~2~ Pagi Romantis Vs Rusuh

2885 Kata
Senin, 06:30 a.m Raka mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha beradaptasi dengan cahaya mentari yang menerobos masuk melalui celah jendela di samping tempat tidurnya. Tidak biasanya ia bangun secepat ini, bukan karena cahaya yang mengganggu, melainkan karena bau harum masakan yang menggoda indra penciumannya. Hal yang sangat jarang terjadi mengingat hanya ibunya yang mampu menyiapkan sarapan dengan harum memikat, membuat siapapun yang tertidur pulas segenap meninggalkan lelap. Cowok itu beranjak dari kasur lalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Ia juga mengambil kaos yang tergeletak sembarangan di kursi untuk menutupi tubuh proporsionalnya yang kerap ia biarkan topless saat tidur. Raka berjalan mengikuti aroma wangi yang seolah menuntunnya. Semakin ia mendekat, maka wanginya semakin kuat. Samar-samar Ia juga mendengar seseorang tengah bersiul riang dari arah dapur. Siapapun itu, tampaknya Ia begitu menikmati apa yang sedang dikerjakannya. Tak butuh waktu lama bagi cowok blasteran Indo-Amerika itu untuk mengetahui sang pemilik suara, karena pemandangan indah seorang pemuda dengan tubuh ramping, mengenakkan kaos big Size berwarna peach, dan di permanis oleh celemek bermotif bunga-bunga serta celana pendek putih yang memperlihatkan kaki-kaki jenjangnya menyapa indra penglihatan Raka. Ia terpesona lagi, persis seperti saat pertama kali Ia melihatnya. Berapa banyak sebenarnya pesona yang anak ini miliki? Rasanya tidak habis Raka dibuat terperangah olehnya. Mengapa seorang pria bisa terlihat begitu menggoda ? Pikir Raka bertanya-tanya sembari memijat kening untuk menenangkan diri. Ia tidak ingin terpengaruh oleh perkataan ibunya yang sama sekali tidak masuk akal dan agak gila. " Mas Raka sudah bangun toh ? Eeh...Raka maksud saya ." Ralat Daru ketika pemuda ramping berparas manis itu melihat sosok pemuda tampan yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Rambut Raka masih sedikit berantakan membuatnya terlihat makin tampan. Ia tersenyum kecil lalu mengambil tempat di kursi makan yang menghadap ke arah counter dapur, tepat di tempat Daru sedang berdiri memegang sutelnya dan memamerkan kedua lesung pipinya. Entah disengaja atau tidak, terlintas pikiran "We Like Newlywedd Couple" di kepala Raka, namun secepat kilat ia mengusap gusar wajahnya untuk mengenyahkan pikiran itu. Ibunya harus bertanggung jawab untuk semua pikiran gilanya ini. Ya! Dia jelas harus bertanggung jawab!! " Masak apa? Harum banget ." tanya Raka memecah keheningan. Jika berdiam diri terus Ia tidak tahu pikiran kotor apalagi yang akan menghantui kepalanya. " Nasi goreng Ommelet Ka, tapi kalau Raka nda' suka, aku bisa buatin yang laen ." Jawab Daru sedikit canggung, takut kalau Raka tidak puas dengan masakannya lalu menyewa pembantu dan membuat Daru tidak bisa menebus kebaikan sang empunya rumah. " No problem, I'll eat ." Mendengar jawaban Raka, tanpa pikir panjang, anak itu kembali melanjutkan aktivitas memasaknya, mengabaikan Raka yang tidak mengalihkan pandangan sedikit pun darinya. Tak lama kemudian, hidangan ommelet menghiasi kedua piring makan mereka. Daru juga menyiapkan kopi khusus untuk Raka setelah pemuda itu memberitahunya bahwa Ia hanya meminum kopi, sementara Ia sendiri meminum segelas s**u murni di pagi hari. Daru dan adiknya dibiasakan untuk mengkonsumsi s**u sapi segar sejak mereka kecil oleh sang nenek, maka dari itu, hingga beranjak remaja, s**u menjadi satu-satunya minuman favorit Daru. Raka mulai menyuapkan sesendok ommelet di mulutnya, sementara di sebelahnya Daru tengah memperhatikan dengan perasaan was-was dan sedikit tegang. Anak itu sama sekali tidak menyentuh makanannya sebelum ia memastikan bahwa 'The other party is satisfied with his Cook'.  Tingkah Daru begitu menggemaskan, hingga Raka yang menyadarinya dengan sangat jelas tergoda untuk mengganggunya. Ia mengernyitkan dahi lalu menatap Daru dengan tajam. "Lo tau gak?  Ini pertama kalinya gue makan makanan yang rasanya kayak gini ." Ujar Raka dingin sembari menaruh kembali sendok dan melipat kedua tangannya. Tampak ia memasang ekspresi kecewa, di tambah lagi suaranya sengaja Ia buat tegas dan mengintimidasi. Keringat mulai muncul di kening Daru, ia menunduk dalam-dalam, takut melihat wajah pemuda disampingnya. Padahal tanpa sepengetahuannya, kini pemuda itu tengah tersenyum jahil. Raka tidak menyangka selain manis, Daru juga sangat polos. "Ma...maafkan aku." Hanya kata-kata itu yang meluncur dari mulut Daru, suaranya sedikit bergetar. Tahu jika korbannya mulai gelisah, bukannya luluh, Raka malah sengaja menambah suram suasana. " Lo tau gak Makanan buatan lo ini sangat...." Raka memotong ucapannya tanpa melepaskan pandangan sedikitpun dari korban kejahilannya. Sudah lama ia tidak menikmati mengganggu seseorang, memiliki Daru di rumah seperti memiliki adik kecil polos untuk di jahili setiap hari. Daru memiliki berbagai macam ekspresi dan emosi yang kerap di tunjukkannya dengan sangat gamblang, berbeda dengan Raka, pria itu tidak terlalu suka menunjukkan perasaannya kepada siapapun, ia suka menutup rapat-rapat apa yang menjadi beban pikiran serta perasaannya terhadap seseorang. Bahkan tak satupun dari mantannya yang betul-betul mengenal dirinya, tak satupun dari mereka berhasil membuat Raka luluh dan menunjukkan sifat asli serta pikiran-pikirannya. Meskipun ia tipe pria yang akan memberi perhatian penuh, dan menuruti keinginan sang pacar, Raka tak pernah sekalipun meminta, bahkan memohon. Bagi Raka, orang yang mampu menunjukkan berbagai ekspresi dan jujur dengan apa yang dirasakannya sangatlah menarik, juga hebat. Ia sangat mengapresiasi tipe orang seperti itu. "ENAK!!  Ini Ommelet ter-enak yang pernah gue makan, bahkan nyokap gue gak bisa bikin se-enak ini !" Raka mengacak-acak gemas rambut Daru, anak itu sangat lucu dengan ekspresi takutnya. Ia tertawa bahagia karena telah berhasil menjahili Daru dan membuat anak itu hampir menangis. Akh Daru ini masih awal, masih banyak kejahilan yang akan menunggumu di masa depan. " Don't Cry okey, I'm just kidding, hhhh..," Daru mengangkat wajah, ia memanyunkan bibir mungilnya tanda bahwa dirinya sedikit kesal tapi betapa terkejutnya ia ketika melihat pria tampan di depannya tertawa lepas. Tampak Raka sangat menikmati apa yang telah dilakukannya, karena melihat tingkah Raka yang seperti itu, Daru tidak jadi kesal, ia malah ikut tertawa lalu membalas pemuda itu dengan meninju kecil lengannya. "Oke...oke cukup, cepat habisin sarapan lo. lo mau upacara penerimaan mahasiswa baru kan, gak boleh telat tuh, nanti gue yang anterin." Daru mengangguk penuh semangat lalu melanjutkan sarapannya. Mereka menghabiskan sisa makanan dengan sesekali bersenda gurau dan tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, sesuatu mulai tumbuh di hati mereka masing-masing. Sesuatu yang nantinya akan membuat mereka memilih, untuk mempertahankan atau melepasnya pergi. *** "Gue pulang agak sorean yah Ru, nih kunci rumah lo pegang." Raka menyerahkan satu kunci cadangan rumahnya pada Daru yang hendak turun dari Wrangler-nya, Daru menerimanya kemudian ia meraih tangan Raka dan menempelkannya di kening. Hal yang membuat Raka cukup kaget, gak nyangka anak itu bakal salim. Emangnya dia bapak-bapak yang lagi ngantar anaknya ke kampus apa? Benar-benar deh anak ini, penuh kejutan. Sepertinya hari-hari gue bareng dia bakal menyenangkan nih. Batin Raka senang. "Makasih udah diantar ya Ka ..." Senyum manis menghiasi wajah Daru sampai akhirnya dia turun dan berjalan pergi meninggalkan Raka yang masih menatapnya tidak percaya. "Zaman kayak gini masih ada aja yang sesopan dia ." Ujar Raka sembari menggeleng-gelengkan kepala dan melaju meninggalkan wilayah IKJ. Pemuda tampan itu memacu mobilnya menuju ke salah satu rumah sahabatnya untuk membunuh waktu hingga jam kuliahnya tiba. Ia memiliki 4 orang sahabat dekat yang telah berjuang bersamanya sejak menjadi Mahasiswa Baru hingga bangkotan di kampus. Galih, pemuda tampan dengan wajah oriental, dia yang paling dewasa dan otaknya encer diantara mereka ber-lima, Galih tipe pria yang mampu mengontrol suasana, dimanapun dia berada, keadaan rusuh sekalipun dapat dibuat menjadi aman terkendali, Ardhan, cowok yang memiliki wajah biasa-biasa saja, tapi siapa sangka ia yang paling playboy diantara mereka, Ardhan tipe cowok supel dan humoris yang mampu membuat siapapun nyaman berada di dekatnya, tidak heran para wanita bertekuk lutut padanya, Aro, cowok paling preman di kampus, ia menghabiskan waktu lebih banyak di belantara hutan Kalimantan ketimbang duduk manis di kelas mendengarkan kuliah, sudah sejak lama ia bergabung di Komunitas pecinta alam dan menjadi Mahasiswa sama sekali tidak menghalangi dirinya untuk terbang bebas, dan yang terakhir Putra, cowok super melankolis, manja, dan perasa, maklum dia anak satu-satunya dari pasangan Pengusaha kondang di Jakarta, tak heran kalau dia yang paling tajir diantara mereka, dan juga yang paling egois tentu saja. Raka memilih rumah Ardhan untuk dijadikan tempat singgah, mengingat rumah sahabatnya itu memiliki jarak paling dekat dari rumahnya. Rumah Ardhan tidak sebesar milik Raka, tapi ibunya yang pecinta kebersihan dan tanaman  berhasil menyulap rumah sederhana itu menjadi tempat yang indah, karena itu rumahnya dijadikan tempat nongkrong kedua setelah rumah gedong Putra. Bunda Ardhan tengah menyiram bunga-bunga kesayangannya saat mobil Raka berhenti tepat di depan rumah asri mereka. Wanita paruh baya dengan wajah yang masih cantik dan segar sehabis mandi itu segera membuka pagar lalu menyapa sahabat anaknya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Ia juga langsung menggandeng tangan Raka saat pemuda tampan itu turun dari mobil lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah. "Tumben kamu datengnya jam segini nak, mama mu ada di rumah ?" tanya Tante Resha, heran melihat Raka yang sudah menginjakkan kakinya pagi-pagi sekali di rumah mereka. Tante Resha sudah tahu bahwa Raka bukan tipe 'Morning Person' sama seperti putranya, kecuali ibunya sedang berada di rumah dan membangunkannya dengan teriakan nyaring di pagi hari. " Mom masih di Amerika kok tan, tapi ada anak temannya yang numpang tinggal di rumah, tadi aku abis nganterin dia ke kampus." Mendengar jawaban Raka, Bunda Ardhan hanya mengangguk paham. " Kamu udah makan sayang? Tante buat sarapan tuh di dapur, Ardhan juga masih tidur." " Udah kok tan, makasih yah. Nanti biar Aku yang nyeret Ardhan turun dari tempat tidurnya key.." Tante Resha menepuk-nepuk punggung Raka sembari tersenyum senang karena pagi ini ada yang membantunya untuk membangunkan anak malasnya. Tante Resha pun kembali ke halaman depan setelah menyerahkan tanggung jawabnya kepada Raka, kini pemuda tampan yang telah menjadi sahabat anaknya selama bertahun-tahun itu menghilang ke lantai dua, tempat kamar satu-satunya berada yaitu kamar Ardhan. Posisi tidur Ardhan sangat menjijikkan di mata Raka. Ia hanya mengenakkan boxer coklat pendek sebagai kain satu-satunya yang menutupi tubuh kekarnya. Kakinya di buka lebar-lebar lalu satu tangannya menggaruk-garuk bagian pahanya sementara ia masih tertidur lelap. Raka yang melihat itu rasanya ingin menyiram Ardhan dengan seember air. Tapi alih-alih mengambil air di kamar mandi, otak jahilnya mulai bekerja dan menyuruhnya untuk mengambil sepatu boot hitam yang tergeletak tak berdaya di belakang pintu kamar. Sepatu boot kumal itu di bawanya menuju ke tempat Ardhan terlelap. Raka mengelus-ngelus pipi Ardhan sembari menahan tawa, ia berencana untuk membuat Ardhan mencium sepatu itu layaknya ia mencium seorang wanita kemudian merekamnya. "Ardhan sayaaang...banguun doong~~" goda Raka, yang kini mengubah suara seraknya selembut dan secentil wanita. Ia masih mengelus pipi Ardhan, hingga membuat pria itu tersenyum kegelian namun matanya masih tertutup. "Kalau gak mau banguuun akuu ciuum yaah ~~" Raka mengangangkat sepatu boot yang di pegangnya lalu di letakkannya tepat di wajah Ardhan. Bukannya malah bangun dan melempar sepatu itu, Ardhan malah menempelkannya semakin erat dan mulai menciuminya. Tanpa pikir panjang, Raka mengambil ponsel di saku celananya lalu mengabadikan momment b******u sahabatnya dengan sepatu. "Sakit lo Dhan, biar kata ni sepatu, Lo embat juga!" Ucap Raka sembari menahan kekehannya. Setelah puas merekam, Raka mengambil bantal lalu menghantamkannya keras-keras ke wajah Ardhan, sontak sahabatnya itu terduduk dengan sepatu yang masih menempel mesra di bibirnya. "F**K, RAKA KAMPRET LO!!!" Ardhan melempar sepatu itu ke ujung ruangan, ia mengusap-ngusap bibirnya dan meludahkan pasir yang sedikit masuk ke mulutnya. "Hahahaha...lagian jadi cowok h***y-AN banget lo!!" "Kampret!!  Ngapain sih lo ada disini jam segini? Ganggu orang lagi mimpi indah aja." Raka memutar bola mata, ia kemudian mengehempaskan pantatnya di kursi depan meja belajar Ardhan. " Tadi gue habis ngantar temen ." Ardhan yang sudah mengenakkan kaosnya mengangkat sebelah alis, temen? Gak biasanya nih anak mau keluar rumah pagi-pagi cuma buat ngantar temen, kecuali yang dia maksud 'Temen' itu calon pacarnya dia. Ujar Ardhan dalam hati. "Oooooh.. gue tau nih yee, kemaren lo gak ikut ngumpul bareng kita gegara "TEMEN" lo yang misterius ini?  Siapa sih? Cantik gak? Kite-kite kenal gak?" Senyuman centil mulai menghiasi wajah Ardhan yang kusut pasca bangun tidur. "Iya 'CANTIK', dia tinggal di rumah gue, tadi aja dia masakin gue sarapan 'ENAK' bangeet. Masakan nyokap kalah!" Mendengar penjelasan Raka yang sedikit di lebay-lebaykan membuat Ardhan bengong, bingung antara mau percaya atau tidak. "Gue serius kunyu', kita dah sahabatan berapa taon?  Sejak kapan lo biarin cewek tinggal di rumah lo trus lo anter-anter gitu." "Gue gak inget bilang kalau dia "CEWEK" Dhan." Ardhan diam membatu, Ia menatap ngeri sahabatnya yang kini sedang asik mengutak atik laptop. " Sumpah lo bikin gue takut Ka', gue tau kalau hubungan lo yang kemaren gak sesuai harapan tapi...Lo jangan 'BELOK' dong.. nanti gue kenalin deh sama temen Cewek gue yaah..." Ujar Ardhan panik. Dia memang bukan homophobia tapi tetap saja, kalau ada salah satu dari sahabatnya yang tiba-tiba berubah haluan, sahabat mana yang bakal rela. Mendengar panik-panikan sepihak Ardhan membuat Tawa Raka meledak, nih anak gampang banget di Bego'in. Pikirnya " Dia anak temen nyokap gue, namanya Daru, Maba di IKJ, karena rumah gue deket dari kampusnya jadi nyokap minta dia buat tinggal disana. Kemaren gue jemput dia di bandara terus tadi pagi ngantar dia ke kampus." Papar Raka menjelaskan. Sebenarnya apa yang ia katakan tentang Daru sama sekali tak ada yang salah, Daru manis meski tidak cantik seperti yang Raka bilang, dia juga pintar masak, so Ia sama sekali tidak bohong kan ?! " Oh...gue kirain beneran 'Hot Chick', kalau gitu lo kudu kenalin kite-kite ke tuh anak, siapa tahu dia bisa comblangin kite ke cewek-cewek IKJ yang masih fresh. Gue denger mahasiswi seni pada cakep-cakep." Ardhan mulai senyum-senyum gak jelas sembari berkhayal mengencani cewek IKJ yang sudah menjadi impiannya sejak lama. Dia pernah beberapa kali berkencan dengan cewek di luar kampus, tapi tidak pernah sekalipun berkencan dengan cewek dari salah satu Institut yang terkenal di Indonesia itu. Ardhan cukup penasaran karena Ia sering mendengar desas-desus tentang betapa cantik dan karismatiknya para pekerja seni di sana, khususnya perempuan. " Ganjen banget sih Lo nyet, bikin malu aja...udah sono mandi, Putra bbm gue, minta di jemput sama lo katanya." "Tuh anak dah kayak cewek gue aja, tiap hari minta jemput." protes Ardhan. "Lo lagi jomblo kan, lah pacarin aja tuh si Putra, gue restuin !" Bantal bersarang di wajah Raka setelah dia selesai ngomong, tapi Ardhan sudah berlari masuk ke kamar mandi sebelum Raka sempat balas melemparnya dengan sepatu. Sembari menunggu sahabat playboy-nya yang sedang mandi, Raka iseng membuka-buka lama web di laptop Ardhan. Ia hendak men-searching jadwal pertandingan bola yang ingin di tontonnya sebentar malam, namun tanpa sengaja Ia membuka halaman sebuah artikel lewat yang membahas tentang Gay. Bulu kuduk Raka seketika merinding, dan bayangan wajah Daru tiba-tiba saja melintas di kepalanya. Entah kenapa sejak kedatangan pemuda manis itu, meski baru kemarin, Raka mulai merasakan hal-hal aneh. Bukan hal yang bersifat mistis, bukan, tapi tetap saja, Raka merasa ada sebuah rasa asing yang hinggap di hatinya, namun Ia tidak bisa mendeskripsikan rasa itu. Ada rasa senang, excited, juga perasaan rindu yang tiba-tiba muncul. Mungkin efek putusnya dari Dinda masih membekas, secara Raka pernah sangat menyayanginya. Ia bahkan telah membayangkan masa depannya bersama Dinda setelah lulus nanti, namun sayang bayangannya itu kini hilang tak berbekas. Terkadang cinta memang sulit untuk di tebak. Ia dapat membuatmu terbuai hingga lupa pulang, namun saat Ia berkhianat benci datang seolah tak mau berkompromi. " Gak nyangka, ternyata banyak juga cowok yang belok." gumam Raka yang telah melupakan niatnya untuk men-searching jadwal bola. Sekarang Ia malah asik membaca pengalaman para kaum pelangi, mulai dari yang awalnya straight berubah jadi gay karena coba-coba, sampai yang berubah karena pernah diperkosa. Raka tidak menyangka begitu banyak kejadian kelam yang mereka alami. Padahal selama ini Ia pikir mereka itu gila, gila karena cinta sampai tidak memandang gender.  " Bro gua udah selesai ni! Lo masih mau tinggal atau ikut cabut?!" tanya Ardhan yang ternyata sudah selesai mandi sejak tadi, bahkan Ia juga sudah berpakaian rapi di belakang Raka. Saking asyiknya membaca, Raka sampai tidak sadar akan kehadiran sahabatnya. " Lo duluan aja, lagian Lo masih mau jemput si Putra kan." Jawab Raka tanpa mengalihkan sedikit pun pandangan dari layar laptop. " Ya udeh kalo gitu gua duluan! Awas lo jangan nonton bokep di laptop gua ye, bisa mampus gue kalo kedapetan nyokap lagi!" Ardhan memperingati Raka akibat kejadian kurang mengenakkan yang pernah di alaminya, tanpa sengaja sang bunda pernah mendapati video bokep Ardhan yang masih menyala di laptopnya. Padahal waktu itu sepupunya Theo yang masih kecil sedang bermain di kamarnya. Alhasil sang bunda murka kemudian menghapus seluruh video yang ada di folder laptop Ardhan. Eits jangan salah, Tante Resha bukan ibu-ibu yang gagap teknologi, jadi jangan pernah mengaggap remeh dirinya.  Bundanya juga sempat tidak mengajaknya bicara selama seminggu yang bagi Ardhan terasa seperti neraka. Ia lebih baik tidak berbicara dengan pacarnya selama berbulan-bulan ketimbang tidak bicara pada bundanya barang sehari. Karena selain tidak di ajak berbicara a.k.a di cuekin, Ia juga sama sekali tidak mendapat uang saku, jatah kuota, plus tidak ada makan pagi, siang, dan malam untuknya. Sadis memang tapi itulah yang di sebut "the power of emak-emak" kan ! " Iya iya gue ngerti, udah sono buruan pergi, entar lagi gue nyusul !" Entah berapa lama Raka tinggal di kamar Ardhan untuk membaca artikel-artikel itu, Ia hanya penasaran, tidak lebih. Ia masih bertanya-tanya bagaimana bisa seorang pria mencintai pria lain ? Baginya sangat tidak masuk akal, aneh. Ia tidak akan pernah mengerti sampai Ia benar-benar merasakannya, namun Raka menolak untuk membayangkan, Ia geli, hingga akhirnya Ia memutuskan untuk menutup laptop Ardhan dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan seputar "same s*x relationship" yang baru di baca-nya menggantung dalam pikirannya. Tidak penting juga buat dia tahu, toh Raka pikir sampai saat ini dia normal. Tidak pernah sekalipun Ia menganggap seorang pria menarik, atau dia sudah pernah melakukannya ?! yah tampaknya Raka lupa jika di hari pertama Ia bertemu Daru, Ia mengakui bahwa anak itu terlihat sangat menarik. To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN