“Ki! Kikan ayo! Kamu ngapain masih di sini? Itu besan udah datang, mobil mereka lagi parkir! Siap-siap Ki!” ucapan Bu Suryani membuat Kikan semakin gugup.
Rasanya ia kekurangan kadar oksigen dalam tubuhnya. Dia tak bisa bernapas dengan lega, kulitnya menjadi pucat, dinginnya AC menyeruak sampai ke tulang. Ditambah lagi perut Kikan yang ramping terasa melilit, sudah dipastikan bahwa yang Kikan rasakan sekarang adalah serangan panik bercampur stress tingkat dewa.
“Ki! Denger mama ga sih? Ayooo!”
“Be-bentar Ma … aku mules …,” tahan Kikan dengan lirih. Bu Suryani menggelengkan kepalanya, dia tahu bahwa putrinya sedang gugup, seandainya dia juga bisa menenangkan Kikan pasti dia sudah melakukannya, hanya saja sekarang Bu Suryani pun sama gugupnya dengan Kikan.
Perlahan Bu Suryani menggenggam kedua tangan milik Kikan dan menatap kedua netra cokelat putrinya. Setelah menghembuskan napas dan mengontrol kegugupan, Bu Suryani hanya mampu berucap,
“Bismillah ya, Nak. InsyaAllah semua dipermudah.”
Kikan mengangguk, menanggapi ucapan sang ibu. Dengan menggenggam erat lengan Bu Suryani, Kikan dibawa menuju grand ballroom untuk acara akad.
Sama halnya dengan Kikan, toh Kaisar yang lebih dulu tiba di meja akad sudah menanti dengan perasaan berdebar. Jas putih dengan beberapa payet yang memberikan kesan elegan membungkus apik tubuh Kaisar yang duduk dengan tegap. Tatapannya penuh semangat ketika beradu pandang dengan calon mertuanya yang duduk di seberang Kaisar. Pak Jaenudin selaku penghulu sempat melemparkan guyonan agar Pak Atang serta Kaisar lebih tenang.
“Kalem weh atuh Pa, Aa, jangan kaya yang mau perang antar desa gitu. Itu muka pada tegang kaya yang mau rebutan dana bansos,” oceh Pak Jae yang berhasil membuat senyum pak Atang serta Kaisar meluncur di wajah masing-masing.
Tatkala MC memberitahu bahwa Kikan dan Bu Suryani memasuki grand ballroom, maka secara otomatis ketiga pria yang duduk di meja akad itu menoleh kearah pintu. Tak sekalipun Kaisar mengedipkan matanya saat Bu Suryani menggandeng putrinya.
Tubuh Kikan yang hanya 165cm tetap terlihat indah dengan balutan kebaya putih yang memiliki ekor panjang menjuntai menyapu lantai. Siger, mahkota yang terbuat dari logam berwarna putih dengan batu permata semakin memberikan kesan anggun dan elegan bagi Kikan. Sungguh Kaisar dan yang lain dibuat pangling oleh Kikan hari ini. Bagi Kaisar saat poto prewedd saja Kikan sudah cantik, tak disangka-sangka saat menjadi pengantin Kikan malah seribu kali lebih cantik.
Bu Suryani membantu Kikan untuk duduk di sebelah Kaisar, tak lupa merapikan ekor kebaya serta untaian bunga di sisi kanan Kikan. Selagi yang lain sibuk, Kaisar malah mengendus-endus. Ada bau lain yang ia hapal betul diantara wewangian bunga-bunga yang Kikan bawa.
Bau apaan ini? Kaya bau koyo …, hidung Kaisar masih kembang kempis mencari sumber bau koyo itu.
“Udelku pake salonpas, aku gak tahan mules terus padahal ga makan pedes dari kemarin!” bisik Kikan begitu menyadari tingkah laku Kaisar. Sontak saja Kaisar berwajah datar, harusnya Kaisar sudah bisa menebaknya bahwa siapa lagi yang bertingkah laku absurd kecuali calon istrinya? Untungnya bunga-bunga yang dikenakan Kikan adalah bunga asli, sehingga untaian bunga melati itu bisa menyamarkan bau koyo di tubuh Kikan.
“Ayo kita mulai aja acaranya?” ajak Pak Jae, dan kedua mempelai mengangguk menanggapi. Hal pertama yang dilakukan pak Jae selaku penghulu adalah membimbing Kikan untuk meminta restu pada Pak Atang.
Acara baru dimulai, beberapa undangan yang menyimak acara akad tersentuh saat putri kedua Pak Atang yang biasanya bertindak bar-bar menjadi santun untuk kali ini. Permintaan Kikan agar ayahnya merestui hubungannya dengan Kaisar datang tulus dari hati. Tangan kanannya memang memegang mic, tetapi tangan kirinya mengepal kuat di bawah meja, mencoba mengontrol emosinya agar airmata yang sudah membendung di pelupuk matanya tidak luruh tanpa ijin. Kaisar yang menyadari hal itu jauh di lubuk hatinya merasa tersentuh, karena meski Kaisar belum bisa memberikan tempat bagi gadis yang duduk di sebelahnya, meminta restu pada ayahnya sampai suaranya bergetar tetapi tetap saja Kaisar ingin merangkul pundak Kikan yang sedikit bergetar.
Selang beberapa menit, pak Jae selaku penghulu menyuruh Kaisar dan Pak Atang untuk berjabat tangan. Inilah moment yang ditunggu-tunggu keluarga besar juga tamu undangan yang hadir, mereka ingin menyaksikan moment sakral ketika Kaisar meminta tanggungjawab Kikan dari pak Atang.
Dengan intruksi yang diberikan, Pak Atang mulai ijab qobul untuk segera disambut oleh Kaisar. Siapapun bisa mendengar suara kalem pak Atang yang sarat akan ketegasan.
“Ananda Dewangga Kaisar Bakrie Bin Achmad Dirgantara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Kikan Ayu Rengganis Binti Atang Sanjaya dengan maskawinnya berupa 50 keping emas dinar serta uang tunai 5000 dirham, dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Kikan Ayu Rengganis Binti Atang Sanjaya dengan maskawin berupa 50 keping emas dinar serta uang tunai 5000 dirham, dibayar tunai!” sambut Kaisar yang segera di ‘sah’-kan oleh para saksi yang mendengar.
Ucapan syukur serta lantunan doa dipanjatkan, beberapa orang menadahkan tangan berdoa dengan khusyuk untuk keberkahan pasangan baru ini agar hubungan mereka diridhoi oleh Allah, serta langgeng sampai akhir hayat nanti.
Acara berlanjut ke sesi sungkeman, layaknya sesi wajib bagi setiap adat yang dianut maka pernikahan yang mengusung adat Sunda ini pun melakukan sesi sungkeman pada orangtua kedua mempelai diiringi tembang serta puisi berbahasa sunda yang menyayat hati bagi keluarga Kikan yang memang orang sunda asli, berbeda dengan Kaisar dan keluarga yang 100% keturunan Betawi, mereka hanya diam dan mencoba meresapi kata-kata MC.
“Aduh, kepalaku keram,” keluh Kikan secara lirih namun masih terdengar oleh Kaisar.
“Kamu gapapa?”
“Leherku agak keram, nunduk mulu!” jawab Kikan sementara Kaisar melayangkan senyum penuh kekhawatiran. Tak ada yang peduli pada istri barunya selain dirinya, toh MC segera menyuruh Kikan dan Kaisar bertukar posisi untuk sungkeman pada mertua masing-masing.
Lagi, entah kapan tembang dan puisi ini berakhir, Kaisar beberapa kali melirik mengecek kondisi Kikan yang berlutut di sisi kirinya. Nampaknya Kikan begitu khidmat meminta restu pada Nyonya Shinta, tetapi Kaisar belum bisa tenang sekarang.
“Alhamdulillah kita sudah selesai sesi sungkemannya, sekarang Aa teteh hayu kita ke sesi selanjutnya! Eh, itu Teh Kikan masih sungkem ke bu Shinta?” tanya sang MC membuat seluruh mata tertuju pada Kikan dan Nyonya Shinta.
“Ki, udah selesai sayang. Kamu gak tidur kan?” tanya Nyonya Shinta sambil mengusap lengan Kikan.
“Aduh …,” rintih Kikan membuat Kaisar dan beberapa orang mengerubunginya.
“Kamu kenapa Ki?” tanya Kaisar pada istrinya.
“Gak bisa bangun, keberatan siger sama konde!” jawab Kikan seraya merintih.
“Astagfirullah!”
Dan begitulah, ada-ada saja hal yang tidak biasa yang terjadi pada Kikan meski ia sedang berada di hari bahagia. Bagaimana pun Kikan harus bertahan mengenakan kebaya, siger serta konde yang beratnya mencapai 2kg, sebab rangkaian adat masih belum selesai.
Selanjutnya Kikan dan Kaisar duduk di sebuah bangku yang dipayungi oleh Mawar, tentunya dia bersiap menampung beberapa uang koin yang akan dibagikan dalam sesi saweran kali ini.
“Duitnya berapaan Ki?” bisik Mawardi pada kakaknya yang duduk mempertahankan lehernya yang tegang.
“Koin serebuan sama gopek!” jawab Kikan singkat.
“Gak seru ah! Duit mahar lo yang koin kagak mau dibagi-bagi sekarang aja?” nego Mawardi.
“Enak aja, gue yang bakal ngangkang masa kalian yang dapet duitnya?!
Ucapan Kikan sempat membuat Kaisar tersedak dan Mawardi cekikikan dibuatnya. Ramailah acara saweran itu, geng kunchup pun tak mau ketinggalan. Meski usia sudah matang tetapi jiwa mereka persis seperti bocil PUBG yang gak mau rugi kalau ada kesempatan baik.
Sesi menginjak telur, memecahkan kendi sampai melepas merpati telah dijalani kedua pengantin baru ini. Tibalah mereka untuk berganti pakaian, pergantian menuju sesi resepsi hiburan dan menyambut para tamu undangan lain.
Gedung puri Begawan grand ballroom yang bernuansa mewah dengan kapasitas 2000 orang terpenuhi menjelang tengah hari, bahkan di lantai dua pun banyak tamu undangan yang mengisi setiap sudutnya.
“Rame juga, ya? Kira-kira bakal balik modal gak nih?” gumam Kaisar saat ia hendak keluar kamar ganti.
Sejurus kemudian, Kikan datang menghampiri Kaisar yang telah berganti pakaian dengan setelan jas berwarna hitam. Pria tinggi jenjang itu semakin berkharisma dengan pakaian semi formal yang membalut tubuhnya.
Berbeda dengan Kikan yang telah lepas dari singsetnya kebaya juga beratnya mahkota siger, kini ia tampil dengan gaun putih berlapis gliter dan payet sehingga kesan blink-blink glamour menjadi jati dirinya sekarang. Rambut yang tadi digulung untuk menyangga konde kini diurai dan mengenakan mahkota kecil sebagai hiasan.
“Udah siap? Sekarang rambutmu diurai? Leher kamu udah baikkan?” tanya Kaisar bertubi-tubi.
“Sengaja diurai biar bisa nutupin koyo di tengkuknya, hehe!”
Kaisar menderlingkan matanya, terkadang istrinya terlalu polos tetapi kadang istrinya terlalu pintar juga. Kaisar jalan mendahului Kikan tetapi baru beberapa langkah ia mendengar suara pekikkan Kikan yang hampir terpeleset sebab belum terbiasa mengenakan sepatu dengan hak tinggi.
“Kamu gapapa, Ki?”
“Kepeleset, ngilu!”
“Apa mau balik lagi, tempelin koyo?” tawar Kaisar tetapi Kikan segera menggeleng.
“Jangan kebanyakan koyo, jadi makoy nanti.”
“Makoy?”
Kikan segera menggangguk ketika suaminya menautkan kedua alis dan memberikan tatapan bingung.
“Manusia koyo!” bisik Kikan.
Sabar Kai, lo baru dua jam jadi suami sah bocah ini. Lo harus banyak-banyakin sabar ngadepin tingkah absurd dan kata-kata yang ga ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia kalo sama dia!
“Bang Kai! Ayo!” ujar Kikan menyadarkan Kaisar yang tengah membatin. Kaisar menawarkan lengannya agar Kikan dapat berpegangan dan mengandeng lengannya supaya terhindar dari kejadian yang tak diinginkan seperti barusan. Sepasang pengantin baru berjalan memasuki ballroom menuju venue tempat mereka duduk dan menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
Berjalan di red karpet berdua dengan ribuan pasang mata baik dari lantai satu atau dua menyaksikan setiap gerak gerik mereka. Rasanya membuat darah keduanya berdesir, apalagi Kikan yang merasa jantungnya memompa lebih cepat. Dia tidak ingin panik lagi seperti tadi pagi, karena di sebelahnya sudah ada Kaisar, suami sah-nya yang akan selalu ada dan melindunginya.
“Wah, banyak banget orang yang datang. Ini kita harus salaman sama orang-orang sebanyak ini, nih?” gumam Kikan, kedua matanya membulat melihat kepala manusia yang memenuhi ruangan. Dia merasa tak memiliki teman sebanyak itu, dan benar saja sebagian besar tamu undangan datang dari pihak keluarga Kaisar.
Para tetangga julid Kikan sebagian ada yang datang, tetapi sebagian lainnya memilih untuk datang kerumah Kikan saja jika acaranya sudah selesai. Maklum, bagi mereka menghadiri undangan di gedung tak cocok dengan gaya mereka, tak apa toh Kikan juga enggan memaksa orang-orang yang seperti itu untuk datang ke acaranya.
“Selamet ya Bro! Wih sekarang geng kunchup punya ibu negara nih!” ujar Keenan seraya tersenyum lebar, meski dia masih takut-takut untuk menyalami Kikan sebab ia masih trauma dengan kejadian minggu lalu.
“Kayanya daripada ibu negara, geng kunchup lebih cocok kalo punya seksi keamanan deh!”
“Kurta … jangan cari gara-gara!” larang Kaisar melirik tajam pada sosok lelaki yang bersembunyi di balik Keenan.
“Oya, Bang Sat mana?” tanya Kaisar saat satu-satunya sahabat yang paling gaje terpisah dari rombongan.
“Gak tahu, mau bundir kali ditinggal nikah sama lo!” jawab Keenan asal bicara, jelas saja Kaisar menatapnya tajam.
“Sabarlah saudara! Satria lagi benerin papan bunga dari kita yang diancurin sama bocil!” jelas Kurta.
“Hah? Ancurin gimana?”
“Lo liat sendiri deh, masa huruf K-nya di potekin??” Kurta menunjukkan foto yang diambil dari ponselnya, sebuah papan bunga bertuliskan ‘Happy weddding Bang Kai Ikan’ menjadi pusat perhatian tamu undangan yang hendak masuk ke grand ballroom, semua itu adalah ulah iseng anak-anak tamu undangan yang menghilangkan huruf K di depan nama Kikan.
Kesal? Memang! Tapi mau bagaimana lagi? Yang bisa diupayakan oleh Satria sekarang adalah menambal huruf K milik Kikan dengan spidol permanen. Kala itu ia selesai dengan pekerjaannya dan bermaksud untuk masuk kembali ke ballroom, tetapi tutup spidol yang jatuh memaksa Satria untuk memungutnya.
Satria membungkuk tepat didepan kaki seorang wanita dengan dress violet, kaki jenjang dan rambut cokelat yang terurai sebahu membuat Satria tertegun untuk beberapa waktu. Dalam hatinya kenapa juga ia harus bertemu wanita ini? Kenapa mereka harus berpas-pasan? Dan apa hubungan wanita ini dengan pengantin? Apakah Kaisar yang mengundangnya? Atau Kikan?
“Kamu ngapain disini?”