Tetes air mata jatuh di punggung telapak tangan Elvrince, seketika ia menyadari bahwa dirinya menangis. Mungkinkah ia sangat merindukan sang ayah, tentu saja. Setelah menyelesaikan ganti rugi ini, ia akan pulang. Entah hanya sebentar atau pulang seterusnya, ia juga belum tahu. Ia akan benar-benar pulang untuk jangka waktu yang panjang. Anjing kesayangannya, deretan mobil hasil balapan liar yang tak terjamah. Ah, mengingat mobil balapan, ia jadi ingat jika Brige menantangnya sabtu malam yang artinya dua hari lagi. Tugas hari ini telah selesai. Elvrince segera berkemas diri untuk pulang, ia melangkah keluar dari walk in closet. Rasa canggung dan aneh tiba-tiba menguasai dirinya saat keluar dari ruang pakaian. Dengan segenap jiwa dan raga ia harus pura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia mendekat

