Elvrince memandang wajah Dreyhan tanpa berkedip. Gumpalan belenggu yang selama ini telah mencair. Tidak ada lagi yang menyumbat dalam hatinya. Ia yan selalu menyukai pria romantis kini jatuh kedalam cinta pria dingin yang jahil. Elvrince tak menyangka jika ia akan terjebak oleh pesona pria yang bisa dikatakan jauh dari angannya. Jangankan bersentuhan seperti ini, mengenalnya saja tidak. “Apa kau baru menyadari jika aku ini tampan, hum?” celetuk Dreyhan pada Elvrince yang terus memandanginya dengan wajah berseri. “Yeah, aku akui jika kau tampan.” Jawab Elvrince santai tanpa mengalihkan pandangannya. Dreyhan tersenyum. Baru kali ini obrolannya manis, biasanya dia akan mengelak atau mencari kata yang bisa menciptakan adu mulut. Di sudut hati kecilnya tersebit rasa sedih, karna tinggal bebe

