Jadilah satu alasan kenapa bahagia sepantasnya diperjuangkan, karena kau tak tahu seberat apa rasanya menahan amuk rasa yang sulit dipertahankan. *** Brak! Adara membuka pintu kamar Permata dengan kasar, membuat si empu yang sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya di balik meja belajar menoleh dengan kening berkerut. Permata beranjak menghampiri Adara yang masih berdiri di ambang pintu. "Kenapa, Bu?" tanya Permata polos. Plak! Satu tamparan keras mendarat di wajah Permata hingga seluruh rambutnya bergerak menutupi wajah, lantas Adara menjambak rambut Permata hingga gadis itu memekik kesakitan sembari memegangi rambutnya yang ditarik Adara. "Argh! Sakit, Bu. Lepasin Permata, tolong ...." "Gampang banget kamu bilang begitu, kamu bikin saya merugi lagi!" geram Adara. "Soal donat ya

