“Melihatmu diam seribu bahasa sepertinya kau akan menyetujui apapun keputusanku untuk membayar hutangmu.” Ucap Dreyhan mutlak.
“Saya akan bekerja extra untuk membayar uang yang telah anda keluarkan.” Jawab Elvrince dengan kepala yang masih menunduk.
‘’Kau pikir gajimu cukup untuk membayar dokter kemarin,hm? Aku tidak suka dengan hal yang berkelit. Jadi, kau akan menjadi asisten di rumahku selama dua bulan.’’ Ucap Dreyhan
‘’Tidak. Aku masih kuliah dan aku menolak. Aku akan mencicilnya sedikit-sedikit’’ bantah Elvrince .
‘’Kau pikir aku butuh uang recehmu itu. Baiklah, jika kuliah yang menjadikanmu alasan’’ setelah mengatakan itu, Dreyhan meraih ponsel yang tergeletak di meja lalu menghubungi seseorang
‘’Berikan jadwal kuliah gadis kemarin, dan atur segala tugas mata pelajaran diselesaikan hanya lewat email selama dua bulan’’ ucap Dreyhan tanpa basa basi begitu tersambung.
[ada apa denganmu? Maksudmu Elvrince? ]
‘’Urus saja. Dia masih punya urusan denganku.’’
[kau gila Dre.]
Setelah menghubungi seseorang yang tak lain adalah sahabatnya Leo, dosen Elvrince. Dreyhan mengalihkan pandangan ke arah Elvrince yang hanya terdiam tak berdaya.
‘’Selesai. Mulai besok tepat jam 8 kau harus sampai dirumahku,membersihkan seluruh rumahku dan membawa baju-baju kotor ke tempat laundry dan kau harus memastikan kebersihan semua barang-barang milikku. Dan aku tidak ingin kali ini ada kesalahan lagi.’’ Setelah menjelaskan Dreyhan berbalik duduk di kursi kebesarannya lalu mengetik sesuatu.
Apa yang barusan Dreyhan ucapkan membuat wajah Elvrince 180° berubah masam. Ia berjanji akan mengganti rugi dengan mencicil tapi kenapa pria yang di depannya ini membuat dirinya seperti robot yang harus mengikuti. Astaga, beberapa menit dengannya saja membuat seperti dicekik apalagi dua bulan menjadi asistennya. Tapi jika ia membantah sudah pasti usaha milik bibi Grace akan diratakan,mengingat pria yang di depannya adalah orang ternama di negeri ini. Bagaimana juga dengan teman-temannya yang menggantungkan hidup dengan bekerja di tempat laundry itu. Tidak ada pilihin selain mengiyakan kata-katanya. Ia akan tahan untuk dua bulan.
Selang beberapa menit,Dreyhan berdiri membawa lembaran kertas lalu melangkah menuju sofa.
‘’Apa yang otak kecilmu itu pikirkan? Duduklah!‘’ seru Dreyhan sambil menunjuk dengan dagu.
Elvrince mengikuti perintah Dreyhan, ia melangkah dan duduk di sofa seberang. Ia berharap segera pergi dari ruangan ini. Ia tidak menyangka kenapa hidupnya sekarang di atur,baru dua tahun ia bebas dan sekarang dipertemukan dengan sosok pria yang begitu pelit.
‘’Cepat selesaikan dalam sesingkat mungkin.’’ Ucap Elvrince ketus dengan menghempaskan bokongnya ke sofa.
‘’Kau yang bos atau aku yang bos.’’ Ucap Dreyhan dengan menaikkan sebelah alisnya. ‘’Dengar! Kau yang telah membuatku malu karena rapat tanpa jas, jadi kau harus mengganti rugi yang setimpal’’ imbuhnya.
Dreyhan menarik nafas pelan,gadis didepannya sungguh ingin membuat kepala meledak. apa ketampanannya sudah luntur? tapi ia rasa tidak. Seharusnya dia senang bisa berdekatan denganku,pria tampan yang di sanjung seluruh wanita. Ia menggeleng pelan, bisa-bisanya berfikir ingin dikagumi gadis yang berada di depannya. Baru satu hari bertemu sudah mencoba memanipulasi otaknya.
‘’Tanda tangani berkas itu dan kau boleh pulang. Selesaikan tugasmu yang dikirim Leo dan ingat! Sekali kau melakukan kesalahan maka semakin panjang ganti rugimu.’’
‘’Konyol.’’ Gerutu Elvrince sambil meraih berkas yang diatas meja dan membubuhkan tanda tangan. ‘’aku akan datang tepat waktu.’’ Ujar Elvrince sambil menyerahkan lembaran kertas.
‘’Bagus.’’ Ucap Dreyhan datar.
Tanpa menunggu lagi Elvrince beranjak dari duduknya untuk segera keluar dari ruangan Dreyhan. Berada di satu ruangan bersama singa dingin membuat dirinya gerah. Baru menyentuh knop pintu ia menoleh kebelakang dimana Dreyhan yang memandangnya dengan tatapan datar
‘’Dasar singa dingin!’’ makinya lalu keluar dengan membanting pintu sedikit keras hingga membuat Dreyhan tersentak.
Dreyhan mengusap wajahnya kasar ‘’Ya tuhan..makhluk apa yang kau pertemukan denganku, kenapa dia seperti serigala.’’ Desahnya frustasi.
Dreyhan pun beranjak untuk mengambil minum di lemari pendingin yang tersedia di ruangannya, berhadapan dengan gadis liar membuatnya Dehidrasi seketika. Belum sempat ia meneguk air yang baru diambil suara dering ponsel yang asing masuk ke telinga Dreyhan. Ia mencari di mana sumber suara itu dan ternyata di sofa tempat Elvrince tadi duduk. Ia meraih ponsel yang tergeletak tertera nama Mommy calling dengan ragu ia menjawab panggilan mommy Elvrince.
[El, kenapa lama sekali jawabnya nak. Apa kau sedang tidak sehat?] suara lantang yang menyambut begitu tersambung, membuat Dreyhan sedikit menjauhkan ponsel dari telinga.
‘’Maaf nyonya, dia sedang mengerjakan tugas yang menumpuk’’ ucap Dreyhan
[Apa anda dosennya?baiklah. maaf aku mengganggu]
‘’Tidak masalah nyonya’’
setelah sambungan telepon ditutup,suara ketukan pintu terdengar dan masuklah seorang wanita dengan pakaian formal yang sexy. Sang wanita itu melangkah menghampiri Dreyhan yang duduk di sofa.
‘’Laporan yang anda minta Tuan,’’ ucapnya dengan nada sensual dan dijawab dengan deheman.
‘’Apa ada lain yang bisa saya bantu Tuan?’’ tawarnya dan kali ini terdengar benar-benar menggoda.
Dreyhan menghela nafas kasar. Dirinya butuh penghilang stres saat ini,gadis bernama El membuat otaknya beku.
‘’Ya. Aku butuh pelepasan’’ ucapnya sambil meletakkan minuman kaleng ke meja kaca.
Dengan perasaan jengkel bercampur kesal, Elvrince terus berjalan menyusuri trotoar. Ia enggan untuk pulang. Terik matahari yang menyengat tubuh tak dihiraukan. Jarak yang ia tempuh dengan berjalan kaki terbilang cukup jauh, hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk di bangku taman. Otaknya terasa kosong saat ini, kenapa pertemuan tidak sengaja kemarin harus membawa dirinya untuk mengikuti semua perintah dan perjanjian yang tak masuk akal. Bodohnya lagi ia terperangkap tanpa memiliki celah untuk lolos.
“Dua bulan jadi asisten rumah tangga, ya Tuhan..jika itu orang lain mungkin akan menyenangkan tapi ini berbeda.” desah Elvrince pelan.
Sekian lama ia merenung ditempat yang sama, rasa lapar yang mulai datang membuyarkan lamunan Elvrince. Dengan malas ia merogoh ponsel dalam saku tapi tidak ada. Sejenak ia terdiam dan tangan yang masih meraba semua saku celana tetapi ponselnya tidak ada. Seingatnya terakhir kali ia mengirim pesan pada temannya saat di lobby.
‘’Sial! ponselku terjatuh di sofa ruangan pria itu.’’ Ucap Elvrince sambil menepuk jidatnya sendiri. Ia harus segera pergi kembali ke kantor untuk mengambil ponsel yang tertinggal. Ia berharap tidak ada satupun yang menghubungi ponselnya. Dengan langkah cepat ia berlari memasuki lobby, tanpa bertanya atu menyapa ia melangkah cepat menuju lift kusus untuk naik ke ruangan Ceo. Lift yang ia naiki akhirnya sampai, ia melangkah keluar lift. Hanya beberap langkah kini ia sudah berada didepan pintu, perlahan menjulurkan tangan mengetuk 3x tapi tidak ada jawaban. Sekian lama ia berdiri didepan pintu,dengan keberanian penuh ia nekat masuk. Jika ia mendapat tambahan hukuman tidak apa, yang terpenting ia bisa mendapatkan kembali ponselnya. Perlahan ia mendorong pintu besar itu dan melangkah masuk,saat ia menoleh akan meneruskan langkahnya menuju sofa seketika kedua matanya terbelalak dan menjerit
‘’Aaaaaaachhh....’’ teriak Elvrince sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Dreyhan dan si wanita itu tersentak mendengar teriakan yang melengking kuat masuk ke telingan keduanya, secepat kilat Dreyhan mendorong sang wanita yang berada dibawahnya dan menaikkan celana. Kemudian mengatur expresi wajah datar. Sang wanita buru-buru membenahi penampilannya saat melihat Elvrince berdiri sambil menutup wajah.
‘’Apa yang ka lakukan disini! Apa kau tak tahu ketuk pintu,hah!’’ bentak Dreyhan.
‘’Mana aku tahu,jika anda sedang mesum.’’ Jawabnya dengan masih menutup wajahnya.
‘’Selain liar, kau juga pandai menjawab perkataanku.’’ Ucap Dreyhan dengan nada tinggi,
‘’Ya sudah. Aku minta maaf, sekarang berikan ponselku dan aku akan pergi.’’ Ucap Elvrince ketus sambil menjulurkan tangan meminta barangnya dan tangan satunya masih setia menutup wajah.
‘’Astaga...kau bisa mengambilnya besok.’’ Ucap Dreyhan dengan geraman sambil menyambar ponsel Elvrince yang di kursi lalu menyerahkan.
“Terimakasih.” Ucap Elvrince setelah menerima ponsel dan berbalik untuk segera pergi,tapi langkahnya tertahan saat lirihan kecil namun jelas di pendengarannya.
“Dasar! Gadis tidak tahu Etika.” Lirih Dreyhan tapi masih bisa didengar Elvrince.
“Dan kau.Tuan muda mesum.” Ucap Elvrince tanpa membalikkan badan.
Mata Elvrince berkaca-kaca dan wajahnya yang merah menahan air mata yang akan tumpah. Ia berjalan secepat mungkin dan berharap segera keluar dari area perusahaan. Entah mengapa melihat yang terjadi barusan membuat dadanya sesak kembali. Sekuat mungkin ia menahan air mata yang tidak seharusnya keluar. Begitu hebat kah luka yang Agride tanam dihatinya, dan apa yang ia lihat diruangan tadi seperti mengingatkan kenangan pahit dua tahun lalu. Ia mengusap air mata yang menitik jatuh dengan kasar. Beruntung dirinya masih didalam lift tidak ada orang yang tahu.