"Sekali lagi Ayah tekankan, Diane. Ayah tidak akan mendengarkan penolakanmu." Lucas kembali ikut bersuara. Tanpa rasa iba dia selalu memutuskan segala hal tentang kehidupan Diane. Bukankah itu sangat jahat bagi seorang ayah terhadap putrinya?
"Tapi, Yah. Bukan soal penampilan sopir ayah ini, bukan juga soal apa pun, ini soal masa depan Diane, Yah. Bagaimana bisa Diane mempercayakan begitu saja hidup Diane kepada orang yang tidak Diane kenal," tutur Diane menggebu-gebu.
Dan dia kembali teringat kalimat Arsenio yang mengatakan bahwa lelaki itu sangat sanggup membiayai kuliahnya. Apa dia tidak salah dengar? bahkan dia hanya seorang sopir.
Khawatir andai lelaki itu bisa membaca pikirannya yang cenderung menghina itu.
"Bukankah Arsenio sudah cukup berbaik hati kepadamu? Dia akan berusaha mewujudkan cita-citamu," balas Lucas kini mulai melunak. Ikut merasakan sesak yang diderita oleh Diane, putri bungsunya.
Dan tunggu dulu, baik hati? Saat Diane di paksa menggadaikan sisa hidupnya pada pria asing, masih bisa berkata berbaik hati kepadanya? Bahkan ini perlakuan terkeji yang pernah Diane dapatkan selama dia ada di dunia.
"Tapi, Yah," rengek Diane lagi mencoba mengiba belas kasih dari ayahnya.
Lucas hanya diam menatap kosong ke arah jendela. Dia tidak mengindahkan sedikit pun penolakan Diane.
"Baik." Setelah sepersekian detik Diane berpikir.
"Diane merasa tidak pernah dianggap berharga di sini. Diane akan menyanggupi pernikahan paksa ini. Tapi dengan satu syarat," putus Diane pada akhirnya. Dia merasa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan di keluarga ini.
Hatinya terlampau sakit merasakan perlakuan kedua orang tua juga kakak perempuannya.
"Dari tadi, kek. Gitu aja susah banget sampe bikin ribut." Jenny melipat kedua tangannya di depan d**a. Menatap Diane dengan tatapan pongah yang menghina. Dia merasa menang telah berhasil kabur dari masalah yang sudah dia ciptakan sendiri. Bukankah itu sangat licik?
"Apa syarat itu?" sahut Arsenio berbinar. Dia semakin yakin dengan keputusannya, yaitu menikah mendadak seperti sekarang ini dengan gadis yang sepertinya adalah gadis yang sesuai dengan tipe yang Arsenio suka.
"Bawa aku pergi dari sini setelah kita menikah," jawab Diane mantap. Dia sudah yakin dengan keputusannya yang cenderung gila itu.
Tapi dia sudah tidak ada pilihan lain. Keluarganya sudah melemparnya ke jurang yang sangat dalam.
"Hanya itu?" tanya Arsenio memastikan. Bukankah itu hanya sebuah kewajiban sebagai seorang laki-laki yang harus memberinya sebuah tempat tinggal? Arsenio sempat heran dan bingung dengan syarat dari Diane.
"Ya! Bawa aku pergi dari sini, kalau perlu tidak usah kembali." Diane mengusap kasar air mata yang gagal dia pertahankan agar tidak tumpah.
Lucas melotot seolah matanya akan keluar dari sarangnya.
"Maksud kamu apa, Diane?"
"Tidak ada," sahut Diane berani.
***
Pernikahan paksa itu secara resmi di gelar. Resepsi cukup mewah dengan dekorasi yang sangat indah, berbanding terbalik dengan perasaan si mempelai wanita saat ini. Dirinya begitu tidak ada harganya. Di buang begitu saja oleh keluarganya.
Diane memasang wajah ramah saat bersalaman dengan para tamu. Sedangkan Arsenio yang duduk di sampingnya tidak bisa berhenti memandangi wanita yang kini sudah sah secara agama telah menjadi istrinya.
Mengingat pernikahan mereka serba dadakan, tentu saja mereka tidak sempat mendaftarkan identitas mereka.
Sesaat sebelum akad nikah dilaksanakan, Arsenio memberikan kartu tanda penduduknya kepada ketua RT setempat. Hal itu bertujuan untuk mengcopy barang tersebut sebagai salah satu syarat administrasi dalam menikah siri.
Dan betapa terkejutnya kedua orang tua Diane dan juga Jenny melihat nama yang tertera di kartu berukuran tidak lebih dari lebar telapak tangan itu.
"Namamu sebagus ini?" tanya Rossa terperangah melihat deretan huruf yang terlihat familiar.
"Benarkah? Siapa nama panjangnya?" tanya Lucas ikut menengok karena penasaran.
"Arsenio Christopher Alexander?" gumam Diane terkagum. Nama yang sangat indah, batin Diane dalam hatinya.
Namun Jenny hanya menatap sinis ke arah Arsenio sambil berpikir soal alamat yang tertera dalam KTP itu, sepertinya dia pernah mendengar nama alamat itu, tapi di mana?
Arsenio hanya diam dan tersenyum ke arah mereka yang masih terkejut seolah tidak percaya walau hanya sekedar nama. Sekelebat rasa curiga muncul di pikiran Lucas. Bagaimana kalau Arsenio ini adalah seorang teroris? Bagaimana kalau Diane akan celaka? Jujur, hati Lucas saat ini sedikit sedikit gundah memikirkan hal itu.
Tentu di pikiran mereka hanya uang sumbangan dan mereka tidak jadi menanggung malu karena pernikahan putrinya yang gagal.
Diane terlihat sangat cantik dan anggun. Arsenio merasa sangat beruntung mendapatkan gadis lugu namun sedikit keras kepala seperti Diane ini. Arsenio merasa Diane adalah benar-benar tipenya.
Dering ponsel berhasil mengalihkan perhatian Arsenio dari wajah istrinya. Terpampang jelas nama seseorang yang menghubunginya.
"Ada apa? Aku sedang menikah. Harusnya kau tidak mengganggu, sialan!" umpat Arsenio saat seorang pria menghubunginya menggunakan nomor luar negeri.
"Kau seenaknya memberiku tugas dan kau malah enak-enakan menikah? Kau memang sialan!" balas seseorang di seberang sana.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Dengan sesekali Arsenio mengedarkan pandangannya ke segala arah. Khawatir pembicaraannya akan didengar oleh orang lain.
"Semua sesuai rencana dan Albert mulai menyusun siasat untuk mengancam kita karena telah berhasil mendahuluinya mendapatkan kontrak ini."
"Bagus, nanti ku hubungi kau lagi."
Arsenio memutuskan panggilannya secara sepihak dan kembali ke pesta guna menemani istrinya.
"Dari mana, Kak?" tanya Diane penasaran. Ini pertama kalinya Diane bicara dengan baik pada Arsenio.
Arsenio yang mendengar itu pun sedikit terhenyak, seolah tidak percaya bahwa gadis yang tidak ikhlas menikah dengannya saat ini mengajaknya berbicara bahkan dengan tutur kata yang sangat lembut dan sopan.
"Tadi teman menelepon. Kamu sepertinya sudah kelelahan, ya?" Arsenio berusaha memberinya perhatian meski masih terasa canggung.
Arsenio melirik ke kaki istrinya yang memerah dan sepertinya sudah lecet karena high heels yang dia pakai.
"Iya. Kakiku terasa pegal, perih juga." Diane menggerak-gerakkan kakinya berharap mungkin akan terasa sedikit lebih baik.
Arsenio seketika berjongkok di depan istrinya. Dia membantu melepas high heels yang menyiksa istrinya.
"Kak! Ngapain?" tanya Diane terkejut saat Arsenio menyentuh kaki putihnya dan melepaskan benda yang sempat mempercantik kakinya itu namun kini justru berhasil meninggalkan sebuah luka lecet hingga mengeluarkan sedikit darah segar.
Arsenio hanya mendongak sekejap dan tersenyum, lalu melanjutkan niatnya melepas high heels yang satunya.
"Pesta sebentar lagi selesai, kamu tidak perlu menahan hingga akhir. Kamu harus istirahat. Besok pagi kita harus pergi," beri tahu Arsenio pada istrinya.
"Besok? Secepat itu?" tanya Diane memastikan.
"Bukankah itu keinginanmu? Secepatnya pergi dari sini, kan?" tanya Arsenio kemudian.
"Hmm," gumam Diane yang tidak tahu apa artinya itu. Arsenio pun tidak mau ambil pusing. Hari ini sudah cukup lelah dan ingin segera istirahat dan berganti pakaian.
Memakai baju pengantin terasa sangat panas dan tidak nyaman. Arsenio tanpa minta izin meraih tubuh Diane lalu menggendongnya dengan gaya bridal style berniat membawanya menuju kamar pengantin mereka.
"Kak!" pekik Diane namun berhasil dia tahan. Dia tidak menyangka Arsenio akan melakukan hal mengejutkan seperti sekarang ini.
Bahkan ratusan pasang mata menyaksikan keromantisan mereka. Seakan mereka berdua adalah pasangan pengantin sungguhan yang saling mencintai.
"Dih, pencitraan," decih Jenny yang melihat adegan romantis itu dari kejauhan.
Setelah Arsenio membawa istrinya ke kamar, dia berpesan pada Diane untuk segera berganti pakaian agar tidak kelelahan dan bisa tidur dengan nyaman.
Sementara Arsenio memilih kembali ke pesta untuk menyalami beberapa tamu yang mungkin masih berdatangan.
Jam menunjukkan pukul enam petang. Pesta sudah selesai. Tamu undangan sudah pulang. Dan Mereka juga pulang kekediaman.
"Pak Lucas," tegur Arsenio mendekat ke arah ayah mertuanya.
"Ya, Arsenio?" sahut Lucas.
"Sebelumnya saya mohon izin. Besok saya berniat mengajak Diane untuk tinggal bersama saya di rumah sewa. Sementara saya sebelum bisa mengajaknya pulang ke rumah," beri tahu Arsenio kepada kedua mertuanya.
"Panggil kami ayah, ibu, Arsenio. Kami sekarang adalah orang tuamu," ucap Lucas.
"Baik, Yah. Mohon izin besok pagi untuk mengajak Diane pergi," ulang Arsenio memohon izin kepada Lucas.
"Ya bagus lah kalau kamu sadar diri tidak mau merepotkan kami. Memang ya harusnya gitu, langsung pindah dah tidak menambah beban piring kami," balas Rossa tanpa tanding aling-aling lagi.
Arsenio hanya tersenyum. Meski sebenarnya lelaki itu ingin sekali membanting ibu mertuanya yang bermulut pedas.
Namun Arsenio mencoba tidak terlalu menggubris kata-kata pedas yang keluar dari mulut ibu mertuanya.
"Baiklah kalau itu keputusan kamu. Dan ada baiknya kamu bicarakan dengan Diane secara baik-baik," saran Lucas. Entah kenapa sifatnya berubah, tidak sekasar kemarin saat seperti berbicara dengan Diane.
"Sudah, Yah. Dan dia setuju," beri tahu Arsenio pada Lucas.
"Ya sudah kalau begitu. Ayah izinkan, Diane sudah beralih menjadi tanggung jawab kamu. Ayah harap kamu bersikap baik padanya," tutur Lucas lagi. Kini kedua matanya berkaca seolah sedang membendung dengan susah cairan yang memenuhi pelupuk matanya.
Mungkin saja sebenarnya Lucas masih belum siap untuk ditinggal pergi oleh putri bungsunya, mungkin saja.
"Tentu saja, Yah. Dia istriku. Kalau begitu saya ke dalam duluan, permisi." Arsenio kembali ke kamar menemui istrinya.
Saat ini istrinya sudah berganti pakaian dengan setelan piyama bergambar bunga-bunga.
"Aku sudah bilang sama Ayah kalau kita akan pergi besok." Arsenio menyampaikan apa yang sudah dia bahas bersama Lucas tadi kepada Diane.
Diane yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias seketika terdiam. Tidak lagi melanjutkan aktifitas menyisir rambutnya lagi.
Arsenio yang mengamati reaksi istrinya itu paham betul kalau dia sebenarnya masih sedikit gamang.
"Kamu masih keberatan?" tanya Arsenio kemudian.
Diane menoleh ke arah suaminya.
"Tidak, mari kita pergi." Seulas senyum manis terlihat di bibir peach milik Diane.
"Kamu yakin? Karena setelah kita pergi dari sini mungkin tidak akan bisa sering-sering berkunjung ke mari," beri tahu Arsenio. Pasalnya pekerjaan yang sesungguhnya sangatlah padat, dia tidak mungkin punya banyak waktu untuk terlalu sering mengunjungi mertuanya yang menyebalkan itu.