Saat rasa mengelabui hati, diharapkan tak ada dusta. Saat waktu enggan memungkiri, jawabannya hanyalah dialog prakata. *** Sengaja, Bangkit melewatkan sarapan paginya dan meminta pembantu untuk membuatkannya bekal, padahal seumur-umur meskipun Bangkit melewatkan sarapan pagi pun ia tak pernah membawa bekal karena masih banyak makanan siap saji berjejer di dalam kantin. Ia tak ingin berkumpul dengan keluarganya di balik meja makan, Bangkit masih kesal dengan keraguan mereka semalam terutama pada Tegar. Bukankah wajar jika manusia membuat salah? Artinya manusiawi, tapi jika Tegar membuat salah justru diragukan lantas ia harus disebut apa selain manusia? Bangkit tak habis pikir, mungkin semua anggota keluarganya menganggap dia trouble maker di sekolah dan segala tempat, Bangkit rajanya!

