Yogi menatap dengan tatapan iri dan dengki ke arah Rei dan Tedi. Jelas ada percik-percik api cemburu yang ia rasakan. Saat ini ia bisa memastikan kalau apa yang ia rasakan adalah cinta. Berawal dari cinta satu malam, kemudian berakhir dengan hatinya yang berdebar dan inginkan Rei. Jangan lupakan, semua itu berbekal juga akibat ASI yang ia rasakan di malam panas itu.
"Mau jalan- jalan." Tedi menjawab, kemudian berjalan menuju mobil miliknya sambil menggendong Strawberry. Saat digendong anak itu melambaikan tangannya ke arah Yogi. Dan Yogi juga melakukan hal yang sama dia lambaikan tangan kepada Strawberry.
Rei mengikuti langkah Tedi, tapi dia berhenti tepat di depan Yogi. "Kita mau jalan-jalan ke seaworld Pak."
"Mas, please." Yogi menekankan, ia tak mau kalah dengan Tedi, yang bisa dengan luwes Rei panggil dengan sebutan Mas.
"Iya Mas," sahut Rei mengikuti keinginan Yogi.
Tedi mendudukkan Bebe di kursi belakang, dia juga memakaikan sabuk pengaman. Setelahnya berjalan keluar, dan berdiri di depan mobilnya. Ia menatap ke arah Yogi tahu betul Kalau pria itu kini tengah kesal.
"Ayo Rei," ajak Tedi.
Rei menatap Yogi dengan tatapan tak enak. Dia tahu Yogi ke sana mau bertemu dengan Bebe. Hanya saja, Tedi sudah datang terlebih dahulu dan mereka juga akan pergi bersama.
"Aku jalan dulu ya Mas." Rei berpamitan.
Rei berjalan menuju pintu penumpang di depan. Iya berniat untuk membuka pintu, tapi tangannya dihalangi oleh Yogi. Untuk beberapa detik untuk membuat Yogi sadar dan bergerak untuk menghalangi. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Tedi menghabiskan waktu dengan bahagia bersama dengan Rei.
"Kamu duduk kursi belakang sama anak kita."
Apa? Anak kita? Otak Rei tiba-tiba saja memprogram apa yang dikatakan oleh Yogi barusan. "Gimana Pak?' tanyanya.
"Anak kita," jawab Yogi lagi, cuek. Ia kemudian membuka pintu penumpang dan duduk di sana.
Rei kaget, kesal juga karena Yogi tiba-tiba saja mengakui Bebe sebagai putrinya. Tapi, bodo amatlah suka-suka Yogi saja. Lagipula terlihat dari gerak-geriknya, pria itu jelas orang yang keras kepala. Rei malas kalau harus berdebat, ia duduk di samping Bebe di kursi belakang.
Tedi melirik dengan kesal, tapi mau bagaimana lagi. Yogi sudah duduk anteng bahkan sudah mengenakan sabuk pengaman.
"Saya di sini, karena enggak mungkin pakai mobil saya. Saya malu," kata Yogi sambil melirik mobil sport merah miliknya.
Tedi pasrah dan akhirnya ia melajukan mobil miliknya. harapan dan apa yang ada di benak Tedi seketika saja musnah. Tadi ia membayangkan akan menjalani hari yang menyenangkan bersama dengan Bebe dan juga Rei. Namun, kini nyatanya, ada seorang pengganggu yang duduk tepat di sampingnya.
Sepeninggal Tedi, sebuah mobil melaju dan terhenti tepat di depan kontrakan Rei. Kaca mobil itu terbuka dan terlihat Deff menatap rumah sang mantan istri. Ia kemudian melihat mobil yogi yang terparkir.
"Rupayanya dia udah ada seseorang?" Deff tak mengenali mobil Yogi, karena bukan mobil yang biasa digunakan Yogi ke kantor.
Pria itu terdian beberapa saat di depan rumah Rei. Sejak melihat foto Bebe, perasaannya semakin tak keruan. Ia ingin menghindar, tapi sulit sekali. Dan karena hal itu, akhirnya memutuskan untuk menghampiri rumah mantan istri yang ia tinggalkan. Berharap bisa melihat Bebe, meski hanya dari luar. Ia menunggu cukup lama, sebelum akhirnya memilih pergi meninggalkan lokasi.
Hari libur ini, ibu kota tak terlalu ramai. Tedi bisa melajukan mobilnya dengan lancar menuju tempat tujuan mereka.
"Pak Seaworld tutup deh. Tadi aku mau beli tiket online ternyata tutup. Lagi pembersihan katanya." Rei memberitahu. Dia memang suka mengecek di internet jika ingin bepergian.
"Kok kamu malah mau beli tiket sih? kan aku yang niat ajak kalian."Tedi bertanya karena sedikit kecewa Rei malah ingin membeli tiket sendiri.
Rei jadi tak enak ia hanya tak ingin menyusahkan.
Tedi menatap dari kaca dasboard. "Bebe jadi mau ke taman safari sayang? Soalnya seaworldnya tutup." tanta Tedi lagi.
"Ada juga kok lumba-lumba di sana." Rei juga coba membujuk tak ingin buah hatinya itu kecewa.
"Ada Mi?" tanya Bebe.
"Ada sayang, di sana juga ada pertunjukan Berang-berang laut." Rei menambahkan.
"Kalau gitu Bebe mau mami." Bebe menjawab dan itu membuat Tedi merasa tenang.
"Emangnya ada berang-berang darat Rei?" tanya Yogi dengan nada yang menyebalkan. Itu keceplosan, dia memang suka sekali menyela seperti itu.
"Buaya darat ada Pak," sahut Rei kesal.
Yogi menoleh ke belakang, kemudian terkekeh. "Marah kamu?" tanya Yogi.
"Terserah bapak aja lah."
Senyum Yogi menghilang. "Susah banget panggil saya Mas. Kalau sama Pak Tedi lancar kamu." Yogi kini malah protes.
Rei hanya gelengkan kepala. Bingung bagaimana harus menanggapi dalam situasi seperti ini.
Kemudian yang ada di dalam mobil hanya hening tak banyak yang dibicarakan. Yang terdengar sejak tadi hanyalah, Bebe yang sibuk bernyanyi lagu anak-anak. Rei tak ingin banyak bicara, takut kalau ia akan menyinggung salah satu di antara kedua pria di depannya.
Sampai tiba di taman safari, mobil Tedi berhenti tepat di depan loket. Seorang penjaga menghampiri, menyapa dengan sopan dan memberikan salam.
"Berapa orang Pak?" tanya pria itu.
"Empat," jawab Tedi seraya mengeluarkan kartu mliknya. Di saat yang sama, Yogi juga mengeluarkan karti debit miliknya. Mereka saling sikut datu sama lain. Hal itu membuat Bebe tertawa melihat kelakuan kedua bayi besar itu yang saling sikut-sikutan. Mereka sama- sama ingin mempertahankan harga diri dengan ingin membayar tiket masuk.
Rei gelengkan kepala, ia sudah membaca harga tiket tadi, dengan cepat mengambil dompet dan mengeluarkan cash miliknya. Ia lalu berjalan ke luar dan memberikan uang tersebut. Hal itu membuat Tedi dan Yogi berhenti sikut-sikutan.
Tedi baru saja akan keluar dari mobilnya, hanya saja dengan cepat Rei menutup pintu mobil Tedi. Rei menahan pria itu keluar dari mobil. Yogi terkekeh setelah melihat apa yang dilakukan ioleh Rei.
"Jangan aneh-aneh Mas. kita jalan aja langsung. Kasian mobil di belakang." Rei ketus, dia kesal dengan kelakuan kedua laki-laki yang bertingkah layaknya anak kecil.
Tedi memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh wanita itu. Dia kemudian duduk di kursi ke mobil, menunggu Rei masuk dalam mobil dan segera melajukan mobilnya ke dalam.
"Kamu jadinya yang bayar?" tanya Tedi merasa bersalah.
"Nggak apa-apa mas. Lagian kalau nungguin Mas Tedi atau Mas Yogi— nggak tahu kapan kita bisa jalan dan masuk ke dalam. Soalnya kalian ribut kayak gitu dari tadi. Kasihan juga mobil di belakang kalau harus nunggu kelamaan," jawab Rei.
Dengan rasa bersalah Tedi kemudian melajukan mobilnya ke masuk ke arena. "Nanti kita bisa lihat hewan banyak Bebe."
Bebe anggukan kepalanya dengan antusias. "Nanti ada singa sama macan juga ya Om?"
"Iya, ada rusa, ada kuda, ada banteng pokoknya banyak hewan di sini." Itu adalah suara Yogi yang tak mau kalah. Dia juga mau berbicara dan mengobrol tidak hanya diam.
***