Bab 3 Tragedi

1405 Kata
“Nanti makannya gak bisa lama ya? Soalnya aku harus ikut korps rapot untuk pindah satuan. Kamu kuantar ke mana kalau gak mau les?” tanya Danin pada Kayla yang sudah kembali riang. Danin menghentikan ingatan menyakitkan kemarin. “Ikut Kak Danin dinas gak boleh ya? Lagian apa tadi rapotan? Kak Danin mau rapotan ya? Jadi tentara juga ada rapotannya?” tanya Kayla pelan. Danin menggeleng gemas sambil tersenyum. Lelaki dewasa itu tersenyum gemas ketika mendengar kata-kata Kayla. Kayla baginya adalah warna baru dalam hidupnya. Ada alasan mengapa bisa lelaki dewasa sepertinya memilih memacari anak SMA yang punya masa lalu menyedihkan seperti Kayla. “Sejenis itulah tapi lebih tepatnya korps raport. Uang sakunya masih ada kan?” tanyanya lagi sambil tersenyum manis. “Masih kok Kak. Makasih ya uang jajanku sudah ditambah. Lagi-lagi aku membebani kak Danin,” kata Kayla sambil menatap Danin, pria bermata sendu itu. “Apaan sih? Udah kayak orang tua deh kalau ngomong kayak gitu. Uang yang kukasih kan gak banyak Dek.” “Tapi itu sudah sangat berharga bagiku, Kak. Beasiswaku belum juga cair jadi itu sangat membantu.” “Ya semoga beasiswa Kayla cepat cair ya? Biar bisa beli buku persiapan UAN. Gaji letnan dua tak banyak Dek, tapi aku bisa kok membiayaimu.” “Wuah, membiayai ya? Kita kayak pasangan suami istri aja Kak?” seloroh Kayla bercanda. Danin tertawa keras. “Kalau menikahi anak SMA boleh, sudah kulakukan Dek. Aku gak tega melihatmu.” “Melihat hidup Kayla ya? Hem, rasanya Kayla makin membebani Kak Danin. Rasanya selama setahun ini, aku selalu mendapatkan belas kasihanmu. Kan memang cinta Kakak berawal dari rasa iba.” “Bukan belas kasihan, tapi kasih sayang. Udahlah, Kayla makin ngaco nih,” kata Danin positif. Dia memang selalu berusaha menguatkan Kayla dengan kata-kata motivasinya. “Maafin Kayla ya, Kak. Kayla selalu bikin susah,” ujar Kayla sedih. Danin menepuk pipi Kayla lembut. “Sudahlah. Kamu kayak apa aja. Ceria dong, Dek. Aku cuma butuh senyumanmu sebagai semangatku!” ujar Danin tegar. Renda cinta mereka bukan hanya terganjal restu orang tua Danin saja, tetapi lelaki itu juga disuruh untuk segera memutuskan Kayla dan menerima perjodohan dengan Isyana, sahabat masa kecilnya. Hal itu menjadi duri dalam daging dalam hubungan Kayla dan Danin yang baru seumur jagung. Isyana adalah wanita seumuran Danin yang sekarang sedang menempuh kuliah kedokteran di Malang. Tentu saja Danin menolak mentah-mentah. Isyana hanya teman baiknya tak lebih dari itu. “Hujan melulu. Bikin suasana jadi galau,” ujar Kayla pelan tanpa menatap Danin. Keduanya sudah berada di restoran Jepang di Sawojajar. Kayla memesan sushi dan Danin memesan ramen. “Kenapa harus galau sih, Kayla?” tanya Danin sambil menyantap kuah ramen. “Ya gak enak aja. Kita gak lagi baik-baik aja loh Kak. Bukannya hubungan kita lagi bermasalah,” ujar Kayla lagi. “Sudahlah Dek. Kenapa kamu malah bahas itu sih? Aku tuh usahakan ketemu kamu buat happy. Bukannya buat susah,” keluh Danin sambil mengusap mulutnya dengan tisu. “Maaf Kak tapi, mau gimana lagi, Kak. Aku masih kepikiran.” Kayla terlihat masih gusar. Dia tak mau Danin dibenci oleh orang tuanya karena berhubungan dengan Kayla. “Udahlah. Kita jalani saja, okay?” putus Danin, Kayla menyerah. Dirinya terlalu muda untuk menjalani cobaan seberat itu. “Ya baiklah. Kita jalani saja sampai Tuhan memisahkan kita,” ucap Kayla yang membuat Danin tak suka. “Apaan sih Kayla nih! Kakak gak suka kamu bicara gitu,” ucap Danin tajam. Kayla hanya mesem ceria untuk meredakan rasa tak suka Danin. Tetiba ada yang memecah pembicaraan mereka. Dering telepon Danin. “Aku angkat telepon sebentar ya?” pamit Danin sambil berdiri. Kayla mendongakkan kepala dan mengangguk pelan.             Kayla hanya menatap Danin yang berjalan menjauh dari mejanya. Gadis itu tahu telepon yang sedang diangkat Danin itu bukan telepon biasa. Telepon itu berasal dari sebuah nama yakni Isyana Hani Savitra, sahabat sekaligus duri dalam daging hubungan mereka. Walau Kayla tahu mereka hanya bersahabat, namun gadis itu juga tahu kalau mereka dijodohkan. Hanya saja Danin masih menolak mentah-mentah perjodohan itu demi dirinya. Padahal apa yang kurang dari Isyana? Cantik, anggun, tinggi semampai, bersuara merdu, calon dokter, dan juga segera menjadi finalis Putri Indonesia beberapa minggu lagi.             Diam-diam, Kayla suka membandingkan dirinya dengan Isyana. Isyana sangat sempurna jika dibandingkan dengan dirinya. Bukan dari segi fisik, keduanya sama cantik, tapi dari segi nasib. Isyana terlahir di keluarga sempurna dan bahagia karena kedua orang tuanya merupakan pejabat militer. Isyana punya segalanya termasuk sahabat yang sempurna yakni Danin. Tentu saja Kayla merasa minder dan rendah diri sebab logikanya masih logika anak umur 17 tahun. Kekanakan dan tak dewasa. Oleh sebab itu, beratus bahkan beribu kali Danin harus menegaskan perasaannya pada Kayla. “Maaf ya Kayla, ini Isya telepon dari Jakarta minta disemangati. Dia kan sedang ikut seleksi untuk kontes Miss Indonesia, mewakili Jawa Timur,” ucap Danin yang hanya dibalas anggukan pelan gadis cantik di depannya. Andai Danin tahu sifat terbuka barusan itu melukainya. “Andai Kakak tahu, Kayla cemburu, Kak,” batin Kayla perih. “Loh, minumannya belum datang ya?” tanya Danin berusaha mengganti suasana. Dia tahu telepon Isya barusan lebih dari sekedar meminta semangat. Tetapi juga meminta cintanya. “Belum, Kak,” jawab Kayla pelan. Danin lantas memanggil seorang pelayan yang sedang berlalu di dekatnya. “Mbak, tolong pesan minumnya ya? 1 teh manis dan 1 es lemon. Es lemonnya pakai madu aja 2 sendok dan esnya dikit saja,” ujar Danin tegas. Kayla menatapnya lekat. Itu adalah minuman kesukaannya. “Kok Kak Danin hafal sama minuman kesukaan Kayla?” tanya gadis itu lembut. “Aku selalu hafal dengan hal terkecil darimu, Kayla.”             Ucapan manis Danin seolah fatamorgana bagi Kayla. Di suatu sisi dia bahagia mendengar ucapan manis itu. tapi, di sisi lain dia sedang bersiap untuk limbung karena luka yang tanpa sadar ditoreh Danin. Kayla tahu Danin sedang menutupi sesuatu. Dia tahu bahwa hubungan mereka sedang tak baik-baik saja. kayla tahu, tak selamanya mereka bisa berjalan di tepi jurang yang menganga. Suatu saat pasti ada yang terjatuh dalam jurang kehancuran itu. Jika kedua orang tua Danin belum juga setuju untuk membangun ‘jembatan penghubung’ mereka. “Kak Isya hebat ya, Kak?” cetus Kayla ragu tanpa berani menatap Danin. “Iya, dia bisa mewakili nama baik Malang dan Jatim pada umumnya,” jawab Danin biasa. “Kok bisa sih Kak wanita sehebat itu ditolak?” tanya Kayla mulai mengusik ketenangan Danin. “Kamu mulai lagi ya, Kayla?” tolak Danin tak suka. Kayla tersenyum hampa. “Maaf Kayla melantur. Aku tak mau les hari ini, Kak. Bosan. Gimana kalau kita jalan ke Bukit Bintang?” tanya Kayla yang membuat raut wajah Danin pias. Tak biasanya bintang kelas itu tak suka belajar. “Tumben kamu bosan belajar? Kayla gak lagi sakit kan?” Kayla menggeleng pelan sambil meminum es lemon yang mulai mencair. “Aku cuma kangen sama Bukit Bintang tempat kesayangan kita. Karena cuma itu keahlianku, memaku kenangan demi kenangan manis kita,” ujar Kayla sambil menerawang teratai di kolam di sampingnya. “Maksudmu apa sih, Dek? Kayla makin aneh deh,” ucap Danin berdebar. Dia berasa tak enak dengan ucapan Kayla. Dia merasa Kayla hendak mengajaknya bertengkar. Apa telepon Isya barusan membuat keduanya akan menemui sebuah tragedi? “Apa Kayla sedang berencana membuat sebuah pertengkaran? Ada apa lagi sih dengan anak ini?” batin Danin malas. “Ya udah deh. kuturuti saja meski aku harus dihukum abangku. Abangku yang bernama Bang Oki sangat kejam, Dek,” ucap Danin yang membuat raut wajah Kayla berubah. “Benarkah? Kalau gitu jangan malam ini. Hari ini cukup sampai di sini saja. Besok malam saja gimana?” tawar Kayla merasa tak enak. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Danin yang berbalik tak enak. Kayla menggeleng lantas memasang senyum ceria palsu. “Justru Kayla yang nanya, Kak Danin baik saja kan? Kakak harus semangat ya mengalami MOS di kesatuan baru. Kayla gak tahu sekejam apa itu, tapi Kayla hanya berharap Kak Danin yang kuat dan semangat!” ucap Kayla penuh optimis. “Tentu saja. Buat apa aku sedih kalau aku punya senyumanmu, Kayla. Dipukul abang asuh, disuruh lari, disuruh atur anggota yang usianya di atas usiaku sampai dicueki mereka, hingga disuruh korve bunuh. Aku sanggup, Kayla. Asal kamu harus senyum buat aku. Kayla janji?” tanya Danin lembut. “Sebisa Kayla,” ucap Kayla ceria. Keduanya tersenyum bersama kendati di dalam hati mereka saling golak bergolak. Sewaktu-waktu hubungan indah mereka bisa terpisah oleh jurang yang menganga. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN