Dreyhan terus memandang ke arah Elvrince. Ia terus mengamati wajah cantik yang sekarang mulai berisi. Cara makan yang lahap membuat sedikit hatinya tenang. Anaknya ternyata tidak membuat Elvrince kesusahan. Lama sekali Dreyhan memandang Elvrince, Ia bahkan lupa dimana ia berdiri dan berada. Disela aktifitas menikmati makanan, perasaan Elvrince seperti diamati seseorang dari jauh. Ia berhenti dan mengedarkan pandangannya. Deg. Tepat disudut ruangan berdiri seorang pria bertubuh tegap, kekar dan-tampan. Ia jadi teringat tentang mimpinya semalam. Pria itu tersenyum kecil dan sangat tipis, ia tahu jika pria itu tersenyum padanya. Meski senyum yang sangat tipis, tapi kedua bola matanya tersenyum hangat padanya. Seperti senyum kerinduan. “Migael, itu-temanmu?” tanya Elvrince sambil menunjuk

