Sepanjang sisa malam itu dihabiskan Nelson dengan merenung. Dia duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan yang saling bertautan. Penjelasan dan cerita Mamanya beberapa jam yang lalu masih terngiang dengan jelas di otaknya. Mengendap disana bagaikan noda membandel yang sulit untuk dihilangkan. Menutup semua akses pikiran positifnya dan menggantikannya dengan berbagai macam emosi dan amarah yang entah dari mana datangnya. Apakah dia pantas untuk marah? Marah untuk apa? Marah karena perbuatan seorang pria dari masa lalu Mamanya yang bernama Reynald? Karena sudah mempermalukan sang Mama beberapa belas tahun yang lalu di depan semua teman-teman kampusnya karena lebih memilih perempuan lain? Atau... marah terhadap perbuatan licik dan jahat Mamanya bersama dengan seorang

