"Kayaknya misi gue bakal gagal, deh," ucap Mutiara saat duduk di sisi Permata, mereka masih berada di area skateboard meski matahari semakin mendekati puncaknya, untung saja rimbunnya pohon di tepi lapangan membuat keduanya cukup terlindungi, ditambah sepoi angin yang begitu memanjakan. "Maaf, Kak." Murung di wajahnya memang tak bisa disingkirkan. "Aku nggak bisa kalau nggak mikirin dia, aku yang salah. Kalau kita nggak putus, pasti nggak ada kecerobohan kayak gini. Aku yang nggak pernah nyadar kalau Bangkit orangnya nekat." Ia menunduk, entah kapan sesalnya akan segera menyingkir, membiarkan lengkung di wajah hadir sekali saja, tapi untuk masa-masa sekarang memang sulit, hawa kesedihan menyelimuti gadis itu. "Sabar, ya. Badai pasti berlalu, apa pun keputusan kamu berikutnya pasti bakal
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


