~3~ Bestfriends

2288 Kata
Pagi ini halaman kampus IKJ dipenuhi oleh Mahasiswa-mahasiswi baru yang mengenakkan pakaian hitam putih. Di hari pertama mereka, kampus memang mewajibakan bagi Mabanya untuk mengenakkan pakaian tersebut. Para Maba juga bisa dengan mudahnya dikenali karena kebiasaan mereka berkelompok di tahun pertama kuliah, kecuali Daru yang belum menemukan seorang temanpun untuk diajak barengan. Pemuda manis bertubuh ramping itu melangkah canggung melewati halaman kampus menuju ke Aula tempat upacara penerimaan Mahasiswa baru di gelar. Sejauh mata memandang, Ia dapat melihat pakaian hitam putih berseliweran. Hanya sedikit senior yang tampak, mengingat ini masih pagi, hanya senior-senior yang menjadi panitia yang memenuhi sekitar gedung. " Wah luas sekali ," gumam Daru takjub. Ia yang biasanya hanya melihat review kampus ini dari Internet akhirnya bisa menginjakkan kakinya disini, bagaimana dia tidak excited ?! Saking excitednya, Ia sampai tidak menyadari ada seseorang yang menghampirinya. "Hai...sendirian ajaa?!" Daru terlonjak kaget ketika seseorang menepuk bahunya perlahan. Ia berbalik dan mendapati sosok mungil sedang berdiri dengan seyuman lebar menghiasi wajahnya. Si mungil juga mengenakkan pakaian hitam putih sama sepertinya, jadi Daru menduga bahwa Ia juga Mahasiswa baru disini. "Ah...iya, Saya Daru." Daru mengulurkan tangan kepada pemuda mungil yang terlihat seperti hamster di matanya, di tambah lagi gigi kelincinya mencuat lucu saat ia tersenyum. Imut sekalii. " Gue Alvin...salam kenal yah," Pemuda imut yang bernama Alvin itu menyambut uluran tangan Daru, ia kemudian mengajak Daru untuk sama-sama pergi ke Aula, karena tak satupun dari mereka memiliki orang yang dikenal disana. "Kamu fakultas apa Ru?" Tanya Alvin riang. Ia tampak sangat energik terlihat dari langkahnya yang sedikit meloncat di sebelah Daru. Berbeda dengan saat pertama kali bertemu Raka, Daru merasa ada aura dingin yang menyelimuti pemuda tampan itu, namun dengan Alvin, auranya lebih hangat. " Seni Rupa, kalau kamu ?" "Waah seriusan ?!! Sama dooong, gue juga ngambil rupa !" Alvin tampak lebih bersemangat sekarang, Ia bahkan mulai menggandeng lengan Daru. " Nanti kita pilih mata kuliahnya bareng yah !!" Daru mengangguk tak kalah semangat. Ia senang sekali karena sekarang tidak sendirian, Alvin juga punya interest yang sama dengannya meski gaya serta tingkahnya jauh lebih eksentrik dari Daru, namun pemuda manis itu mulai menyukainya, gaya Alvin mirip dengan Asih, membuat Daru merasa nyaman. Mereka sudah sampai di Aula tempat kumpul, dan keduanya mengambil tempat duduk di bagian tengah agar bisa lebih jelas mendengarkan instruksi nantinya. Cukup lama mereka menunggu hingga Aula dipenuhi oleh seluruh Mahasiswa baru juga Pak Rektor yang hendak memulai "speech"-nya di depan sana. " Kayaknya ini bakal lama deh ..." bisik Alvin di samping Daru. Ia memang bukan tipe orang yang tahan duduk lama, apalagi untuk mendengarkan ceramah panjang lebar. Sementara Daru khusyuk mendengarkan, Alvin mulai bertingkah di sebelahnya. Ia bergerak tidak tenang, "Bdw disini panas banget, Ac-nya fungsi gak sih?" keluh Alvin sembari mengipas-ngipas wajah dengan selebaran yang di bagikan. " Kamu seng sabar yah Vin, kayaknya bentar lagi udah kelar iki ." Daru berusaha menenangkan teman barunya, Ia tidak ingin Alvin di tegur oleh panitia karena tingkahnya yang menarik perhatian, kasihan kalau di hari pertama mereka mennginjakkan kaki di kampus Ia sudah mendapat masalah. " Lagian Pak Rektor ceramahnya lama amat sih, gak tau apa kalau kita disini udah kepanasan, mana gue laper lagi !" bukannya tenang, Alvin malah tambah mengeluh, hingga menarik perhatian salah seorang panitia yang melintas tidak jauh dari tempat mereka duduk. "Hei yang disana!! Kalau mau ribut, sana keluar!!" Alvin seketika langsung menunduk dalam-dalam, namun bukannya takut, Ia malah tertawa cekikian. Daru sampai heran melihatnya. Teman mungilnya yang satu ini memang ajaib, kalau Daru mungkin sudah ketakutan, Ia tidak akan berani berbicara serta mengangkat wajah lagi, tapi Alvin beda, Ia masih saja mengoceh. "Kakak itu lucu deh, mukanya gak cocok banget buat marah." Daru hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Alvin. " Sst...kamu jangan ribut Vin, nanti di tegur lagi loh," bisik Daru pelan. Ia benar-benar takut jika kakak panitia tadi kembali melintas. Setelah beberapa menit berselang, akhirnya Pak Rektor mengucapkan kata-kata sambutan terakhirnya, "Selamat Datang di Kehidupan kampus para Seniman Muda, ayo kita beri warna pada dunia dan jangan pernah berhenti untuk BERKREASI !!" Ucap Pak Rektor diikuti dengan tepukan meriah di seluruh aula. "Ooh...Akhirnyaaaaa.....," Alvin menghelas napas lega dan merenggangkan otot-ototnya. Dia sudah hampir gila di dalam sana, seluruh wajahnya sudah memerah karena panas, bajunya juga sudah basah oleh keringat. Daru-pun seperti itu, tapi dia jauh lebih sabar dari Alvin. "SELAMAT DATANG DI KEHIDUPAN KAMPUS TEMAN-TEMAN!!" Seru Alvin bahagia mengikuti ucapan yang disampaikan Rektor . Sepertinya urat malu anak itu sudah putus, Ia sama sekali tidak peduli dengan pandangan aneh orang-orang di sekitarnya, bahkan ada yang terang-terangan menunjukkan tatapan tidak suka. Alvin sih masa bodoh, tapi tidak dengan Daru. Ia segera menarik anak itu untuk duduk kembali dan menutup mulutnya. Daru sungguh tidak ingin Alvin terkena masalah, Ia terlalu perhatian, sementara yang diperhatikan sama sekali tidak peduli. Hari ini, Daru mendapatkan teman yang yang ajaib plus merepotkan rupanya. *** Piiiip...piiiip...piiip Ardhan memencet klakson mobilnya berkali-kali saat tiba di depan rumah gedong dengan pagar tinggi menjulang bak penjara. Seorang satpam menengok keluar dari jendela pos, mendengar suara klakson yang terkesan sangat tidak sabaran itu. Ia tersenyum hormat saat melihat mobil Ardhan, dan tanpa pikir panjang membuka pagar menggunakan remote. Seketika, Pagar itu bergeser membuka dengan sendirinya. Berkelas sekali. "Siang Pak Dhi!" Sapa Ardhan pada Bapak-bapak Paruh baya yang telah bertahun-tahun mengabdi di keluarga Putra sebagai satpam. Pak Dhi memiliki wajah ramah khas pecinta anak-anak alih-alih tampang sangar milik satpam rumah gedong pada umumnya. Kata Putra, orang tuanya memilih Pak Dhi sebagai satpam karena ia pernah menolong Ayahnya yang hampir di begal di Jalanan. "Siang Den, ayo masuk..., Den Putra dari tadi udah nungguin loh." Ardhan mengangguk sopan sambil tersenyum kemudian memacu mobilnya menelusuri halaman rumah Putra yang luasnya setara Kebun Raya Bogor. Di sekeliling halaman rumah raksasa itu di tumbuhi oleh pinus-pinus ramping, serta bebrapa jenis pohon seperti mangga, dan rambutan yang  membuat udara di sekitarnya menjadi sejuk. Petak-petak mawar berbagai warna juga turut menghiasi bagian tengah halaman, melingkar sepanjang Air mancur Raksasa berhias patung mermaid yang sedang menyisir rambut. Setelah membawa mobilnya cukup jauh melewati halaman, akhirnya rumah putra kelihatan juga. Rumahnya berdiri menjulang dengan 4 pilar yang menyangga teras depannya, dihiasi tangga naik melingkar cukup tinggi hingga ke teras, layaknya Katedral megah. Tampak Putra tengah berdiri menunggu di puncak tangga. Terlihat seperti putri yang menunggu kedatangan Sang Pangeran.  Wajahnya bersinar secerah mentari, senyuman manis mengembang di bibirnya saat melihat mobil Ardhan berhenti di halaman depan. Putra berlari kecil menuruni tangga, ia mengenakkan kemeja putih rapi, dengan celana jeans hitam dan sepatu Sneakers putih. Ia tampak sangat tampan dan elegan. "Ciiih...You're so damn rich Prince!!" Seru Ardhan kesal dalam hati melihat gaya sahabatnya yang berdiri di puncak tangga layaknya menunggu pangeran berkuda putih untuk membawanya kabur dari kastil raksasa. Hampir setiap hari Ia menjemput Putra di rumahnya, dan hampir setiap hari juga Ardhan dibuat kesal oleh tingkah sahabatnya yang satu itu. Ardhan merasa repot jika harus menjemput Putra terus padahal ia bisa memakai jasa supir untuk mengantarnya kemanapun yang ia inginkan, dan yang membuat Ardhan kesal, karena hanya dia yang selalu di suruh untuk menjemput, Putra tidak pernah menyuruh yang lainnya kecuali terpaksa, lalu jika ditanya ia selalu bilang tidak ingin merepotkan, terus bagaimana dengannya ? Protes Ardhan dalam hati, sudah bukan merepotkan lagi namanya, tapi menyusahkan ! "Akhirnya lo dateng juga Dhan, aku nungguin dari tadi looh...," Ujar Putra memelas ketika ia telah menghempaskan bokongnya di mobil Ardhan. Ardhan menatapnya sedikit kesal. Nih anak udah di jemput, masih aja ngeluh. " Lagian lo kenapa gak minta antar sopir aja sih ? Sopir lo pada makan gaji buta tuh kalo gak lo manfaatin, atau Lo juga bisa bawa mobil sendiri kan!" "Yaa...Maafin gue Dhan, gue cuma gak suka di mobil sendirian. Gak ada yang bisa diajak ngobrol, sopir gue pada gak asik, terus kalo gue bawa mobil sendiri, gue ngelamun lagi dan tabrakan kayak waktu itu kan lo ma anak2 juga yang sediiih...," lagi-lagi alasan itu, kalau sudah pakai alasan yang satu itu, Ardhan tidak bisa menolak. Putra memang pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya harus di rawat selama seminggu di rumah sakit, kecelakaannya memang tidak parah tapi mengingat Putra anak semata wayang, orang tuanya hampir gila akibat insiden itu. "Sekali-kali minta jemput Aro, galih, tau Raka kek...kok gue teruuussss..., kapan gue bisa bareng cewek klo lo minta disupirin terus." Putra mengalihkan pandangannya keluar jendela mendengar perkataan Ardhan. Sudah lama dia menyukai sahabatnya itu tapi dalam arti yang lebih dari sekedar sahabat. Perasaannya tak pernah ia utarakan pada siapapun, ia menyimpannya rapat-rapat seperti aib yang memalukan. Putra tidak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena perasaannya terhadap Ardhan, walaupun ia selalu merasa sakit hati saat melihat Ardhan berkencan dengan beberapa wanita, ia tetap mencintai Ardhan. Cinta yang entah sampai kapan terus bersembunyi di relung hatinya. Terkadang rasanya sakit, tapi Putra sudah biasa menahannya. Ia memang terlihat lemah, melankolis, dan manja di hadapan para sahabatnya, namun mereka tidak tahu jika Putra jauh lebih kuat dari apa yang mereka bayangkan. "Ya udah kalau lo ngerasa keberatan, mulai besok gue diantar supir aja." Jawab Putra dingin. Ardhan merasa sedikit bersalah melihat wajah kecewa Putra. Senyum bahagia sahabatnya yang sedari tadi bertengger manis di wajahnya lenyap entah kemana. Hanya dengan sahabatnya yang satu itu Ardhan bisa dengan mudahnya luluh dan mengalah, ia senang melihat Putra tersenyum, karena senyum Putra dapat membuat dirinya dan siapapun yang melihatnya merasa nyaman. Diantara semua sahabatnya hanya Putra yang terkesan 'gak laki' tapi bukan berarti dia kecewek-cewekan, dia hanya tidak macho, tubuhnya juga yang paling kecil, kurus, dan slim diantara mereka yang kekar-kekar. Jika diibaratkan dengan film 'Meteor Garden' yang pernah booming di awal tahun 2000, Putra bisa di bilang seperti Shan Cai-nya mereka. "Iyya deeh...sorry, lu kyak cewek lagi PMS aja cepet banget ngambeknya..." "Gue mau maafin lo, klo lo mau temenin gue nonton WEWE, malam jumat besok." Sahut Putra tanpa basa-basi. Dia memang pecinta film horror, dan yang paling update kalau sudah masuk bulan halloween, dan Ardhan sering menjadi korbannya. "Buseeet... tega banget Lo, gue kan gak doyan film Horror Put." Mendengar nama Wewe saja sudah buat bulu kuduk Ardhan merinding, apalagi harus nonton filmnya. Film garapan Rizal Mantovani itu jelas-jelas masuk dalam daftar hitam film yang bakal di tonton Ardhan. Ia jadi teringat akan Film Kuntilanak yang juga di garap oleh Bang Rizal tahun kemaren, membuat dirinya Parno'an selama sebulan. Kala itu Putra juga memaksanya untuk menemani nonton , tapi ia sudah lupa penyebabnya. "Kalau gitu gue mogok ngomong ama lu...!" Jleb, Jawaban Putra bikin Ardhan lebih merinding, cowok manis yang duduk di sebelahnya itu lebih seram dari setan kalau lagi mogok ngomong, Ardhan sudah sering jadi korbannya dan ia sangat menderita. Gak Bunda, Gak Putra, sama aja senjatanya, Mogok ngomong !! gak ada anceman lain apa?! Batin Ardhan yang hanya bisa protes tanpa mampu melakukan apa-apa. Dia lemah terhadap dua orang ini. "Ngalah deeeeh...Gue ngalaaah..." jawaban pasrah Ardhan mengembalikan senyum ceria putra, senyum yang tanpa sepengetahuan Ardhan hanya sering diberikan cowok manis itu padanya. *** Raka, Galih, Aro sudah duduk manis di tempat nongkrong mereka, tepatnya di bawah pohon mangga depan fakultas. Raka tiba lebih dulu dari Ardhan karena sahabatnya itu harus menjemput Princess-nya dulu. "Ka' lo kemaren kok gak nongol sih? Sibuk ape luu?" Tanya Aro sembari menghisap rokok-nya dengan sangat nikmat. Aro baru balik dari Papua dua hari kemarin, ia sengaja mengajak sahabat-sahabatnya untuk ngumpul sekalian berbagi cerita petualangannya di tanah orang. Akhir-akhir ini dia memang sering keluar kota mengikuti touring keliling Indonesia para pecinta alam, bahkan beberapa minggu lagi ia akan kembali merantau ke tanah Sumatera. "Sorry Bro, kmaren nyokap minta tolong gue buat jemput anak temennya di bandara, lo pade tau kan klo gue gak bisa nolak permintaan nyokap." Jawab Raka menjelaskan, Ia mengambil rokok Aro yang tersisa satu di bungkusnya tanpa permisi kemudian menyalakannya juga tanpa permisi dari api rokok yang dihisap cowok gondrong di sampingnya. "Wuiiih...anak temen nyokap lo cantik kagak?" Raka memutar bola mata mendengar pertanyaan Aro, kenapa dua sahabatnya selalu memikirkan cewek di kepala mereka, memangnya cuma ada cewek di dunia ini? Padahal masih banyak hal yang lebih penting yang harus mereka pikirkan, contohnya persiapan proposal dan dilanjutkan dengan Skripsi. "Dia cowok ! nanti gue kenalin sama kalian, dia tinggal di rumah gue sekarang." Wajah Aro menekuk kecewa mendengar jawaban Raka, beda dengan Galih yang langsung menanggapi cukup antusias. "Boleh juga, dia kuliah disini??" Tanya Galih yang kini mulai beralih dari majalah otomotif yang di bacanya. Wajahnya tampak makin tampan dengan kacamata yang dikenakannya, selain Ardhan dan Raka, Galih juga termasuk yang paling diburu oleh-oleh cewek-cewek di kampus. Tidak sedikit yang dikabarkan dekat dengannya, tapi sayang belum ada satupun yang berhasil merebut hatinya. Para sahabatnya juga cukup mengerti jika Galih bukan tipe cowok yang suka bermain-main, apalagi dalam hal menjalin hubungan cinta. Ia pernah ber-statement jika ia menyukai seseorang di umurnya yang sekarang, maka ia akan membawanya ke pelaminan. " Gak, dia di IKJ, karena kampusnya dekat dari rumah, jadi nyokap saranin dia tinggal disana." Galih ber-oooh ria kemudian menatap Aro curiga karena kini senyum sumringah terbit bak sunrise di wajahnya. "Udah lo gak usah ngomong, gue tau apa yang ada di otak luu..." Raka yang juga melihat senyum menjijikkan Aro itu segera menghentikan sahabatnya yang hendak membuka suara. "Jangan harap gua bakal biarin Daru bantu lo ma Ardhan buat PDKT ke cewek-cewek IKJ." " Yaeeelaaah...pelit amat lu Ka', klo anak temen nyokap lu gak keberatan boleh dong gue minta bantuan." Raka pura-pura bego' mendengar ucapan Aro. Ia lebih memilih menghabiskan rokoknya sembari mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Dari arah parkiran, Raka dapat melihat kedua sahabatnya muncul. Aro dan Galih yang juga melihat mereka segera melambaikan tangan. Tepat ketika Putra dan Ardhan menginjakkan kaki di pangkalan, saat itu juga mereka melihat Dosen mata kuliah mereka yang terkenal "Tukang Usir" melangkah dengan sigap menuju ruang kelas. Tanpa sempat berbasa-basi lagi, kelima anak Muda itupun ngacir bak kucing disiram air meninggalkan tempat nongkrong mereka. To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN