Drrrrttt Drrrrt
Getar ponsel yang berkali-kali membangunkan tidur nyenyak Elvrince, dengan berat ia mulai membuka mata dan tangannya menjulur ke nakas meraih ponselnya. Nyawa yang belum terkumpul dan setan yang masih berkeliling di kepala tanpa melihat siapa yang menelfon, Elvrince menggeser tombol hijau.
‘’Jangan.Terlambat.’’ seru Dreyhan dari seberang.
Suara lantang yang menggema ditelinga Elvrince membuat dirinya tersentak. Lalu ia membuka matanya sebesar mungkin Bos Tampan, itulah nama yang tertera. Perlahan ia menempelkan lagi benda pipih berbentuk persegi ke telinganya.
‘’Astaga,,ini masih jam 5.00 pagi dan kau merusak tidur pagiku. Aku tau jam berapa harus sampai.’’ Maki Elvrince. Dunia masih gelap tapi singa dingin itu sudah memancarkan api. Tanpa mendengarkan ocehan bos dadakannya ia mematikan sambungan telfon itu.
“Hah. Ternyata yang tadi malam merampas ponselku untuk memasukkan nomornya. Apa-apaan ini, Bos tampan. Harusnya Singa dingin.” Gumam Elvrince sambil memandang nama baru yang tersimpang diponselnya. Lantas ia mengganti nama itu.
Dreyhan yang memang terbiasa bangun pagi untuk menyempatkan fitnes tapi berbeda untuk hari ini. Ia masih setia terbaring di atas ranjang besarnya sambil memainkan ponsel, melihat jam masih 5.00 pagi. Seketika sesuatu yang konyol terlintas di otaknya,ia tahu kalau dijam seperti ini orang masih tidur. Ia mencari nomor gadis liar itu, berkali-kali ia menelfon tapi tidak ada jawaban dan panggilan terakhirnya terjawab. Ia segera berseru sebelum Elvrince mengucap hallo. Gelak tawa Dreyhan yang mengisi satu ruangan karena ia sukses membuat Elvrince naik darah.
Dreyhan pun menyibak selimut dan beranjak dari pulau empuk untuk mandi, karena hari ini ia akan mengerjai Elvrince. Rasa jengkel karena tempo hari masih membuatnya ingin membalas. Satu jam ia bersiap diri, ia pun melangkah keluar kamar. Keluargannya pasti sudah berkumpul dibawah. Sejak kemarin ia berada dirumah orang tuanya karena permintaan sang ibu. Ia hanya menyapa tanpa ikut sarapan.
Jam menunjukkan pukul 7.30 , Elvrince yang sudah siap. Ia menatap lesu penampilannya di depan cermin. Hari pertama ia ganti rugi. Ah, rasanya ia tidak sanggup. Tapi jika ia tidak pergi laundry clean akan mendapat dampaknya. mengumpulkan kepingan semangat akhirnya Elvrince pun memulai langkah. Mengingat tempatnya yang lumayan jauh,Elvrince memesan taksi online.
Italia..
Di sudut ruangan yang gelap dan bau alkohol yang menyengat, seorang pria duduk termenung di sofa yang menghadap jendela kaca besar. Menatap kosong taman bunga disamping rumah. Sejak kejadian saat sang kekasih mengetahui hubungan gelapnya dengan wanita lain, dirinya kehilangan semangat hidup. Salahkan dirinya yang tidak bisa keluar dari lingkaran hitam yang menjerat. Tahta yang ia miliki sekarang sudah tidak ada artinya lagi, kedudukan yang ia miliki untuk membuktikan jika dirinya pantas bersanding dengan putri tunggal dari keluarga Aurzach sudah tidak berarti. Serakah. Ya, itu dirinya.
Berbagai cara Agride mencari keberadaan Elvrince, namun hasilnya tetap sama. Keluarga Agatha yang ikut berperan dalam data juga identitas Elvrince membuat Agride semakin frustasi. Berkali-kali juga ia menyusup ke ruang control utama Hidden Side, tempat dimana menyimpan berjuta data rahasia tapi keamanan yang dibuat sulit untuk dibobol. Berbagai ilmuwan hebat ia sewa untuk melumpuhkan sistem namun hasilnya tetap sama.
‘’Apa sedikitpun kau tidak mau mendengarkan penjelasanku?’’ gumamnya lirih dengan memandang luar jendela jauh.
Dua tahun berlalu tapi Agride masih dalam keterpurukannya, meratapi kebodohan yang ia buat sendiri. Ia berharap Tuhan berbelas kasihan dengannya. Ia akan membuat Elvrince bahagia jika diberikan kesempatan lagi. Setiap hari yang ia lakukan pergi ke kantor pulang dan mengurung diri dikamar dengan Menghabiskan berbotol-botol vodka.
Elvrince telah sampai di depan pintu apartement Dreyhan. Lebih tepatnya Penthouse. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu, kali ini ia akan benar-benar menunggu sampai Tuan singa membukakan. Ia tidak ingin kejadian kemarin terulang. Cukup lama ia berdiri di depan pintu seperti pengawal dan sekian kali juga ia mengetuk tapi pintu tak kunjung dibuka. Kali ini ia akan mengetuk pintu lebih kuat. saat kepalan tangan yang siap untuk mengetuk, tepat pintu terbuka Kepalan yang terlanjur meluncur itu malah mengetuk jidat Dreyhan.
Pletakk
‘’Dasar gadis gila!‘’ maki Dreyhan, kala ia membuka pintu malah mendapat pukulan jidatnya.
‘’Maaf. Anda terlalu lama membuka pintu.’’ Jawab Elvrince ketus
‘’kau menyalahkanku, hah!” Ucap Dreyhan dengan nada suara naik satu oktaf.
Malas berdebat, Elvrince menyibak Dreyhan kesamping lalu masuk. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Baru membelakangi Dreyhan beberapa langkah ia tercengang tak bisa berkata apa-apa. Kedua matanya menelisik ke segala ruangan. Ia menelan saliva susah payah. Kedua tangan mengepal kuat, rasanya ia ingin melempar pria singa itu ke luar jendela sekarang juga. Rasanya ia ingin berubah menjadi Bom dan meledak di tempat. Bagaimana ia tidak mendidih, rumah yang baru beberapa hari lalu terlihat rapi dan bersih kini berubah menjadi kapal pecah. Bantal sofa yang berserak tak beraturan, bekas kotak makan yang tidak dibuang, bekas tisu yang bercecer,kaleng minuman yang bertebar, korden penutup jendela kaca yang terlepas sebagian. Tanpa disuruh Elvrince berjalan pelan semakin masuk sambil menatap ngeri. Sesampainya di pantry dapur ia menghembuskan nafas kasar.
‘’Untuk baju kotor aku sudah siapkan disana.’’ Seru Dreyhan sambil menunjuk arah pojok dimana ada tiga keranjang besar.
Tanpa banyak bicara atau bertanya Elvrince melepas tas slempang dan menggantung ke bagian tembok dapur yang tertancap paku. Lirikan mata yang tajam ia layangkan pada Dreyhan yang seolah memang disengaja. Ia berjalan mencari letak gudang, karena ruangan itulah ia akan menemukan alat-alat pembersih. Setelah menemukan alat yang ia butuhkan, satu persatu ia mulai melakukan pekerjaanya. Pertama, memunguti sampah kering yang bercecer dan memasukkan ke dalam kantong plastik hitam yang besar. Kemudian merapikan bantal sofa yang terlempar ke bebrapa tempat.
Dreyhan yang mengamati Elvrince dari ruang tengah sedikit tertegun, gadis yang berjalan monda mandir hari ini lebih diam. Bosan karena tidak ada hiburan, Dreyhan pun masuk ke dalam kamar. Ia akan mengamati lewat CCTV yang terhubung dengan laptop miliknya. Menit berganti jam ia terus memandang layar dengan adegan Elvrince yang sibuk membersihkan isi rumah dan tak lama rasa mengantuk menyerang tanpa bisa dicegah.
Entah berapa jam Elvrince membereskan kekacauan yang diciptakan Tuan Singa, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Perutnya mulai demo, ia berjalan menuju dapur dan membuka lemari pendingin melihat ada sesuatu apa yang bisa mengganjal perutnya. Ia tersenyum melihat isi dalam lemari dingin milik Tuan singanya yang begitu penuh bahan makanan yang segar, dari buah, sayur, daging, ikan. Ia segera mengeluarkan bahan yang ia perlukan. ia akan memasak yang tidak akan membutuhkan waktu lama dan tidak berisik. Roti isi daging dengan saus barbeque dan salmon grill ala dirinya telah siap. Sebelum menikmati makanannya ia membersihkan peralatan dapur terlebih dahulu. Tanpa ia sadari dari atas tangga sudah ada seseorang yang mengintai.
Dreyhan tersentak karena sempat tertidur, ia mengalihkan pandangn menatap layar laptop lalu menyeringai licik. Ia turun dari atas ranjang dan berjalan keluar menuruni tangga perlahan. Tepat saat Elvrince membelakangi, ia segera menghampiri makanan yang Elvrince buat. Baru melahap satu potongan kecil Dreyhan berhenti, sejenak ia mengecap dan rasanya tidak pernah ia bayangkan dengan apapun. Selama ini tidak ada makanan yang ia sukai selain masaan ibunya. Tapi gadis di depannya ini membuat makanan yang cocok dengan selera lidahnya. Ia segera menarik lamunannya dan mengangkat piring berisi makanan untuk dinikmati di meja depan TV. Rasa lapar dan rasa yang sesuai dengan lidah membuat Dreyhan makan dengan lahap tanpa memikirkan bagaimana si pembuat.
Helaan nafas lega Elvrince hembuskan. pekerjaanya telah selesai, jatah perutnya telah tersedia. Setelah makan ia akan pergi ke tempat laundry membawa cucian tiga keranjangnya. Setelah mengelap tangannya yang basah, ia berbalik dan menghampiri piring berisi makanan, tapi angannya harus melayang seiring hilangnya sebuah piring berisi Roti isi daging lengkap dengan grill salmon miliknya. Ia mendongak menatap manusia yang sedang duduk di depan Tv sambil menikmati santapan siang. Matanya merah berkaca-kaca, ingin marah dan berteriak tapi tenaganya belum terisi. Dengan langkah lebar ia menghampiri pria yang sedang asik dengan makanan miliknya, beruntung makanan masih separuh lebih. Ia mengendap dari belakang dan Sreettt . roti yang siap masuk ke dalam mulut dan piring beralih tangan. Tidak peduli meski salmon sudah termakan separuh.
‘’hey. Makananku.’’ Seru Dreyhan yang tersentak karena dengan tiba-tiba piring yang ditangannya dirampas.
Tanpa menghiraukan apapun, Elvrince segera melahap roti isi daging dengan cepat. Ia membawa piring itu ke meja pantry dan duduk manis dikursi sambil menikmati.
Dari arah belakang Dreyhan mengikuti Elvrince dan ikut duduk disamping Elvrince, ia baru melahap dua kali tapi piring sudah melayang ketempat semula. Ia menarik piring yang sedang Elvrince nikmati dan terjadilah drama tarik menarik piring.
Praaaanggg
Keduanya tertegun memandang piring yang jatuh dilantai dan pecah, makanan yang mereka perebutkan jatuh berserakan. Elvrince memandang makanan buatannya dengan tatapan nanar.
‘’Kenapa denganmu hah!’’ teriak Elvrince dengan tatapan menusuk.
‘’Kau merebut dariku.’’ Jawab Dreyhan dengan nada tinggi tak mau kalah.
‘’Itu milikku. Aku yang susah payah memasaknya.’’ Kekeh Elvrince
‘’Yang kau masak itu milikku. Jika kau lupa.’’
‘’Eurrrgggggggh’’ Elvrince meremas tangannya sendiri di depan wajah.
"Harusnya aku yang marah. Tanpa seizinku kau berbuat sesukamu, termasuk menggunakan peralatan dapur dan bahan makanan." ucap Dreyhan santai tanpa dosa.
"Diam! Kau. Memang sialan!" umpat Elvrince tanpa sadar.
"Hukuman ditambah." ucap Dreyhan mutlak.
Elvrince tak bisa berucap lagi, memang kenyataannya yang ia masak semua milik Singa pelit didepannya. Ia beranjak dari tempat duduknya tak lama ia kembali dengan sapu untuk membersihkan lantai. Setelah selesai membersihkan lantai, ia meraih tas slempangnya lalu berjalan ke arah pojok menghampiri kantong laundry yang telah ia siapkan.