Tubuh Dreyhan terus berguling membawa tubuh Elvrince. Bantal bulu menutup bagian punggung Elvrince dan telapak tangan menutupi kepala Elvrince bagian belakang meski tidak menutupi semua tapi setidaknya ia sudah berusaha. Tubuh Dreyhan membentur batu besar dan berakhirlah gerak gulir yang membawa tubuh Dreyhan jatuh ke bawah. Di sisa tenaga yang ia miliki, ia menunduk melihat keadaan Elvrince. Darah. Telapak tangan yang mencengkram erat kepala Elvrince berlumur darah segar. Jantungnya berdetak tidak karuan dan tubuhnya bergetar hebat. “El... apa kau masih sadar. Hiks hiks” lirih Dreyhan tepat disamping telinga Elvrince. “Drey, aku pusing.” Lirih Elvrince seperti berbisik. “Bertahanlah. Bantuan akan segera datang.” ucap Dreyhan sambil mengecup dahi Elvrince. Dreyhan sudah tidak sanggu

