Empat jam sebelumnya... “Apaan, nih?” Sesuatu yang mirip dengan darah itu kini berada dalam genggaman tangan Cesya. Gadis itu memiringkan kepala dan menyipitkan mata kala menatap cairan kental berwarna merah tua tersebut. Ada sedikit rasa jijik dan geli ketika dia menatap benda yang baru saja diberikan oleh Inggit padanya beberapa detik yang lalu didalam kamar mandi perempuan ini. Pintu kamar mandi sudah dikunci oleh Inggit tepat setelah dia dan Cesya memasuki ruangan ini. “Darah.” Inggit melirik Cesya yang membelalakkan kedua matanya sejenak, sebelum kemudian gadis itu merapihkan rambutnya sambil bercermin di kaca westafel. “Lo habis bunuh orang?” tanya Cesya dengan nada tinggi. Gadis itu langsung menaruh benda yang baru saja disebut Inggit sebag

