“Nah. Pakailah pakaian ini, kamu pasti akan tampak lebih menawan jika mengenakannya.”
Entah harus berapa kali lagi Vaye menghela nafas karena terpaksa harus mengikuti arahan stylist yang tidak ada selesai-selesainya mencocokan baju yang baginya pas untuk Vaye. Mata coklat itu memandang Lussac sengit, sedangkan yang dipandang malah asik bertelepon dengan seseorang yang sepertinya menyangkut masalah pekerjaan.
Pagi-pagi saat Vaye bangun hari ini, dirinya sudah dikejutkan dengan kedatangan Lussac yang seenaknya ada di kamarnya tanpa permisi. Diseret untuk segera mandi, dibawa pergi entah kemana, dan kini harus tahan menghadapi stylist yang tidak ada bosan-bosannya membuat dia terus-menerus berganti pakaian.
Tidak. Ini bukan untuk persiapan pernikahan mereka. Hal itu masih lama, Vaye bahkan belum memikirkannya sama sekali.
Ingat saat Lussac berjanji akan mengenalkan Vaye sebagai tunagannya di acara awards? Pria itu benar-benar berniat melakukannya, hari ini juga, tanpa memberikan waktu pada Vaye untuk melakukan persiapan fisik ataupun mental.
“'Kay, baju ini nampaknya sudah pas dan.... Oh! Kamu harus melepas tindik ini Sayang….” ujar stylist itu gemas. Sontak Vaye menutupi kupingnya, tidak rela jika harus di make over sejauh ini.
“Tidak. Aku senang penampilanku yang sekarang,” tolak Vaye tegas.
“Apa ada masalah?”
Lussac yang baru saja selesai melakukan panggilannya sontak mendekat melihat Vaye yang berusaha menutupi telinganya. Keduanya menoleh, bingung harus berkata apa.
“Aku tidak ingin mencabut tindikku. Aku ingin seperti ini saja,” paksa Vaye. Dia melihat Lussac dengan tatapan lurus, sekali ini saja meminta karena biasanya Lussac akan selalu memaksakan kehendaknya.
Lussac memandang Vaye lekat, lalu bergerak untuk mengusap surai rambutnya lembut.
“Tidak apa jika itu keinginanmu. Aku tidak akan memaksa.”
Vaye menatapnya tidak berkedip. Pria itu baru saja memperbolehkannya meminta sesuatu bukan? Whoa, mimpi apa Vaye semalam?
Bukan apa-apa. Selama Vaye mengenal Lussac, yang dilakukan Alpha itu hanyalah selalu memaksakan kehendaknya tidak peduli Vaye suka maupun tidak. Pertunangannya pun sama, belum Vaye jawab tapi sudah diputuskan begitu saja oleh Lussac.
“Jangan paksa dia jika tunanganku ini tidak menginginkannya. Lain kali tanyalah apakah Vaye menginginkan sesuatu yang spesifik untuk dia pakai,” ujar Lusaac memperingatkan. Stylist itu mengangguk patuh, menggiring Vaye untuk duduk di bangku rias lagi.
Lussac kembali menelepon seseorang dengan ponselnya, sibuk seperti biasa sementara Vaye kembali didandani tanpa menganggu tindiknya. Keduanya hanya melakukan kegiatannya masing-masing, sebelum stylist tersebut memutuskan bahwa Vaye telah selesai di dandani.
Mata Lussac tidak berkedip ketika berbalik dan melihat pemandangan didepannya ini. Biarlah dia terlihat bodoh, tapi baginya Vaye terlihat seratus kali lebih menawan dengan tampilannya yang sekarang.
Rambutnya yang dulu sebahu acak-acakan kini dipotong coconut hair dan ditata ke atas untuk memperlihatkan kening mulusnya. Kulitnya yang semula tidak dirawat tampak putih bersih khas seorang Omega, sementara bibirnya diberi sedikit pelembab agar tidak kering dan menunjukan warna aslinya yang kemerahan. Bulu matanya panjang dan tebal, tidak berkedip saat melihat Lussac yang termanggu melihatnya. Vaye bagaikan pahatan terbaik saat ini, imut namun tampan di saat bersamaan.
Tindiknya juga, membuat kesan bahwa Vaye adalah Omega yang berkarisma. Gagah dan sedikit nakal seperti yang dia inginkan.
“Nah, lihatlah sekarang penampilanmu di cermin.”
Stylist itu mendorong Vaye ke arah cermin besar tidak jauh dari tempatnya semula berdiri. Hasilnya seperti yang diinginkan stylist tersebut. Vaye sampai terpana melihat penampilannya sendiri sekarang.
Dia..... Tampak menawan.
“Kamu tampan malam ini, Vaye. Aku jadi semakin mencintaimu,” ungkap Lussac sambil meraih pinggang Vaye dari belakang. Anak itu tidak menolak. Sebaliknya, pipinya bersemu merah mendengar pujian yang dilontarkan oleh Lussac.
Rasanya Vaye belum pernah tampil serapih ini seumur hidupnya. Keluarganya yang dulu hanya berniat menguncinya di kamar dan Jay, semenjak kabur dari rumahnya Vaye bahkan terlalu malas untuk memikirkan penampilannya.
Vaye kembali ingat, bahwa dulu dia selalu memimpikan untuk memakai pakaian indah dan cantik seperti ini. Dia berdandan dan terlihat cantik. Naluri omeganya selalu mendorong agar dia berlaku lemah lembut. Namun mimpi itu hancur begitu saja saat ayahnya memergoki dia membeli pakaian lucu untuk dia pakai. Ayahnya memukuli dia dan membakar baju itu didepannya begitu saja. Kejadian itu membuat Vaye bertekad mengubur dalam mimpinya, dia tidak ditakdirkan untuk menjadi Omega yang bisa bertingkah imut sesuka hatinya.
Tapi hari ini berbeda. Seorang Alpha sombong yang kini menjabat status sebagai tunangannya baru saja membuatnya tampak menawan didepan cermin. Sesuatu yang saat dia kecil, hanya bisa menjadi khayalan indah semata.
Jantung Vaye berdetak tidak karuan, apalagi saat Lussac mencium ceruk lehernya cepat.
“Ayo pergi Sayang. Tunjukan pada dunia bahwa kau hanya milikku sekarang,” bisik Lussac lembut.
*****
Ah... Vaye rasanya ingin kembali saja sekarang. Seharusnya dia saat ini tengah bekerja di bar dan bukan berada dalam pesta megah seperti ini. Tidak ada orang yang dikenalnya. Namun satu hal yang pasti, Vaye yakin mereka semua berasal dari kalangan atas karena terlihat jelas dari cara mereka bertingkah dan berpakaian. Ajang awards ini memang sering Vaye lihat dalam televisi, tapi bukan berarti dia nyaman jika harus menghadirinya secara live hey!
Acara awards ini memang diperuntukan untuk para seniman dan artis berbakat. Namun sebagai sponsor, beberapa pengusaha kaya juga diundang untuk menghadiri acara bergengsi ini. Para penonton juga tertarik dengan kehidupan para triliuner ini, dan dalam ajang seperti inilah para pengusaha tersebut dapat mencari kolega atau sekedar membangun hubungan kerja sama dengan pengusaha lainnya.
Oke kembali, Lussac yang menyadari pergerakan gelisah dari Vaye bergerak untuk memeluk pinggangnya sayang, membisikan sesuatu lalu kembali berjalan dengan gagahnya. Vaye? Mukanya sudah semerah kepiting rebus jika seseorang melihatnya dengan baik sekarang.
“Jangan malu begini Sayang. Angkat kepalamu, kau adalah tunanganku sekarang. Pria tampan yang cocok menemaniku untuk seumur hidup.”
Demi apa pun! Pikiran Vaye semakin tidak fokus mengingat bisikan Lussac sebelumnya. Matanya seakan terus berkedip karena pengaruh flash kamera, yang tidak berhenti menyoroti mereka yang jalan berdua.
‘Anak pertama dari keluarga Tritas akhirnya datang ke acara awards bersama dengan seorang pria tampan yang tidak diketahui namanya' mungkin itu akan menjadi berita di koran esok pagi.
Lussac tetap berjalan dengan santai, sesekali mengenalkan Vaye pada rekan bisnis atau kenalannya tanpa melepas pegangan Lussac dari pinggang Vaye. Perlahan anak tersebut mulai terbiasa, toh Lussac juga tidak akan membiarkan Vaye terpisah untuk membuat keonaran.
“Well... Ternyata Gena tidak bercanda padaku. Keberatan untuk mengenalkan tunanganmu pada Paman, Lussac?”
Seorang pria gagah berjalan berdua bersama seorang Omega dewasa yang tampak begitu memukau. Mereka tersenyum manis pada Lussac dan juga Vaye, yang dibalas senyuman kikuk oleh Omega muda tersebut.
“Tentu Paman Rod. Kenalkan, ini Vaye tunanganku dan Vaye, ini Paman Rodrick dan Paman July mertua dari adikku. Pertunangan kami memang belum di publikasikan secara umum Paman, wajar jika banyak orang tidak percaya dengan berita ini,” ucap Lussac menjelaskan. Mereka berjabatan singkat, sebelum kedua pihak berjarak kembali.
“Apa Paman sudah bertemu dengan ibuku malam ini? Kami tidak berangkat bersama tadi,” tanya Lussac sopan.
“Ah, dia…”
“Lu? Wow Vaye, kamu terlihat menakjubkan malam ini.”
Gena, yang datang bersama Ryan baru saja memuji Vaye yang kini tersipu malu. Pasangan itu tampak segar di umur mereka yang beranjak tua, dengan pakaian mereka yang modis dan dibuat berpasangan.
Lussac mencium pipi Gena sekilas lalu memeluk Ryan. Keduanya berbincang sejenak, namun terhenti saat langkah kaki seseorang menghentikan obrolan mereka.
Seorang lelaki muda datang sendirian, tatapannya dingin walaupun beberapa perempuan maupun Omega memandangnya dengan tatapan memuja.
Tatapan Lussac mengeras, Vaye bisa lihat itu. Namun dia berusaha menahannya sambil melangkah cepat ke arah pria tersebut.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
To be continued