungkin, dia beranggapan bau itu sama saja seperti daging atau steak di pesta barbeque yang biasa dia datangi. Rintihan itu semakin memelan. Judas mengangkat tangannya, memberi tanda Josh untuk mengecilkan suara musik. Dia ingin mendengar rintihan Brenda sampai gadis itu tak mampu lagi bersuara. “Aku selalu suka rintihanmu, Brenda. Aku sudah biasa mendengarnya di atas ranjang. Sekarang, aku ingin mendengar rintihan manjamu di dalam kandang. Ayo, merintihlah, Sayang.” Judas setengah berteriak sambil tertawa. Seorang anak buahnya menuangkan anggur ke dalam gelas di tangan kanan Judas. Pria itu lalu berdiri, melangkah mendekati ‘kandang’ besi. Dia memberi tanda lagi agar pemanas dimatikan. Josh kembali menekan sebuah remote. Besi membara itu perlahan kembali ke warna semula, hitam. Brenda masih bernapas meski terlihat tersengal-sengal. Tubuhnya sudah tercabik-cabik oleh besi panas, hampir di sekujur badan. Judas yakin, gadis itu masih mampu mendengar. “Bawa dia mendekat,” kata Judas. Josh menekan sebuah tombol pada remote di tangannya. Perlahan, kurungan besi itu miring, membuat tubuh Brenda terguling ke arah Judas. Dia menekan lagi tombol lain dan kini kurungan besi kembali ke posisi semula. “Aku sangat menghargai kenangan kita selama ini. Sekarang, izinkan aku minum segelas anggur untukmu, Sayang.” Judas yang tadi berjongkok mengangkat gelas sebagai wujud penghormatan, lalu menenggaknya sampai tandas. Dia kembali tersenyum lebar. “Aku sudah minum segelas untukmu, Brenda. Sekarang, giliran kamu.” Judas berucap dengan lembut. Nada bicaranya terdengar sangat mesra. “Bawa ke sini botol anggur itu.” Judas berdiri. Dia serahkan gelas di tangannya, berganti sebotol anggur yang diulurkan oleh salah satu anak buahnya. Dia ingin Brenda menikmati anggur itu. Gadis itu sangat menyukai anggur. Anggap saja, ini tanda perpisahan dari Judas untuk dia. “Anggur ini untukmu, Brenda. Nikmatilah di akhir hidupmu. Jangan lupakan aku.” Tangan Judas masuk ke sela jeruji besi, lalu menuang anggur itu ke tubuh Brenda. Gadis itu merintih pilu. Dia sudah sangat sulit untuk bergerak. Yang dia bisa hanyalah merintih, menahan perih. Selesai menuangkan anggur dalam botol hingga habis, Judas merogoh saku celananya. Dia keluarkan sebuah pemantik berwarna perak. Dia nyalakan, lalu melemparnya ke arah Brenda. Pekikan kembali terdengar. Dengan sisa-sisa tenaga, gadis itu menggeliat sembari berteriak. Judas mematung menyaksikan teman wanitanya itu meregang nyawa. Seutas senyum masih tetap tersungging manis di bibir merahnya. Bibir merah akibat terlalu banyak menenggak anggur     Tidak ada ampun bagi seorang pengkhianat. Judas merutuk dalam hati. Dia sudah kenyang dengan pengkhianatan. Sejak kecil. Bahkan, dia harus menyaksikan sendiri bagaimana sang ibu meregang nyawa akibat pengkhianatan ayah serta salah satu pembantu mereka. Semua pengalaman itu mengajarkan pada dia untuk menghukum para pengkhianat agar tidak mengganggu kehidupannya. Tidak sampai tiga menit, Brenda sudah terbujur kaku dengan wajah serta tubuh yang tak mungkin lagi bisa dikenali. Judas menyeringai melihat orang yang hampir saja membunuh dia kini terbujur kaku dengan wajah serta tubuh menghitam bagaikan arang. Kalau saja Ara tidak menyelamatkan dia, tentu kini dialah yang terbujur kaku, menjadi mayat di dasar lautan sana. Ah, apa kabarnya malaikat penyelamatku itu? Judas tiba-tiba teringat pada Ara. “Josh, aku ingin bertemu Ara. Kamu atur pertemuan kami.” Judas membalikkan badan, menatap tajam ke arah sekretaris pribadinya itu. “Saya usahakan, Tuan. Tapi ... itu tidak mudah,” jawab Josh sambil menunduk dan sedikit membungkukkan badan. “Tidak ada yang mustahil untuk Judas Ellington. Kamu sudah tahu itu.” Judas berlalu meninggalkan ruang bawah tanah itu. “Bereskan mayat itu! Sudah saatnya serigala-serigala kita menikmati daging bakar!” teriak Judas ketika kakinya sudah menapak ke tangga, diikuti oleh Josh di belakangnya. “Siap, Tuan,” jawab laki-laki bertubuh gempal. Mereka segera mengangkat tubuh Brenda, membawanya ke atas. Di halaman belakang, Judas memelihara beberapa ekor serigala. Mereka pasti akan bersuka cita mendapatkan santapan lezat berupa daging manusia bakar dengan bumbu anggur merah yang mahal harganya. Pesta besar!           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN