Kejujuran

1201 Kata

PRAANGG! Kaisar terperanjat dari tidur siangnya. Dia memaksa kesadarannya untuk kembali saat itu juga. Mendengar suara benda yang pecah disusul teriakan istigfar dari ibunya, membuat Kaisar kebingungan. Rasa bingung itu berganti menjadi cemas tatkala sosok Kikan tak ada di sisinya. “Sekarang apa lagi, nih?” gumam Kaisar. Kaki jenjangnya membawa ia menuruni tangga dengan cepat. Namun langkahnya tercekat saat ia melihat guci antik kesayangan ibunya pecah begitu saja. Terlihat raut wajah ibunya yang kecewa, kesal dan sedih bercampur menjadi satu. Dan yang lebih membuat Kaisar gusar adalah sosok Kikan yang berada tak jauh dari guci itu. Gadis itu berdiri sambil menggigit kuku jempol tangannya, wajahnya pucat pasi nampaknya ia pelaku utama dalam kasus ini. “Ma-maafin aku, Bu. Aku gak sengaj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN