36.

993 Kata

Biar saja mereka mencaci, mereka tak tahu indahnya mencintai tanpa gengsi, tapi dengan hati. *** "Buka mulutnya dong, ini tuh sebagai ucapan terima kasih gue karena lo tadi mau temenin di lapangan." Bangkit mengangkat sendok yang berisi di depan wajah Permata, meminta gadisnya segera menerima. "Bangkit, aku tuh bukan anak kecil lagi, sini sendoknya." Saat Permata hendak merebut benda itu, Bangkit justru mengarahkannya ke bibir sendiri. Amira hanya bisa menahan tawa kala melihat keusilan Bangkit pada temannya, mereka duduk bertiga di dalam kantin, Amira juga tak berniat jadi obat nyamuk karena Bangkit tiba-tiba datang dan ikut bergabung, Bangkit juga tak masalah Amira ada antara dia dan Permata. "Kamu doyan makan begituan?" Permata tampak tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya, Ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN