dua puluh

1030 Kata
Bebe senang sekali hari ini. Dia bisa melihat banyak hewan di sana. Gadis kecil itu begitu excited, terus berbicara dan juga tertawa. Ini adalah pertama kalinya dia bisa melihat hewan secara langsung. Rei tidak menyesal sudah membawa gadis kecilnya ke sana. Sejak menelusuri Taman safari tadi, Putri kecilnya banyak sekali bertanya ini dan itu. Setelah berada di ujung perjalanan, mereka segera turun. Perjalanan masih akan berlanjut, masih banyak hewan yang akan mereka lihat seperti gajah dan juga bisa berfoto bersama hewan lainnya. Bebe berada dalam gendongan Yogi, anak itu berkata kelelahan Setelah dia sibuk bermain dengan kelinci. Padahal wajah Bebe sudah memerah karena cuaca yang cerah. Tapi dia masih begitu bersemangat. Apalagi saat tadi lumba-lumba. "Mami im happy. Tadi lihat lumba-lumba. Ternyata besar sekali ya mami?" tanya anak itu. Ia meminta turun dan berjalan bersama Rei. "Iya sayang." Rei berjalan di belakang bersama dengan Tedi. Wanita itu juga merasa senang karena akhirnya bisa keluar liburan bersama Bebe. Yang paling sulit adalah melawan rasa malas, Rei lebih suka berada di rumah menghabiskan waktu bersama Bebe dengan memasak, membaca buku atau menonton film anak-anak. "Hari ini Bebe seneng banget ya?" Tedi buka suara Setelah sejak tadi dia berjalan sambil memerhatikan Rei. Rei menoleh, tersenyum dan anggukan kepala. "iya Mas, aku senang lihat anak aku happy kayak gitu." "Emangnya kalau liburan kalian biasa ke mana?" "Lebih senang di rumah aja sih Mas. Karena biasanya aku capek kalau untuk kegiatan di luar. Kecuali kalau emang ada Sinta atau temen aku yang lain ngajak keluar. Kalau kita keluar pun, paling cuman makan di McD atau KFC. Aku tuh males kalau harus ke tempat kerumunan kayak gini." Rei membeberkan alasan mengapa ia begitu malas untuk keluar rumah di saat liburan. Apalagi biasanya tempat-tempat wisata itu cukup padat dan ramai di hari libur seperti ini. "Ngabisin waktu sama anak di luar itu bukannya nyenengin ya? Gimana kalau aku akan ajak kamu setiap liburan? Kita jalan-jalan setiap hari libur sama Strawberry?" Tedi mencoba menawarkan diri. Karena mendengar apa yang dikatakan dari tadi seolah memberinya kesempatan untuk bicara, mengajak menghabiskan waktu bersama. "Nggak perlu mas. Aku nggak mau ngerepotin? kalau mas Tedi memang mau main, silakan." Sementara itu di depan, Yogi merasa ada yang hilang lalu dia menoleh ke belakang dan melihat Rei yang tengah bersama Tedi. Jelas aja dia langsung merasa cemburu. Kemudian kembali berjalan ke belakang menyusul Tedi dan juga Rei. "Kalian lama banget sih?" Yogi bertanya dengan kesal. "Pak Yogi aja yang jalannya kecepetan." Tedi menjawab pertanyaan Yogi, cuek. Yogi melirik, ia tahu kalau Tedi sangat kesal karena tiba-tiba saja dia ikut dalam perjalanan ini. Tapi Yogi tentu tak perduli, dia juga tak mau kehilangan Rei dan membiarkan Wanita pujaannya itu pergi bersama pria yang jelas menjadi saingannya. Karena dia juga akan merasa kesal kalau membiarkan Tedi pergi bersama Bebe dan Rei. "Mami itu apa?" tanya Bebe, saat di gendong di melihat sebuah bangunan yang menarik perhatiannya. Rey menatap arah tunjuk putrinya. "Itu rumah hantu." "Ayo ke sana mi." Bebe mengajak dengan antusias. Strawberry memang terkenal cukup berani dan suka menonton film horor. Dan hal seperti itu tentu menarik perhatiannya. "Yuk," ajak Rei. "Rei, yang bener aja kamu Strawberry itu masih kecil." Yogi berkata seperti itu karena coba menghalangi. Dia tak terlalu suka dengan konsep rumah hantu ataupun menonton film horor. "Loh kenapa Papi? Bebe berani kok." Bebe bertanya dengan polos . Akhirnya, mau tak mau kedua orang laki-laki itu mengikuti keinginan Bebe mereka jelas tak mau kalah. Mau ditaruh di mana harga diri karena menolak permintaan Bebe? Untuk menjelajahi wahana, mereka harus menggunakan sebuah kereta dan masing-masing kursi bisa diisi dua orang. Bebe dan Rei mengambil tempat duduk yang paling depan. "kamu yakin duduk di depan?" tanya Yogi pada Rei. "Iya, kenapa Pak?" tanya Rei. Yogi gelengkan kepala, ia duduk di samping Tedi yang sudah duduk terlebih dulu. Tak ada yang bisa digambarkan dari tatapan Tedi biasa saja sama sekali tak terlihat ketakutan. "Mami im so excited." Bebe mengatakan pada sang ibu. "Iya, mami juga, nanti di sana banyak orang yang akan pakai kostum serem Be. Pokoknya mereka cuma manusia yang pakai baju serem. bebe jangan takut." Rei mewanti-wanti, dia takut juga kalau putrinya tiba-tiba ketakutan. Tedi memerhatikan Yogi tangannya mencengkram erat pada air mineral yang ia bawa. "Takut pak?" Tedi bertanya. Yogi gelengkan kepalanya dnegan ragu. "Enggak, pak Tedi kali yang takut," kata Yogi tak mau mengakui posisinya saat ini. Ya, tapi Tedi sudah dengan jelas tau. Apalagi kini kereta itu sudah mulai berjalan. Yogi tersentak kaget, dan tedi hanya bisa tersenyum meledek Yogi. Semakin ke dalam semakin gelap ada aneka macam ornamen pendukung untuk membuat lokasi terkesan semakin angker dan menyeramkan. dimulai dari aneka drum yang tertumpuk berantakan menunjukan kesan kalau itu adalah tempat penambangan yang terbengkalai. Juga aneka boneka hantu yang tiba-tiba bergerak, ada juga keranda yang bergerak kemudian sebuah pocong keluar dari sana. "Aaa!" Yogi berteriak dengan wajah yang sudah pucat menahan rasa takutnya sejak tadi. Tedi terkejut bukan karena pocong yang keluar dari keranda itu, tapi karena teriakan Yogi. Setelahnya mereka berjalan ke luar. Tedi, Rei dan Bebe berjalan terlebih dulu. Mereka tertawa senang, merasa kalau wahana tersebut tak semenyeramkan yang dipikirkan. "Enggak serem ya Be?" Tedi bertanya pada Bebe. Anak itu anggukan kepala. "Iya, tapi tadi yang terkahir di depan pintu itu serem Om. Kayak monyet tapi ada luka-lukanya, tapi bulunya enggak lebat ada taringnya juga." Rei dan Tedi saling tatap, mereka sama sekali tak melihat itu saat keluar tadi. Tak ada apapun selama kereta berjalan keluar dari arena. Dan tak ada makhluk yang disebut oleh Bebe. "Ah, Bebe salah lihat Nak?" tanya Rei. "No mami, Bebe lihat jelas, dia matanya merah. Itu om pakai kostum kan Mi?" Bebe kemudian tertawa. "Iya itu om sayang." Tedi coba menyudahi. Rei menatap Tedi lagi, memang sih di tempat seperti itu tak menutup kemungkinan akan ada makhluk halus yang sesungguhnya di sana. Hanya saja, Rei sedikit takut karena putrinya yang harus mengalami itu. "Papi ke mana?" Bebe tak melihat Yogi saat ia menoleh ke belakang. Rei dan Tedi menoleh ke belakang, mereka juga cukup cemas karena tak melihat Yogi di belakang. Karena yang mereka ingat, Yogi ada di belakang mereka berdua. "Ke mana Mas?" tanya Rei. Tedi naikkan bahunya. "Ayo kita cari."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN