“Kikan lagi apa, ya? Dia beneran istirahat ga ya? Atau dia masih ngobrol? Masih digangguin sama bocah cungkring itu? Hah ….” Kaisar mengacak rambutnya frustasi mengingat betapa lebarnya senyum Kikan saat bercanda dengan teman sebayanya, tetapi meskipun Kaisar sudah memberikan ultimatum pada bocah yang seusia istrinya, sepertinya bocah itu tidak paham betul maksud Kaisar dan hal itu mengganggu konsentrasi Kaisar. Tok,tok! Pintu ruangan Kaisar diketuk, tak lama perawat Arin menyembulkan kepalanya. “Sudah selesai dok, pasien yang terakhir saya panggil-panggil ga ada. Kayanya keburu pulang!” Secercah senyuman menghiasi wajah Kaisar. Dengan sigap Kaisar bergegas keluar dari ruangannya. Tanpa menjawab laporan Arin, Kaisar pergi menuju lantai dua. Baru kali ini Kaisar bertingkah seperti ini.

