Mata sembab tak bisa Vanila sembunyikan di balik kacamata hitamnya. Hidung merah yang dia tutupi dengan riasan pun tak bisa menipu Kikan. Kikan mengernyitkan dahinya, sepertinya adayang tak beres. Ada sesuatu yang terjadi pada Vanila, tapi untuk apa juga dia menemui Kikan? “Ki, bisa gak kita bicara? Aku mau jujur dan jelasin semuanya,” pinta Vanila dengan suara lirih dan sedikit serak, mungkin karena dia habis menangis entah apa alasannya. Tanpa banyak kata, Kikan mengangguk ringan lalu membuntuti kemana Vanila membawanya pergi. Sampai mereka tiba di sebuah coffee shop sederhana yang tak banyak pembelinya, sehingga Vanila bisa dengan bebas bercerita. Tak ada basa-basi di antara keduanya. Kedua wanita itu memilih bungkam sampai minuman yang dipesan telah diantarkan oleh waitress. Kikan t

