Malam tak terlupakan
Suara ketukan pintu membuatku terbangun di malam buta, aku mengerjapkan mataku menghilangkan rasa kantuk yang masih mendera. Aku lirik sekilas jam digital di meja nakas samping ranjang. Waktu menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas malam. Suara ketukan keras terdengar kembali, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Siapa? Siapakah yang tengah malam seperti ini bertamu? Apakah Paman Dave? Tapi bukankah Paman Dave bisa membuka pintu rumah sendiri tanpa perlu meminta tolong?
Rasa penasaran yang besar membuatku bangkit dan langsung bergegas keluar kamar. Dengan hanya menggunakan piyama tidur tanpa dalaman, aku bertelanjang kaki menuju ke pintu keluar untuk mengecek siapakah yang sebenarnya datang. Dengan melihat melalui lubang intip khusus yang ada di pintu rumah mewah milik Paman Dave, aku mengecek siapakah orang yang ada di balik pintu. Setengah tak percaya setelah aku melihatnya sendiri, jika sosok di balik pintu itu memang ternyata adalah Paman Dave. Astaga, bagaimana bisa dia tak bisa masuk ke dalam rumah milik sendiri? Tak mau mengulur waktu segera saja aku membuka pintu.
“Paman?!” panggilku terkejut melihat keadaannya yang sekarang terlihat berantakan.
“Kenapa lama sekali membuka pintunya?” Suara Paman Dave terdengar serak dan tak jelas.
Tubuhnya berdiri tak sejajar dengan pandangan tak fokus. Melihat keadaannya sekarang sudah jelas jika saat ini pria yang sudah aku anggap pengganti ayahku itu tengah mabuk berat. Rambut hitamnya yang berantakkan membuat penampilannya kali ini terlihat liar. Sungguh berbeda dengan penampilannya yang aku lihat sehari-hari selama ini. Namun, terlepas dari penampilannya sekarang, di mataku Paman Dave tetap terlihat tampan dan gagah untuk seorang pria yang memang berusia matang. Oh, tidak. Bukan di mataku saja, namun yang aku tahu banyak wanita yang tergila-gila dengannya.
“Ya, Tuhan. Paman mabuk?” Aku mencoba memapah pria tinggi tegap yang sempat berjalan oleng masuk ke dalam rumah.
“Aku tidak mabuk, aku hanya minum,” sahutnya enteng seraya menyunggingkan senyum dipaksakan yang terlihat aneh di mataku.
“Biar aku bantu Paman ke kamar,” aku berinisiatif membantu Paman Dave yang terlihat berjalan sempoyongan.
Tak ada jawaban, pria berumur tiga puluhan yang mengaku sebagai adik angkat dari mendiang ayahku itu hanya menurut saat aku mencoba membantunya berjalan masuk ke dalam kamar miliknya. Rumah mewah bergaya Eropa yang sudah lebih dari satu tahun aku tinggali ini memang berukuran luas. Kebetulan saat ini di rumah hanya ada kami berdua. Karena asisten rumah tangga memang hanya ada saat pagi hingga menjelang petang. Sehingga tak ada siapa pun yang bisa menolongku membantu Paman Dave kecuali hanya aku.
Dengan penuh perjuangan akhirnya aku bisa membaringkan tubuh Paman Dave sampai ke ranjangnya. Paman Dave kini terlihat memejamkan matanya, begitu cepatkah dia tertidur? Bau alkohol begitu sangat menusuk hidungku. Sudah jelas jika pria ini tengah mabuk berat. Sebenarnya apa yang terjadi padanya, hingga Paman Dave bisa berakhir sampai seperti ini? Ini pertama kalinya aku melihat Paman Dave mabuk, bagiku sekarang ia terlihat menyedihkan. Aku memang belum lama mengenalnya, namun aku yakin jika Paman Dave bukan pria pemabuk.
Merasa iba aku pun mencoba melepaskan sepatu dan juga dasinya agar ia merasa sedikit nyaman. Namun, aku tersentak saat tiba-tiba Paman Dave membuka matanya lalu mencengkeram tanganku kuat.
“Hana?!” panggil Paman Dave padaku.
“A-apa??” Aku mengerjapkan mata merasa bingung, "Aku Erica, Paman, bukan Hana,” sahutku mengingatkan.
“Kenapa kau tega sekali membohongiku, Hana? Apa yang kurang dariku, hah?!” Nada suara Paman Dave terdengar meninggi, ekspresi wajahnya tampak marah melihatku.
Astaga, jangan katakan jika Paman Dave salah mengira aku adalah seseorang yang disebut dengan Hana sekarang?!
“Sadarlah, Paman. Aku bukan Hana tapi Erica Wenston!” Aku berusaha keras mengingatkan dan mencoba melepaskan cengkeraman tangan Paman Dave di pergelangan tanganku.
Semakin aku berusaha keras melepaskan diri, semakin erat cengkeraman Paman Dave di tanganku. Dan tanpa terduga detik itu juga, ia menarik tubuhku jatuh ke ranjang hingga aku memekik kaget.
“Arghh!! Paman, apa yang kau lakukan?!” pekikku keras.
“Aku akan memberikanmu hukuman atas semua pengkhianatan yang kau lakukan padaku!” ucapnya dengan kilat mata yang terlihat mengerikan.
“Ya Tuhan. Sadarlah Paman, aku bukan Hana tapi Erica! Kau salah orang!” pekikku mulai ketakutan.
Kini pria yang kuanggap Paman itu ada di atas tubuhku. Nafasnya kasar dan memburu menatap nyalang diriku yang mungkin terlihat kecil di matanya.
“Kau akan habis olehku, Hana! Lihat saja akan aku berikan kau balasan yang tak akan terlupakan olehmu sampai kapan pun!” ancam Paman Dave.
“Tidak! Jangan! Aku bukan Hana!” aku berteriak mencoba melepaskan diri ketika bak kesetanan Paman Dave mulai melepas paksa piyama yang aku kenakan.
Aku terus meronta dan menjerit keras, namun Paman Dave semakin kasar melakukan aksinya. Ia seolah mencoba untuk buta dan tuli saat ini. Hingga pada puncaknya ia menamparkanku saat aku berusaha keras untuk bangkit dan melepaskan diri dari cengkeramannya.
“Wanita munafik! Setelah kau tidur dengan pria lain kau masih sok suci bermain sandiwara di depanku!!” makinya kasar.
Pandanganku berkunang-kunang sesaat. Rasa perih panas di pipiku bukanlah apa-apa saat pria yang telah berjanji bertanggung jawab pada hidupku setelah kepergian kedua orang tuaku itu mulai menggerayangi seluruh tubuhku yang kini sudah sepenuhnya polos. Aku menangis terisak dan terus memohon untuk dilepaskan, akan tetapi pria di atas tubuhku sama sekali tak peduli dan kesetanan terus melakukan apa yang menjadi keinginan serta tujuannya.
Aku tak kuasa lagi untuk memberontak, rasanya tubuh ini lemah dan tak sanggup lagi bergerak. Kini aku hanya bisa pasrah di bawah kendali tubuh pria dewasa yang memiliki umur terpaut jauh dibandingkan aku. Suara tangisku seakan tenggelam di antara suara deru nafas Paman Dave yang memburu bergerak di atas tubuhku. Alkohol telah mengubah pria yang aku anggap dewa penolong menjadi iblis dalam sekejap mata.
“Kau akan menyesal telah memperlakukanku seperti ini, Paman. Kau akan benar-benar menyesal, hiks!” ucapku serak di antara tangisku yang bergema memenuhi ruangan.
Dengan berlinang air mata aku mencoba untuk terakhir kalinya menatap memohon pada pria di atas tubuhku. Berharap ada sedikit rasa belas kasihan yang masih tersisa, namun semuanya sia-sia. Paman Dave tetap melakukan apa yang menjadi keinginannya yang membabi buta. Nafsu setannya yang menyala-nyala telah membutakan mata hati serta jiwanya.
Tak hanya rasa sakit di hatiku, rasa sakit di tubuhku semakin terasa ketika dengan paksa pria yang aku panggil Paman itu mulai menyatukan bagian bawah tubuhnya yang kini sudah sepenuhnya polos. Rasa sakit seperti panas, nyeri dan terbelah aku rasakan di antara pangkal pahaku. Selama sembilan belas tahun aku menjaganya, kini aku telah gagal mempertahankannya. Tak ada lagi yang aku ingat selain jeritan rasa sakit sebelum aku benar-benar jatuh tak sadarkan diri dan hanya ada kegelapan yang tersisa.