#9-I Won't Let You Go

4400 Kata
Sebenarnya, dia lebih memilih untuk berdiam diri di kamarnya yang dingin karena AC yang sengaja dia nyalakan, seraya menikmati kue bolu bikinan Arny, tantenya, yang dibuat semalam. Namun, dia bosan juga ternyata. Inggit melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya. Masih pukul setengah empat sore. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berdecak jengkel. Dia sudah menghabiskan masa liburannya beberapa hari di rumah Arny dan Kenzo yang notabene adalah Oom dan Tantenya. Sebenarnya, yang memiliki hubungan darah dengannya adalah Arny, karena, Arny adalah sepupu dari Mamanya.             “Ck! Gue ngapain, ya, enaknya?” gumam gadis itu sambil menatap seluruh ruangan kamarnya. “Rizky katanya mau jalan, lagi, sama si Krystal. Bisa mati kebosanan gue disini!”             Kesal karena tidak bisa menemukan jalan keluar bagi masalahnya, Inggit akhirnya menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu berbaring dengan posisi telentang dan kedua mata menatap langit-langit kamar. Tangannya bergerak lincah memainkan rambut cokelatnya yang tergerai di atas kasur. Bibirnya mengerucut. Lalu, tiba-tiba, ingatan itu kembali hadir. Ingatan saat dia bertemu dengan laki-laki yang bernama Edward itu. Yang sudah berbaik hati untuk membayar novel yang ingin dibelinya karena dia lupa membawa dompet, serta sudah mau menolongnya saat dia hampir tertabrak motor. Tanpa sadar, Inggit mengulum senyum. Sejak hari itu, Inggit memang seringkali tanpa sadar mengingat pertemuannya dengan Edward. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam hari itu, dia bertemu dengan Edward selama dua kali. Kata orang, kalau kita bertemu dengan orang yang sama sebanyak tiga kali—tentunya dengan orang yang belum kita kenal sebelumnya—maka, kita berjodoh dengan orang itu.             Jodoh?             Ha! Menarik sekali. Inggit bahkan masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Sama seperti Rizky. Sedangkan laki-laki yang bernama Edward itu sepertinya sudah duduk di bangku kuliah. Atau malah mungkin sudah bekerja?             Lantas mengapa? Bukankah katanya cinta itu tidak mengenal umur?             Tiba-tiba, Inggit bangkit dari posisinya dan menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Rasa panas itu mendadak menjalar di pipinya. Jantungnya mendadak berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ini aneh. Biasanya, Inggit tidak pernah mengalami hal seperti ini. Apa... pesona si Edward itu begitu kuat dan berpengaruh baginya?             Gusar, Inggit menggeleng kepalanya dengan tegas. Gadis itu kemudian berjalan menuju DVD player dan memutar lagu Demi Lovato, penyanyi kesukaannya. Ketika alunan musik mulai terdengar, Inggit tersenyum lebar dan langsung naik ke atas kasur. Gadis itu berjoget ria di atas kasur sambil melompat-lompat, ikut bernyanyi bersama suara indah Demi Lovato. Sama sekali tidak sadar bahwa umurnya yang sudah memasuki angka delapan belas tahun, sudah tidak pantas lagi berkelakuan seperti itu.   You wanna play, you wanna stay, you wanna have it all You started messing with my head until I hit a wall Maybe I shoulda known, maybe I shoulda known That you would walk, you would walk out the door, hey!               Gadis itu terus saja bernyanyi. Meluapkan semua perasaan senang yang entah dari mana datangnya. Padahal, perasaan senang yang sedang melandanya saat ini hanya karena beberapa saat lalu, dia kembali mengingat pertemuannya dengan Edward. Walaupun lagu yang diputarnya sama sekali tidak cocok dengan ingatannya mengenai pertemuan itu, dikarenakan liriknya lebih mengarah kepada seorang perempuan yang sudah tidak peduli lagi dengan mantan kekasihnya.   Said we were done, then met someone and rubbed it in my face Cut to the part, she broke your heart, and then she ran away I guess you shoulda known, I guess you shoulda known That I would talk, I would talk But even if the stars and moon collide I never want you back into my life You can take your words and all your lies Oh oh oh I really don't care Even if the stars and moon collide I never want you back into my life You can take your words and all your lies Oh oh oh I really don't care Oh oh oh I really don't care (Demi Lovato-Really Don’t Care) ~~~ Perasaannya semakin tidak enak. Pikirannya terus melayang pada Krystal. Peluh membasahi pelipisnya dan dia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Gadis itu tidak membalas SMS maupun mengangkat teleponnya. Dia khawatir, sesuatu yang buruk sedang menimpa gadis itu.             Fokus, Rizky... fokus! Laki-laki itu membatin. Berusaha menjauhkan semua pikiran negatifnya akan Krystal. Kemudian, laki-laki  itu meraih ponselnya dan bergegas menghubungi Elang.             “Apa?” sahut Elang datar, tanpa menyapa terlebih dahulu.             “Krystal udah di rumah, Lang?”             Hening sejenak. Sampai kemudian, suara Elang kembali terdengar. Bernada heran dan sedikit curiga.             “Lah? Kata Krystal dia mau jalan sama lo, nunggu lo jemput dia makanya dia nolak pulang bareng gue waktu gue tawarin mau pulang bareng atau nggak. Lo berantem sama dia?”             Mendengar keterangan itu, Rizky semakin gusar. Laki-laki itu berdecak dan sudah duduk di atas motornya. Bersiap untuk melaju ke tempat Elang dan mengatakan pada laki-laki itu bahwa adik kembarnya kemungkinan besar menghilang. Entah kemana. Karena, Rizky sudah menyisir seluruh area SMA Bianca, namun hasilnya nihil.             “Gue terlambat jemput dia dan dia udah nggak ada di sekolahan.”             “Mungkin pergi sama temannya. Sama Cloe mungkin.”             Dia ingin mempercayai ucapan Elang itu, namun, hatinya seolah berkata lain. Hatinya seolah berkata bahwa gadis itu sedang dalam bahaya. Ya Tuhan... semoga perkiraannya salah.             “Mungkin,” balas Rizky dengan nada menerawang, “semoga aja begitu kenyataannya.”             “Maksud lo apa?” tanya Elang dengan nada dingin. “Maksud lo, Krystal... kenapa-napa, gitu?”             “Gue nggak tau, Lang,” balas Rizky muram. “Gue cuma—“             “Iya, gue dikasih uang lumayan banyak lah sama orang itu. Anehnya, gue cuma disuruh ajak kakak cewek itu ke ujung gang sana, terus, tau-tau, kakak cewek itu pingsan pas udah nyampe disana. Gue juga bingung kenapa sama dia. Gue nggak mau ngambil pusing... setelah gue dikasih uangnya, ya, gue langsung pergi.”             Ucapan seorang anak berseragam SMP yang berjalan melewatinya itu membuat Rizky seketika menghentikan percakapannya dengan Elang di telepon. Telepon itu masih tersambung, hanya saja, saat ini, Rizky justru memusatkan perhatiannya pada anak SMP itu, yang terlihat sedang asyik membahas pengalamannya kepada teman yang berjalan di sampingnya.             “Halo? Ky?”             Suara Elang kembali menyadarkan Rizky. Laki-laki itu langsung berkata, “Nanti gue kabarin lagi. Gue mau cari dia dulu.”             Selesai menutup telepon, Rizky langsung mengejar anak SMP tersebut dan mencekal lengannya hingga membuat langkah anak itu terhenti. Dia menoleh dan mengerutkan kening saat menatap Rizky. Raut wajahnya berubah waspada, begitu juga dengan teman di sampingnya. Langsung saja, Rizky menampilkan senyum terbaiknya.             “Siapa, ya?” tanya anak SMP itu ragu. Takut kalau Rizky adalah orang jahat yang berniat tidak baik padanya, juga pada temannya.             “Maaf,” sela Rizky ramah. “Tadi, gue nggak sengaja dengar, kalau lo lagi cerita ke teman lo. Katanya, tadi lo disuruh bawa seorang cewek ke gang di ujung jalan, benar?”             Anak SMP itu mengangguk. “Iya... tadi, ada cowok yang minta tolong gue buat ngajak cewek yang lagi berdiri sendirian di depan gerbang sekolah itu ke gang di ujung jalan. Gue disuruh pura-pura bilang ke cewek itu buat minta tolong benerin sepeda gue.”             “Terus... apa yang terjadi?” tanya Rizky dengan suara bergetar. Dia mulai tidak suka dengan apa yang perlahan melintas di benaknya. Semoga pikirannya salah. “Cepat kasih tau gue!”             “Nggak tau,” sahut anak itu polos, sedikit ketakutan sebenarnya. Dia sendiri entah mengapa malah membicarakan hal tersebut pada Rizky. Mungkin, karena pengaruh senyum Rizky atau karena pengaruh ketampanan laki-laki itu. Atau, bisa juga karena bentakan Rizky barusan. “Begitu sampai disana, cewek itu tiba-tiba pingsan. Gue sendiri nggak ngerti kenapa. Cowok itu langsung nangkap tubuh cewek itu dan ngasih gue uang. Setelah itu, gue pergi nyamperin temen gue ini yang lagi makan di rumah makan padang dekat gang itu.”             Rizky merasa udara di sekelilingnya mulai menipis. Dia merasa kepalanya mulai berat. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. Berusaha sekuat tenaga agar wajah dan suaranya terlihat biasa saja. Kemudian, Rizky mengambil ponselnya, mengutak-atiknya sebentar, lantas memperlihatkan benda itu kepada anak SMP di depannya.             “Cewek itu... apa dia orang ini?”             Anak SMP itu mengerutkan kening dan berusaha keras mengingat, ketika Rizky memperlihatkannya foto Krystal. Beberapa detik kemudian, anak SMP itu menjentikkan jari dan tersenyum ke arah Rizky. “Iya... cewek itu dia. Kakak... pacarnya, ya?”             Rizky tersentak. Dia bagai dihantam ribuan batu bata saat mendengar perkataan anak itu. Dengan senyum yang dipaksakan, Rizky mengucapkan terima kasih dan menjauh dari kedua anak tersebut, sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh anak itu.             Setelah berdiri tepat di samping motornya, Rizky mengepalkan kedua tangannya. Dia kembali mencari nama Elang pada daftar kontak ponselnya dan menunggu selama beberapa detik.             “Halo?”             Suara berat Elang di ujung sana membuat Rizky mengatupkan rahangnya keras-keras. Perasaan bersalah dan tidak becus untuk menjaga Krystal, membuat Rizky ingin mengahajar dirinya sendiri.             “Lang...,” panggil Rizky pelan. “Krystal diculik.”             Di ujung sana, Elang terdiam. Laki-laki itu berusaha mencerna ucapan Rizky barusan. Setelah berhasil mencerna kalimat Rizky itu, Elang memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napas keras. Mati-matian menahan rasa khawatir, cemas dan gejolak emosi yang mulai hadir di hatinya.             “Udah pasti?”             “Ya,” jawab Rizky lirih.             “Ya udah,” ucap Elang lagi. “Lo bisa, kan, nyari dia sendiri dulu? Gue bakal nelepon Edward, minta dia buat bantu elo. Nanti, begitu orangtua gue pulang, gue bakalan ngasih tau bokap supaya beliau nggak usah ngasih tau nyokap dan supaya nyokap dibawa keluar kota dulu, biar nyokap nggak sedih dan kepikiran.”             Rizky menghela napas panjang. Laki-laki itu memijat pelipisnya dan berusaha meredam emosi yang mulai timbul. “Maafin gue, Lang...,” kata laki-laki itu lagi. Dengan nada menyesal yang terdengar sangat jelas. Membuat Elang menghembuskan napas di seberang sana.             “Nggak usah minta maaf,” balas Elang datar. “Bukan salah lo.” ~~~ “Azka, right?”             Suara bernada ramah itu membuat Azka yang sedang menikmati es kopi pesanannya menoleh. Laki-laki itu sedang berada disalah satu kafe di bilangan Jakarta Selatan. Azka sengaja mengambil tempat duduk di dekat jendela, hingga dia bisa memperhatikan keadaan diluar sana. Kini, Azka mengerutkan kening saat melihat seorang laki-laki bertubuh atletis yang beberapa saat lalu menyapanya. Berusaha mengingat siapa orang itu karena dia merasa wajah orang itu sangat familiar.             “Yes,” balas Azka ragu. “Do i know you?”             Laki-laki di depan Azka itu tersenyum lebar. Dia menarik kursi di hadapan Azka lantas langsung menjatuhkan tubuhnya disana. “Edward... sepupu Krystal. Masih ingat?”             Mendengar itu, Azka tertawa renyah dan mengangguk pasti. Dia mengulurkan tangan kanannya dan Edward menjabat uluran tangan Azka itu dengan tegas. “Yeah, Edward... maaf, tadi sempat nggak ngenalin.”             “Nggak apa-apa,” balas Edward seraya menarik kembali tangannya. “Sendirian aja?”             “Mm-hm,” gumam Azka sambil meminum es kopinya. “Kopi?” tawar laki-laki itu pada Edward. Edward tersenyum dan menggeleng.             Percakapan singkat itu terhenti. Azka kembali merenung dan berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia kembali mengingat insiden malam itu di lapangan Rajawali. Saat dia berkelahi dengan Ozzy demi Celsi supaya gadis itu tidak lagi diganggu oleh Ozzy. Azka ingat, dia memenangkan perkelahian itu dan meninggalkan Ozzy yang terkapar di lapangan. Dia mengantar Celsi ke rumah dan sampai sekarang, Azka sama sekali tidak berkomunikasi dengan gadis itu. Padahal, sebelum keduanya berangkat ke lapangan malam itu, mereka sempat bertukar nomor ponsel.             Kenapa gadis itu tidak pernah menghubunginya? Apakah... apakah dia yang harus menghubungi gadis itu terlebih dahulu? Azka menghela napas panjang dan bertopang dagu. Dia tidak ingin Celsi menganggap semuanya sudah selesai. Dia ingin gadis itu menghubunginya. Berbicara tentang apa saja. Karena, Azka sudah menganggap gadis itu sebagai temannya.             Benarkah begitu? Atau... ada sesuatu yang belum dia sadari?             Apa... Celsi mulai menarik perhatiannya? Lantas, bagaimana dengan Krystal? Bukankah dia menyukai gadis itu?             “Something’s wrong, bro?”             Azka tergeragap. Laki-laki itu menoleh dan mendapati sosok Edward sedang menatapnya dengan kening berkerut dan tatapan ingin tahu. Cepat-cepat, Azka mengulum senyum dan kembali menghembuskan napas keras.             “Gue juga nggak tau, gue lagi kenapa....”             “Loh? Kok aneh?” Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Soal cewek, ya?”             Azka melirik Edward sekilas dan tertawa kecil. Laki-laki itu kembali meminum es kopinya dan memutuskan untuk bercerita. Semuanya dia ceritakan pada Edward tanpa ada yang tertinggal. Edward sendiri mendengarkan keseluruhan cerita Azka dengan serius, tanpa menyela.             “Nah, itu yang bikin gue heran....” Azka menarik napas panjang. “Setau gue, gue itu suka sama sepupu lo, Krystal. Tapi, semenjak insiden malam itu, gue ngerasa aneh sama diri gue sendiri. Gue jadi mikirin Celsi dan berharap gadis itu menghubungi gue. Tapi, nyatanya, dia sama sekali nggak ngehubungin gue. Mungkin, Celsi mengira bahwa urusan gue sama dia udah selesai.”             “Mungkin, lo memang sudah jatuh cinta sama dia.”             Suara Edward yang terdengar santai itu membuat Azka menyipitkan kedua matanya. “Tapi, gue, kan, suka sama Krystal, Ward....”             “Lo mungkin emang pernah suka sama Krystal, tapi, tanpa lo sadari, lo mulai suka sama si Celsi ini. Itu terbukti dari ucapan lo barusan yang bilang kalau lo mulai mikirin dia dan berharap dia menghubungi lo. Lagipula....” Edward menarik napas panjang dan tersenyum simpati. “Krystal udah jadian sama Rizky.”             Harusnya, ketika dia mendengarkan hal itu, dia marah besar. Atau mungkin langsung mendatangi Rizky dan menghajar laki-laki itu. Tetapi kenyataannya, Azka hanya diam, menatap Edward dengan tatapan datar. Sama sekali tidak kesal, jengkel ataupun marah saat mengetahui kenyataan itu.             Apa itu berarti... yang diucapkan oleh Edward memang benar? Bahwa dia mulai menyukai Celsi?             “Maaf, kalau lo kecewa setelah mendengar hal ini,” ucap Edward lagi setelah jeda sebentar. “Tapi, gue ngerasa lo harus tau soal ini.”             “Nggak apa-apa,” balas Azka sambil tersenyum. “Lagian, entah kenapa, gue juga ngerasa biasa aja setelah mendengar hal itu dari lo.”             Keduanya terdiam. Azka mengaduk es kopinya dengan perasaan tak menentu. Dia kembali memikirkan Celsi. Dia sebenarnya bisa saja datang ke rumah Celsi, tapi, dia bingung harus berkata apa jika gadis itu bertanya kenapa dia bisa datang kesana.             “Nah, giliran gue.”             Suara Edward yang kembali terdengar membuat Azka mendongak dan menghentikan kegiatannya mengaduk es kopinya. Laki-laki itu bisa melihat wajah Edward yang berseri-seri dan senyum lebar yang sepertinya tidak bisa hilang dari wajahnya. Entah si Edward ini sadar atau tidak, tetapi, perhatian pengunjung kafe mulai terarah kepadanya. Perhatian dari para pengunjung wanita, tentu saja.             “Gue juga kayaknya lagi jatuh cinta, nih,” ucap Edward menggebu-gebu. “Sama gadis cantik berambut cokelat. Gadis yang sangat menarik! Manis seperti boneka dan gue hanya bisa berharap, semoga gue bisa bertemu lagi sama dia!” ~~~ “Dimana lo?”             Suara dingin Rizky membuat Andi waspada. Dia tidak yakin bahwa Rizky bisa mengetahui rencananya. Andi sudah menyuruh Putra untuk menahan Rizky sedemikian rupa di sekolah, hingga dia bisa sampai ke sekolah Krystal dan menculik gadis itu. Saat ini, dia sedang berada di salah satu rumah saudaranya yang memang sedang kosong. Andi sengaja datang ke kampus Rolland, meminjam kunci rumah sepupunya itu dengan alasan ingin beristirahat di rumah Rolland karena di rumahnya sedang banyak tamu. Kedua orangtua Rolland sendiri sedang bekerja dan laki-laki itu masih ada kuliah sampai malam.             “Di rumah,” jawab Andi berusaha tenang agar tidak membuat Rizky curiga. “Kenapa?”             “Nggak apa-apa,” balas Rizky sambil menahan emosi. Laki-laki itu mengatupkan rahangnya kuat-kuat dan turun dari atas motornya. Ditatapnya bangunan mewah di depannya itu dengan tatapan membara. “Tadinya, gue mau ke rumah lo. Tapi, gue baru ingat kalau nyokap gue minta ditemanin ke rumah salah satu temannya.”             Andi menghela napas dalam hati. Lega dengan ucapan Rizky barusan. Andi memang sudah berpesan pada orang di rumahnya, jika ada yang datang mencarinya, siapapun itu, bilang saja kalau dia sedang berada di rumah Rolland, saudara sepupunya, karena dia harus menyelesaikan sebuah urusan dengan laki-laki itu.             “Ya udah, nanti malam aja lo ketemu gue nya,” ucap Andi disertai seulas senyum licik. Ditatapnya Krystal yang saat ini sedang berontak di atas lantai dalam posisi telentang, mulut di lakban dan kedua tangan serta kaki yang diikat. Mata gadis itu membelalak ketakutan menatap ke arahnya.             “Oke. Soalnya, mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita.” Rizky mengucapkan kalimat itu dengan nada datar, membuat Andi kembali bingung dibuatnya. ~~~ Setelah mendapat keterangan dari anak SMP itu, Rizky langsung melesat ke rumah Andi. Rumah laki-laki itu memang sedikit ramai. Ada beberapa motor dan mobil yang terparkir disana. Namun, diantara kerumunan itu, Rizky sama sekali tidak melihat Andi. Dia tidak tahu mengapa firasatnya mengatakan bahwa Andi lah yang sudah menculik Krystal dan membawa gadis itu pergi. Kenapa? Karena, Rizky tadi berpapasan dengan Andi di depan sekolah Krystal. Andi memang berkata akan membeli es pisang ijo di kedai yang berada di daerah sekolah Krystal karena es pisang ijo disanalah yang terenak. Namun, ternyata kedai itu tutup! Hal yang membuat Rizky mendadak curiga. Terlebih, perasaannya sempat tidak enak saat mobil Jeep Andi perlahan pergi meninggalkan sekolah Krystal, saat mereka bertemu tadi.             Rizky menghampiri salah satu orang yang sedang berkerumun di depan pintu rumah Andi. Dengan senyum sopan, Rizky menyapa orang tersebut dan langsung menanyakan keberadaan Andi.             “Andi?” ulang laki-laki itu. Rizky mengangguk. “Andi, kan, ke rumah Rolland.”             “Rolland?” tanya Rizky dengan nada heran. Dia belum pernah mendengar nama Rolland sebelumnya. “Siapa, Rolland?”             “Sepupunya.” Laki-laki itu tersenyum lebar. “Andi bilang, dia ada urusan sama Rolland, makanya, dia harus kesana.”             “Mmm... boleh saya tau alamat rumah Rolland?”             Laki-laki itu terdiam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Rizky barusan. Sadar bahwa laki-laki itu sedang mencurigainya, Rizky langsung berkata, “Saya teman sekelasnya Andi. Saya harus mengantar pesanan dari wali kelas kami langsung kepada Andi karena tadi dia harus pulang lebih awal.”             “Oh.” Laki-laki itu mengangguk paham dan semakin tersenyum. “Rumah Rolland di jalan Merpati nomor 12A. Rumahnya mewah dengan pagar tinggi bercat hitam.” ~~~ Dan disinilah dia sekarang. Dia sudah memberitahu Elang bahwa dia berhasil menemukan Krystal. Tadinya, Elang berniat untuk menyusul Rizky, namun, Rizky melarangnya. Rizky berkata akan membawa Krystal pulang, jadi, Elang tidak perlu khawatir. Rizky juga bilang bahwa ini urusan pribadi antara dirinya dan orang yang sudah menculik Krystal itu. Elang tidak bisa berkata apa-apa. Tadi, Elang sudah memberitahu Ayahnya. Ayahnya hanya terdiam dan menyerahkan semuanya kepada Elang. Ayahnya mengikuti semua rencana Elang dengan mengajak Bundanya pergi ke Semarang dengan alasan ada pekerjaan mendadak disana. Elang juga ternyata membatalkan niatnya untuk menghubungi Edward dan meminta bantuan sepupunya itu karena Elang tidak ingin membuat Edward khawatir. Edward itu sangat protektif terhadap Krystal, sama seperti dirinya.             Dengan kedua tangan terkepal kuat, Rizky masuk ke rumah tersebut. Rumah Rolland yang kemungkinan besar menjadi tempat bagi Andi untuk menyembunyikan Krystal. Mobil Jeep Andi terparkir disana. Dia tadi sempat menelepon Andi, dan bertanya dimana keberadaan Andi saat ini. Laki-laki itu berkata bahwa dia berada di rumah, padahal, Rizky baru saja dari rumahnya dan laki-laki itu tidak ada disana.             Dasar pembohong k*****t!             Dengan cepat, Rizky membuka pintu utama rumah itu. Tidak terkunci! Keberuntungan yang bagus bagi Rizky. Laki-laki itu kemudian mengedarkan pandangannya dengan sangar kesegala penjuru ruangan. Kosong. Kemudian, Rizky memutuskan untuk naik ke lantai dua. Disana, Rizky melihat sebuah ruangan yang pintunya terbuka setengah. Dengan jantung yang berdegup liar, Rizky melangkah mendekati ruangan tersebut, membukanya dan tersentak hebat!             Dia bisa melihat bagaimana Andi berusaha menjamah dan menciumi setiap tubuh Krystal yang berontak hebat di atas lantai ruangan tersebut. Darahnya mendidih. Emosinya bergejolak. Akal sehatnya hilang. Seperti kesetanan, Rizky langsung menghampiri Andi, menarik laki-laki itu dengan kasar dan langsung menghajarnya dengan membabi-buta.             Andi yang jatuh tersungkur mengusap darahnya dan mendongak. Matanya terbelalak hebat saat melihat sosok Rizky yang sudah seperti orang kesurupan menatapnya dengan tatapan membunuh yang begitu besar.             “GUE BAKAL MAMPUSIN LO SAAT INI JUGA, ANDI LUKAS!” geram Rizky. Dan semuanya terjadi dalam hitungan detik. ~~~ Dia memang baik-baik saja. Setidaknya, itulah yang dokter katakan padanya beberapa saat yang lalu. Kondisinya memang sedang lemah, tetapi, selain luka sayatan pada lengan atas, memar pada kepalanya akibat hantaman benda tumpul, juga luka tusukan pada perutnya, tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Dia memang sempat mengalami masa kritis, namun, semua itu sudah berlalu. Dia tahu, gadis itu memang gadis yang kuat dan tangguh.             Entah apa yang akan terjadi kalau dia datang terlambat sedikit saja. Dia beruntung karena berhasil mendapatkan informasi dari seseorang yang tidak sengaja sedang mengobrol dengan temannya. Setelah menginterogasi dengan sedikit ancaman, dia tahu, siapa yang sudah membawa gadis yang dicintainya itu. Saat dia tiba disana, pemandangan di depannya sungguh membuat darahnya mendidih! Dia bisa melihat bagaimana gadis itu sedang berontak hebat dibawah tindihan tubuh Andi yang sudah menciumi bagian dari tubuh gadis itu inci demi inci.             Tanpa memperdulikan akal sehatnya, dia langsung menerjang tubuh Andi, menarik baju laki-laki itu dan menghajarnya habis-habisan. Diiringi dengan teriakan keras, wajah yang murka, dia terus saja menendang, mencaci, menghajar Andi dengan keganasan yang tidak pernah dia keluarkan seumur hidupnya. Kalau perlu, dia akan langsung mencabut nyawa Andi detik ini juga.             Napasnya tersengal dan dia berhenti sejenak untuk memberi pelajaran pada Andi. Andi sendiri sudah terkapar dengan darah yang bercecer dimana-mana. Laki-laki itu terbatuk-batuk, mengerang kesakitan dan memejamkan mata. Dia tidak peduli! Dia tidak peduli bahwa yang baru saja dihajarnya dengan membabi buta itu adalah temannya. Temannya selama tiga tahun dia bersekolah di SMA Harapan Putra.             Seakan tersadar, dia menoleh dan melihat gadis itu duduk di sudut ruangan sambil menangis hebat. Tubuh gadis itu gemetar. Pandangannya menyiratkan ketakutan. Dia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan gadis itu. Gadis yang baru saja menerima cintanya. Gadis yang sangat dicintainya. Perlahan, dia maju untuk mendekati gadis itu sambil tersenyum lembut dan hangat. Berusaha memberitahu gadis itu bahwa dia bukanlah Andi. Bahwa dia bukanlah si b******n k*****t itu yang sudah menculiknya dan berniat untuk merebut apa yang gadis itu jaga selama ini.             Saat itulah, dia bisa melihat ekspresi keterkejutan di wajah gadis itu. Mata gadis itu membelalak. Sinar matanya juga menyorotkan ketakutan yang hebat. Dia mengerutkan kening ketika melihat ekspresi aneh gadis itu. Dan semakin kebingungan ketika tiba-tiba saja, gadis itu berdiri dan berlari ke arahnya. Memegang kedua lengan atasnya dan memutar tubuhnya dengan kuat. Dan semuanya terjadi dalam hitungan detik.             Dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Andi menusuk perut gadis itu dengan sebilah pisau yang entah Andi dapatkan dari mana. Dia tersentak hebat, ketika tubuh gadis di depannya itu perlahan limbung dan jatuh tak sadarkan diri. Dengan gerakan cepat, dia menahan tubuh gadis itu dan mengguncangnya sambil berseru menyebut namanya. Namun, gadis itu seakan tuli. Dia tetap memejamkan kedua matanya. Sampai saat ini.             Andi masih dalam pengejaran polisi karena laki-laki itu kabur ketika dia berhasil melukai gadis itu. Dia mengepalkan kedua tangannya dan meninju dinding rumah sakit beberapa kali, sampai buku tangannya memerah. Rasa sakit yang dia rasakan di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya kala dia harus menyaksikan orang yang dicintainya rela mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan hidupnya. Kalau bisa, dia ingin bertukar tempat dengan gadis itu. Agar dirinya saja yang terbaring didalam ruang ICU saat ini.             Perlahan, dia masuk kedalam ruang ICU. Hatinya semakin teriris saat melihat gadis itu dipasangi berbagai macam alat penopang kehidupan. Alat monitor jantung, masker oksigen dan masih banyak lagi. Beruntungnya, kakak kembar gadis itu menyuruh Ayah mereka untuk membawa Bunda mereka pergi ke luar kota agar Bunda mereka tidak perlu mencemaskan anak gadis mereka yang hilang. Memang, hanya Ayah mereka saja yang mengetahui perihal hilangnya gadis ini, karena sang Kakak tidak ingin Bunda mereka menjadi sakit ketika mendengar hal tersebut.             “Hai,” sapanya lirih. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di samping ranjang gadis itu. Suara di alat monitor jantung itu terdengar membahana diseluruh ruang ICU, membuatnya sedikit merinding dan bergidik ngeri. Bagaimana... bagaimana jika garis hijau yang tidak beraturan itu berubah menjadi garis hijau lurus dengan bunyi yang memekakkan telinga? Astaga! Dia tidak bisa membayangkannya! “Bangun, dong... gue kangen. Lo... nggak kangen sama gue...?”             Hanya d**a gadis itu yang naik-turunlah yang menjawab semua pertanyaan yang dilontarkannya barusan. Dia menggenggam sebelah tangan gadis itu dengan kedua tangannya. Begitu erat, begitu kuat. Matanya mulai memanas. Dan, sepersekian detik berikutnya, butiran kristal itu mulai meluncur. Senyum yang ditampilkannya sangat pahit dan terlihat getir.             “Kalau... kalau nanti lo udah bangun, mau, kan, lo jalan-jalan sama gue...?” tanyanya lagi. “Atau... saat lo bangun nanti, lo malah udah lupa sama gue...?”             Hening, lagi. Entah sampai kapan dia bisa bertahan melihat semua pemandangan ini. Kemudian, dia mencium punggung tangan gadis itu. Sebelah tangannya lantas terulur, menyentuh rambut gadis itu dengan lembut dan sangat hati-hati. Perban di kening gadis itu membuatnya takut kalau sentuhannya ini bisa membuat gadis itu kesakitan.             “Jangan pernah lupa sama gue, ya? Nama gue....” Dia menarik napas panjang, berusaha mengisi paru-parunya yang terasa sangat sesak dengan oksigen. “Nama gue... Rizky Aprilio. Dan elo... elo adalah Krystal Violina... cewek begajulan yang doyan tawuran dan bisa merebut semua hati gue. Elo adalah orang yang bisa bikin gue jatuh cinta. Elo... pacar gue... ingat itu, ya....”             Perlahan, Rizky mendekatkan bibirnya ke arah kening gadis itu. Kemudian, laki-laki itu beranjak ke dua pipi mulus Krystal dan berakhir di bibir mungil gadis itu. Lama dia mengecup sepasang bibir mungil yang terlihat pucat tersebut. Ketika ciuman itu selesai, Rizky tertegun. Dia bisa melihat airmata keluar dari mata Krystal yang terpejam. Itu berarti, Krystal menyadari kehadirannya. Krystal mendengarnya!             Perasaan senang yang mulai terbit di hati Rizky harus sirna tatkala suara menakutkan itu terdengar menyeluruh di ruangan ini. Suara yang membuat Rizky membeku dan menatap gadis di depannya dengan tatapan kosong. Dan semuanya menjadi kacau. ~~~ Pemakaman itu berlangsung dengan khidmat. Semua kerabat, teman dan sanak saudara hadir disana. Gerimis yang turun seakan ikut bersedih atas perginya seseorang yang kini sudah tertidur dengan tenang di bawah tanah sana. Isak tangis para pelayat masih sesekali terdengar. Kedua orangtuanya yang langsung datang dari Semarang, kakak kandungnya, kakak sepupunya, teman-teman terdekatnya, Azka, Inggit dan Celsi, serta... Rizky, berjongkok tepat di depan nisan orang tersebut.             Dia gagal diselamatkan. Kondisinya tiba-tiba menurun drastis, langsung hingga ke tahap kritis. Lalu, kejadian itu terjadi begitu saja. Tahu-tahu, garis hijau yang tidak beraturan itu berubah menjadi lurus. Beberapa suster dan dokter langsung menerjang masuk dan mereka terlambat untuk menyelamatkannya.             Satu persatu, para pelayat mulai pergi meninggalkan pemakaman. Begitu juga dengan kedua orangtuanya, Elang yang bergenggaman tangan dengan Septi, Edward dan Inggit yang berjalan beriringan, dan Azka. Kecuali... Rizky. Laki-laki itu masih setia duduk di samping nisan Krystal, mengacuhkan rasa dingin yang mulai menyerangnya akibat hujan yang membasahi tubuhnya.             “Krystal....” Rizky menyebut nama gadis itu dengan lirih. Hatinya terluka, sakit, teriris dan lain sebagainya. Dia baru saja akan memulai kisah cintanya dengan Krystal, namun kini, gadis itu sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. “Kenapa... lo tega...?”             Airmata itu akhirnya mengalir turun. Kedua tangannya terkepal kuat. Dadanya bergemuruh hebat. Dia tidak sanggup. Dia tidak sanggup, Tuhan....             “KENAPA LO HARUS NGORBANIN NYAWA LO BUAT GUE, HAH?!” teriak Rizky menggelegar. Laki-laki itu menggenggam tanah merah di depannya dan melemparnya dengan asal. Rasa sedih, putus asa, frustasi dan amarah itu berbaur menjadi satu di hatinya.             “KENAPA?! KENAPA?! KALAU GUE TAU AKHIRNYA HANYA AKAN MEMBUAT GUE MENDERITA SEPERTI INI, LEBIH BAIK, GUE NGGAK USAH MENYATAKAN CINTA SAMA LO!!!”             Teriakan lagi dan kini, Rizky membiarkan tubuhnya jatuh ke atas tanah merah itu. Menangis disana. Menangisi seseorang yang saat ini sudah tenang di alam lain. Meninggalkannya dengan sejuta kesedihan disini.             Kemudian, Rizky tertegun saat mendengar sebuah suara. Suara yang terus terdengar keras. Memanggil namanya. Dia mengangkat tubuhnya dan menatap ke satu titik. Sebuah sinar putih nan terang menghantam penglihatannya, membuatnya harus menyipitkan mata, berusaha semaksimal mungkin untuk menyesuaikan matanya dengan sinar terang itu. ~~~    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN