Tuan Ceo

2187 Kata
Perlahan kedua mata si gadis yang terbaring di Ranjang terbuka. Mata Hazel dan bulu mata lentik alami yang begitu indah,perlahan menelusuri ruangan dimana dirinya terbaring. Ruangan yang asing dengan khas bau mint yang menguar membuat si gadis mengerjap,detik berikutnya dia terduduk mencari tas miliknya namun nihil.Elvrince. gadis yang terbaring di ranjang king size milik Dreyhan itu akhirnya terbangun dari pingsan. ELvrince yang tidak tahu dia berada dimana, menyibak selimut tebal yang membalut tubuhnya tadi dan mulai beranjak untuk meninggalkan tempat. Tapi baru saja ia menjejakkan kaki dan mulai melangkah, rasa pusing di kepala tiba-tiba menghampiri. Ia yang merasa akan terjatuh tangannya mencari pegangan untuk menahan beban tubuhnya. Nakas ialah satu-satunya yang bisa ia jangkau, meski dirinya berhasil berpegangan tapi tangan Elvrince tidak sengaja menyampar gelas dan berakhir jatuh. Rasa pusing di kepala yang begitu kuat membuat tubuh Elvrince meluruh ke lantai, kedua telapak tangan memegangi kepala. Ia ingat benar apa yang terjadi sebelumnya, menangis di pinggir danau dan detik selanjutnya gelap. Begitu ia bangun, ruangan asing dan wangi khas seorang pria menyapa indra penciumannya. Rasa takut mulai menghampiri dirinya,berharap seseorang menolong dan mengeluarkan dirinya dari tempat ini.pikirannya melayang tidak karuan,hal-hal aneh yang terus berputar di kepala seoalah dirinya akan dijual atau dianiaya. Bahkan teriakan seseorang ia abaikan dan masih setia menunduk sambil memegangi kepalanya. Melihat Elvrince yang menunduk menahan sakit, Dreyhan mendekati dan ikut duduk melantai. ‘’hei. gadis preman, Kau mau lari?’’ sapa Dreyhan datar dan membuat Elvrince mendongak. ''kau...bagaimana aku bisa ada disini? Apa kau menculikku?’’ ‘’heh! Apa kau bilang?menculik. siapa yang mau menculikmu,dasar gadis tidak punya etika.’’ Maki Dreyhan yang tidak terima dituduh menculik karena memang dia tidak menculik. ‘’Lalu bagaimana bisa aku berada disini bersamamu?’’ tanya Elvrince ‘’Suaramu membuat telingaku sakit. Naiklah ke ranjang dan tunggu makanan datang lalu minum obatmu. Kau harus sembuh dan membayar kembali uang yang aku keluarkan untuk memanggil dokter’’ ucap Dreyhan santai sambil beranjak dan berjalan keluar. ‘’Aku tidak memintamu untuk memanggil dokter.hey! kau dengar tidak.’’ Teriak Elvrince dan yang diteriaki sudah tiada. ‘’Dasar pria menjengkelkan’’ imbuhnya dengan nada geram. Daripada ia mendesah tidak jelas, lebih baik ia kembali naik ke ranjang. Lagipula nanti ia ganti rugi jadi,tidak ada salahnya menikmati ranjang besar dan empuk. Elvrince hanya menatap langit-langit kamar tanpa memikirkan sesuatu. Didalam otaknya hanya kosong. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran tanpa arahnya, ia menoleh ke arah pintu yang terbuka menampilkan sosok pria yang berbeda. Pria tampan bertubuh tegap dengan kemeja hitam yang melekat membentuk tubuh atletis berjalan mendekati ranjang. Elvrince masih tertegun memandang sosok pria tampan bagai dewa semakin mendekat padanya. “Maaf mengganggumu,” seruan singkat sang pria membuyarkan imajinasi nakal di otak Elvrince. “Ma-maaf sudah merepotkan anda pak Leo,” ucap Elvrince terbata. Ia merasa malu tertangkap basah karena mengagumi. “Makanlah! Agar kau cepat pulih. Aku pergi dulu.” Ujar Leo sambil menyodorkan kotak yang berisi makanan. “Emm,pak tunggu!” seru Elvrince cepat begitu Leo mulai melangkah. “Ya,” “Tolong antarkan saya pulang saja, Ongkosnya beri saya tambahan materi.” ucap Elvrince sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak mau berlama-lama dirumah yang tidak ia ketahui pemiliknya. Leo adalah salah satu dosen Elvrince yang terkenal ramah dengan mahasiswa. “Saya akan mengantarkan nanti, tapi makan dulu!” perintah Leo. “Saya bisa makan nanti sampai dirumah pak, saya juga belum menghubungi tempat kerja kalau hari ini saya tidak masuk” ucap Elvrince memelas dan diangguki Leo. Elvrince segera turun dari ranjang meski kepalanya masih terasa berat dan pusing tapi ia tidak menghiraukan yang terpenting ia bisa pulang dengan aman daripada ia terjebak bersama pria berwujud singa. Apapun bisa terjadi jika dua manusia berlawanan jenis berkumpul disatu atap yang sama. Ia tidak mau hal buruk terjadi padanya atau yang lebih parah. Jadi,memaksa seseorang untuk mengantar pulang itu jalan terbaik meski orang yang ia paksa berpikir bahwa dirinya tidak tahu malu ketimbang menjadi korban singa. Elvrince meraih tas dan memasukkan obat yang belum sempat ia minum, tidak lupa makanan ia tenteng. Ia mengikuti langkah Leo dan begitu sampai di ruang tamu seruan yang bak singa memberhentikan langkahnya dan Leo. ‘’kalian mau kemana?’’ seru Dreyhan saat melihat dua orang yang berjalan beriringan menuju pintu keluar. ‘’dan kau! Urusan kita belum selesai.’’ Imbuhnya sambil menunjuk ke arah Elvrince. ‘’aku banyak tugas kuliah. Kau bisa menagihku besok atau jika kita bertemu lagi.’’ Ucap Elvrince sambil mendorong tubuh Leo dari belakang untuk melangkah. Elvrince berhenti sejenak begitu sampai diluar pintu lalu menoleh ke arah Dreyhan dan berteriak, ‘’Terimakasih tuan cerewet atas bantuanmu,’’ Belum sempat Dreyhan meneriaki balik, Elvrince sudah lari dengan menarik tangan Leo. Anggap saja itu umpatan untuk ucapan kasarnya tadi. Pria itu yang menolong dan memanggilkan dokter kenapa harus Elvrince yang membayar kan tidak adil. Kalau tidak mau rugi seharusnya biarkan tergelak saja di taman. Bagaimana bisa pria kaya yang memiliki apartemen mewah masih perhitungan dalam menolong seorang wanita. ‘’El, kau baik-baik saja?’’ tanya Leo sambil fokus mengemudikan mobil. ‘’Ah, iya pak, aku baik-baik saja. Aku turun di perumahan depan tikungan ya pak?’’ jawab Elvrince lalu menunjukkan dimana akan turun. ‘’kau tinggal di area sini?’’ tanya Leo dan diangguki Elvrince. ‘’Jaga dirimu baik-baik El. Kali ini aku memberimu tumpangan gratis’’ ucap Leo ketika sudah sampai di gerbang masuk perumahan Elvrince. ‘’Terima kasih untuk semua pak Leo, tadi aku sempat berfikir akan terjebak dengan singa datar’’ ucap Elvrince sebelum turun dari mobil. Begitu Elvrince turun dan sudah masuk perumahan,Leo menjalankan mobilnya sambil mengingat setiap perkataan Elvrince dan sebutan untuk sahabatnya Dreyhan. Sejauh yang ia tahu, Dreyhan pria dingin yang tak akan peduli dengan siapa pun kecuali sahabat terdekat dan keluarganya saja. Dirinya juga sempat terkejut saat Dreyhan menghubungi untuk menyusul ke apartement dan memanggilkan seorang dokter. ‘’Hah,omong kosong apa kau Dre...aku harap kau menemukan hidupmu kembali lewat gadis ini. Aku sudah bosan melihat wajah dingin tanpa arah masa depan dengan seorang wanita.’’ Gumam Leo disela perjalanan. Masih menahan berat dikepala Elvrince berjalan lebih cepat agar segera sampai di rumah. Tujuh menit terasa satu hari, Elvrince menyeret kakinya sekuat mungkin dan akhirnya kini ia telah sampai di rumah. Elvrince makan dengan dengan lahap setelahnya ia mengambil obat dalam tas dan segera meminum. Setelah selesai dengan makan Elvrince tidur berharap obat yang diberikan dokter tuan singa membuat tubuhnya kembali segar besok. **** ‘’El......bangun! kenapa hari ini tidurmu begitu nyenyak sehingga lupa bangun.’’ Teriak wanita paruh baya yang menggedor jendela kamar Elvrince. Elvrince yang mendengar gedoran dan teriakan sontak membuka mata dan terduduk. Ia meraih ponsel yang terletak di atas nakas,matanya memandang tak percaya saat melihat angka di ponsel. 08.00 pagi. Ia segera bangun dan membuka jendela agar teriakan itu berhenti. ‘’pagi bibi...’’ sapa Elvrince sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ‘’kau masuk siang kan, jadwalmu mengantar jas Tuan Clief El. Dia tidak akan suka jika jasnya diantar tidak tepat waktu.’’ Tegur Grace. Wanita paruh baya yang merupakan tetangga Elvrince juga atasan tempatya bekerja selama dua tahun. ‘’aku akan bersiap bibi, akan aku usahakan tepat waktu.’’ ‘’aku sudah siapkan sarapan untukmu. Jadi kau harus datang ke rumahku atau akan ku potong gajimu.’’ Peringat Grace. ‘’jangan membuatku gemuk bibi,’’ ucap Elvrince manja ‘’gemuk atau kurus kau akan tetap cantik El,’’ seru Grace dan Elvrince hanya tersenyum mendengar penuturan wanita paruh baya. LAUNDRY CLEAN... ‘’Nora, apakah jas tuan Clief sudah siap? Aku harus sampai sama tepat jam 10.’’ Tanya Elvrince pada rekan kerjanya. ‘’sebentar lagi El, tadi masih ada bagian yang kusut jadi aku harus rapikan lagi’’ ucap Nora rekan kerjanya. Sebuah pesan masuk ke ponsel Nora membuat Nora menyeringai licik. Kali ini rencananya tidak akan gagal lagi. ‘’ini selesai El...cepat kau antar’’ seru Nora. ‘’ah, iya.’’ Jawab singkat Elvrince sambil menyambar beberapa jas. Tanpa ada rasa curiga apapun Elvrince melenggang pergi. Karena banyaknya yang ia antar ia meminta salah satu temannya untuk menemani. Untuk pengantaran jas para pengusaha Elvrince menggunakan mobil yang bagian belakang tertutup seperti box, di dalam sudah di rancang seperti rak gantung yang menyatu ke sisi box jadi jas akan tetap dalam kondisi baik tak terlipat. Ditengah perjalanan dalam pengantaran, tiba-tiba mobil yang Elvrince kendarai hilang kendali. Dengan gerakan cepat ia menginjak rem dan mematikan mesin secara mendadak. Ia segera turun untuk memeriksa bagian apa yang sudah menghalangi pekerjaannya dan ternyata ban mobilnya kempes. Jika ia menunggu sampai selesai diganti pasti akan terlambat dalam pengantaran. Elvrince merogoh ponselnya dan mencari nomer seseorang untuk menangani mobil. ‘’sebentar lagi teknisi akan datang untuk mengganti ban yang kempes, tolong kau jaga! Aku akan mengantar jas milik Tuan Clief. Kuharap aku datang tepat waktu’’ ucap Elvrince pada Rekannya. ‘’aku akan tetap disini El. Kau tenang saja, aku percaya kau mampu mengatasi dewa dingin itu. Setela selesai aku akan menyusulmu’’ jawabnya menyemangati Elvrince. Elvrince pun bergegas mencari taksi agar cepat sampai tujuan. Sepanjang perjalanan rasa gelisah tak hentinya mengusik jiwa Elvrince. Berkali-kali ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan yang menunjukkan sepuluh menit lewat dari jam yang ditentukan pemilik jas. Jalan sepertinya hari ini tidak bersahabat dengan Elvrince, dari ban yang tiba-tiba kempes, jalan pintas tiba-tiba ditutup sehingga membuat taksi yang ia tumpangi harus memutar arah. AUSTON CORP. Seorang pria berjalan mondar-mandir sambil berkali-kali melirik arlogi yang melingkar dipergelangan tangan. Sepuluh menit lagi rapat dimulai dan jasnya belum juga sampai. Rasa kesal bercampur marah tercetak jelas diwajah tampannya. Kesabarannya habis sudah. Ia merogoh ponsel dalam saku celana dan menekan nomor. ‘’jika tukang laundry datang, tahan dia! Suruh temui aku.’’ Perintahnya pada bawahan. Tanpa menunggu jawaban dari seberang telfon. 10.45 Elvrince sampai. Gedung yang menjulang tinggi didepannya seakan ingin menelan dirinya hidup-hidup. Dua tahun ia menjalankan tugas khusus mengantar jas pemilik perusahan tidak sekalipun mengecewakan atau terlambat. Tapi hari ini ia akan benar-benar dicincang halus. Dengan langkah pasti ia melangkah memasuki lobby,apapun yang terjadi ia akan bertanggung jawab meski pekerjaannya yang menjadi taruhan. Seperti biasa, ia akan menghampiri bagian Receptionis dan jawaban sang petugas kali ini cukup membuat hatinya terbentur tebing. Dengan sejuta kalimat penenang ia rapalkan agar tetap tenang untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Jangan sampai dirinya pingsan di tempat karena perkataan tajam yang kata para pegawai mengerikan. Ia mengirim pesan kepada rekannya agar mengantarkan kepada para konsumen dan mengatakan bahwa Tuan yang bernama Clief ingin dirinya menemui. Tak lama pesan balasan masuk dengan jawaban yang membuat bibirnya mengembang. “mari ikut saya Nona,” seruan seorang wanita membuat Elvrince mendongak dan segera beranjak mengikuti langkah sang wanita. “apa anda akan menemani saya di dalam nanti?” celetuk Elvrince disela langkah mengikuti si wanita. ‘’tugas saya hanya mengantarkan ke ruangan saja.’’ Jawabnya singkat. Elvrince lebih memilih diam, ia cukup menyiapkan dirinya untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Bertanya pada wanita di depannya akan sia-sia saja. Ting bunyi lift tanda bahwa ia telah sampai. Jantung Elvrince berdegup kencang saat langkah kakinya semakin dekat dengan ruangan, sebisa mungkin ia harus mengatur dirinya agar tidak salah dalam ucapannya nanti. Sesampainya di depan pintu besar, sang wanita menyuruh Elvrince masuk setelah ketukannya dijawab sang pemilik ruangan. Dengan langkah pasti Elvrince menyentuh knop dan mendorong pintu besar lalu masuk dan menutup kembali pintunya. Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja putih berdiri didepan jendela kaca besar yang menghadap ke hamparan kota yang begitu sibuk atau bisa dikatakan kota yang tak pernah tidur. Semenjak ia kembali berbagai masalah datang. Dari rekan kerja yang mencoba mencari keuntungan lebih,gadis yang tiba-tiba muncul membuat kepalanya seakan ingin pecah dan sekarang kurir yang mengantar jas tledor. Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Tanpa menoleh ia mempersilahkan masuk. QPandangan Elvrince begitu masuk tertuju pada seorang pria yang berdiri tegap menghadap luar jendela. Dengan ragu ia brjalan pelan mendekat meja kerja, kedua tangan saling meremas. Ia menunduk memikirkan kata apa yang pantas ia ucapkan untuk kesalahan yang fatal ini. Hingga suara bariton yang terdengar menahan emosi akhirnya masuk ke telinga Elvrince ‘’apa kau sudah bosan kerja!’’ ‘’ti-tidak Tuan. Maafkan saya,karena tadi ban mobil kempes ditengah jalan dan jalur singkat sedang diperbaiki jadi taksi yang saya tumpangi berputar arah.” Jawab Elvrince cepat tanpa menaikkan wajah. Sang pria memutar badan mendengar jawaban Elvrince dan betapa terkejutnya jika orang yang selama ini mengantar jas kusus miliknya adalah gadis yang membuat isi kepala ingin keluar dari kemarin. Pria itu Dreyhan. Tanpa Elvrince tau siapa orang yang sedang berada di depannya karena ia masih setia menunduk memandang ujung sepatu. Dreyhan melangkah perlahan dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celana,menyeringai penuh makna. Hal yang ia tunggu kini berpihak padanya. “Sepertinya kau memang diwajibkan membayar hutang,” ucap Dreyhan sambil bersedekap d**a begitu sampai didepan Elvrince. Mendengar suara yang tidak asing membuat Elvrince memberanikan diri mendongak, kedua matanya mengerjap tak percaya. Pria yang kemarin ia maki ternyata orang yang berpengaruh. Lebih parahnya lagi pria yang sekarang didepan matanya menagih hutang, oh astaga! Apa dia benar-benar sepelit itu. Tenggorokan Elvrince terasa tercekat,tidak ada kata yang ia ucapkan. Rangkaian kata yang sempat ia rangkai sepanjang perjalanan kini tidak berguna lagi. Percuma ia memberi alasan karena hasilnya akan sama. Pria di depannya tidak akan mengenal pengertian. Satu-satunya yang Elvrince lakukan ialah diam dan mendengarkan apa yang akan pria itu minta untuk pertolongan kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN