Masih di posisi duduk melipat kedua tanganya di d**a sambil melihat Elvrince yang membersihkan makanan yang tersebar di lantai, ia terus memandang tanpa ada sesuatu yang ingin ia ucapkan. Tanpa makian, tanpa ada hal yang bisa ia lontarkan. Kosong. Hanya itu. Keterdiaman Elvrince membuatnya sedikit bersalah. Ingat! Sedikit. saat Elvince meraih tas dan mulai menenteng kantong plastik, Dreyhan berseru
‘’kau mau kemana?’’
‘’sungai sss’’ jawab Elvrince ketus, singkat dan tak peduli. sambil berjalan susah payah karena banyaknya cucian yang harus ia angkat.
Elvrince yang memang tidak akan bisa mengangkat, secepat mungkin harus menemukan ide untuk membawa semua cucian ke tempat laundry. Ia berfikir sejenak dan saat melihat sebuah galah, sesuatu muncul di otaknya. Ia mengatur semua cucian untuk dijadikan 2 bagian. Setelah selesai ia berjalan menuju gudang dan meraih sapu yang memiliki ukuran lebih panjang. Ia melepas ujung sapu dan mengambil gagang sapu, karena memang itu yang ia butuhkan. Tidak lupa meraih tali. Ia kembali menghampiri dua kantong plastik itu dan memulai menaruh kantong plastik laundry di masing-masing sisi ujung gagang sapu tadi lalu mengikatnya kuat. Berkali-kali ia memastikan ikatan kuat, setidaknya sampai bawah. Ia memposisikan dirinya di tengah-tengah menunduk lalu meletakkan di pundaknya dengan senyaman mungkin. Dengan sekuat tenaga ia mulai mengangkat meski susah payah tapi idenya cukup meringankan berat, setidaknya kedua tangannya tidak akan pegal. Elvrince mulai melangkah dengan memikul. Ia tidak mau diremehkan seorang pria. Cukup satu pria saja yang membodohi. Ia juga tidak mau terlihat lemah dan manja.
Dreyhan terus mengamati setiap gerak langkah gadis di depannya, matanya membelalak saat Elvrince mencopot bagian ujung sapu dan memasangkan dengan kantong plastik. Sungguh diluar dugaan. Ia sempat mengira jika gadis yang di depannya akan menderita, tapi semua pekerjaan yang ia siapkan dengan mudahnya di selesaikan padahal untuk seukuran wanita cucian tiga keranjang cukup berat. Tapi gadis di depannya dengan mudah menemukan cara yang bisa dibilang unik. Bahkan ia sendiri tidak pernah berfikir. Satu lagi yang membuat dirinya tersentak, gadis di depannya memikul dengan mudah dan terlihat seperti biasa-biasa saja. Ia juga tahu jika gadis didepannya sedikit kesusahan dan berat. Hebat. Kata yang tepat tanpa ia sadari muncul begitu saja.
‘’siapa yang menyuruhmu pergi’’ seru Dreyhan cepat saat Elvrince mulai membuka pintu dan siap untuk melangkah keluar.
‘’tidak perlu kau suruh. Tugasku disini sudah selesai. Sekali lagi kau berteriak menghentikan langkahku, akan ku banting kau!’’ jawab Elvrince tegas tanpa menoleh kebelakang.
‘’Hey! Aku yang bos. Kenapa kau sesuka hatimu.’’ Seru Dreyhan tak kalah tegas.
Bruuggh
Menahan segala rasa sesak dan jengkel itu seperti menelan Nuklir. Elvrince menghembuskan nafas berulang kali untuk tetap mengontrol segala emosi. Ia memutar tubuhnya 180° untuk menghadap pria yang masih setia duduk di kursi pantry menatap dirinya tajam. Wajah datar akan selalu ia perlihatkan pada pria didepannya. Semakin ia lemah maka orang akan semena-mena dengan dirinya.
“Apa lagi!?” tanya Elvrince datar
“kamar mandi belum dibersihkan.” Ujar Dreyhan enteng tanpa dosa.
“Hanya itu?” tanya Elvince
“Ya” jawab Dreyhan singkat
“Membuang waktu.” Seru Elvrince sambil meraih memikul lagi. detik berikutnya suaran pintu yang sengaja banting oleh Elvrince membuat Dreyhan lagi-lagi tersentak.
"kenapa dia suka sekali membanting pintu. Bahakkan juga berani membantah setiap ucapannya” gumamnya lirih sambil memijat pangkal hidungnya.
Dreyhan turun kursi dan bergeges melangkah menyusul Elvrinve. Ia yang bos tapi kenapa gadis itu yang memutar keadaanya, selama ini tidak ada satupun yang membantah perkataannya. akan tetapi, gadis laundry ini tidak Cuma membantah tapi seenaknya. Ingat! Seenaknya. Lama-lama ia menderita penyakit darah tinggi. Bagaimana tidak. Gelar dewa bisnis dan pemimpin perusahaan terbesar harus terinjak saat seorang gadis yang hadir dan membuat onar semua. Salahkan dirinya yang membuat perjanjian gila ini dan sekarang ia pusing sendiri. Baru kali ini ia salah memilih langkah dan keputusan. Harusnya ia juga tahu dan ingat tragedi tragis pagi itu. Kini ia terjebak dengan seorang gadis liar di dalam kandang yang ia buat sendiri.Bodoh.
Bertahan semampu dan sekuat mungkin dengan posisi dan keadaan yang telah dipilih sendiri. Menyesal! Tidak mungkin. Mengingat saat permintaan yang jelas ditentang dan 9menjadikan hubungan dirinya dengan sang ayah dalam ketegangan sesaat. Ia tidak boleh menyerah begitu saja hanya karena hadirnya pria yang tidak punya perasaan. Begitu ia keluar dari rumah rasa lega menyapa dirinya, sesampainya didalam lift ia merogoh ponsel dan menghubungi rekan kerja untuk datang ke Apartement saat ini ia berada. Beruntung hari ini temannya berada disatu jalur dengan Apartemen yang ia pijak. Tiing. Lonceng lift berbunyi dan ia telah sampai lantai bawah. Ia meraih galah yang melintang untuk memposisikan ke pundak kembali, siap untuk diangkat. Begitu pintu lift terbuka, ia mengeluarkan tenaga penuh untuk mengangkat keluar dari lift memikul cucian. Berpasang mata yang berada di lobby memandang Elvrince aneh namun tidak dihiraukannya. Dalam otak Elvrince bagaimana cepat sampai di luar gedung.
Bruugg
Elvrince sudah tidak sanggup lagi untuk mengangkat, lebih baik ia menungggu temannya. Ia mengelap keringat yang mengucur dari dahi dengan punggung telapak tangan. Bos Singa itu benar-benar tak berperasaan. Jika tahu tidak akan dikasih makan, ia pasti akan membawa bekal dari rumah. Beruntung ia sempat melahap roti isi tadi sebelum jatuh. Meski tidak kenyang, setidaknya sedikit mengisi perut biar tidak kosong. Ia merogoh ponsel dalam saku celana untuk melihat sampai mana rekannya berada.
Tiin tiing
Bunyi klakson tepat di depan Elvrince, ia tersenyum saat temannya membuka kaca pintu. Ia meminta temannya untuk menaikkan cucian ke dalam mobil, ia sudah kebabihan tenaga.
“El, kenapa wajahmu pucat?’’ tanya temannya
“tidak apa-apa.’’ Jawab Elvrince bohong.
“Bagaimana kalau kita pergi makan sebentar? Mau kan, kau menemaniku?’’ tawarnya
“Baiklah, kita pergi ke restoran dekat sini.” Seru Elvrince antusias.
Sepanjang langkah, Dreyhan terus menggerutu tidak jelas. Ia yang awalnya ingin mengerjai gadis bernama El tapi malah dirinya yang seperti kehabisan akal. Sesampainya di lobby ia merasa seperti orang bodoh lagi. Untuk apa ia menyusul gadis bernama El itu, bukankah dia akan pergi ke tempat laundry dan akan kembali membawa bajunya yang bersih. Merutuki kebodohan diri tidak ada gunanya, lebih baik ia pergi ke restoran untuk mengisi perut. Hanya tiga potongan kecil Salmon tidak akan membuatnya kenyang. Sudah terlanjur di bawah ia pun memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat dengan berjalan kaki.
“Apa kau tadi kelaparan El? Kalau aku tidak mengajakmu makan, sudah kupastikan kau akan pingsan.” Celetuk rekan Elvrince sambil menyantap hidangan.
“Aku harus bagaimana? Singa itu tidak hanya dingin tapi pelit.” Jawab Elvrince lesu “Tadi aku membuat makanan tapi dia mengambil begitu saja tanpa bertanya padaku, dan terjadilah adegan tarik tambang piring dan berakhir ja-tuh.” Imbuhnya menceritakan secara jelas.
“Tapi aku suka idemu yang memikul tadi” seru teman Elvrince dan mereka tertawa terbahak. Tanpa mereka sadari, jauh dari mereka duduk ada seorang pria yang mendengar dan memperhatiakan interaksi antara Elvrince dan temannya.
Restoran yang hanya berjarak seberang jalan, memudahkan Dreyhan sampai. Baru akan masuk ia berhenti sambil memperhatikan dua orang yang duduk dengan santai di dalam restoran dan menikmati makanan lezat. Dreyhan melihat Segerombolan anak muda yang kebetulan akan masuk ke dalam, ia pun segera masuk dalam gerombolan itu agar kehadirannya tidak disadari Elvrince. Ia memilih tempat duduk yang berada di pojok. Meski di depannya tertutupi gerombolan pengunjung, tetapi ia bisa mendengar dan melihat jika Elvrince tiba-tiba keluar restoran. Jangan tanya darimana ia bisa mendengar. Dreyhan selalu membawa Cip yang berukuran kecil dan benda itu bisa dengan mudah di tempel. Jam tangan yang selalu melingkar di pergelangan tangannya bukan sekedar jam dengan brand ternama. Tetapi semua jam yang ia miliki selalu di desain seperti klip yang bisa dibuka layaknya Dashbord tapi berukuran kecil. Smart.
Dunia yang dimiliki seorang pebisnis bukanlah mudah. Banyak musuh tak kasat mata yang sewaktu-waktu bisa melumpuhkan kejayaannya. Berkat kerjasama sang ayah bersama sahabatnya, ia dan Diego dengan mudah melumpuhkan para penghianat.