bc

Dipaksa Menikah

book_age16+
936
IKUTI
11.0K
BACA
HE
mafia
blue collar
drama
bxg
brilliant
childhood crush
substitute
like
intro-logo
Uraian

WARNING 17+

"Diane kau harus menikah dengannya," tegas Lucas.

Lucas tidak mau menanggung malu karena Hotel sudah di booking dan undangan udah di sebar jadi dia mencari pria pengganti. Sehingga lucas memaksa Diane putri bungsu lucas yang menjadi pengganti nya menikah dengan pria pengganti yaitu Arsenio yang bekerja sebagai sopir pak lucas.Namun di balik itu semua ternyata arsenio seorang mafia yang menyembunyikan identitasnya. Bagaimana kelanjutan nya apakah Arsenio dan Diane menjadi sepasang kekasih yang harmonis?Jangan lupa untuk Tap love

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Dipaksa Menikah
"Kita harus segera mencari pria pengganti." Ucap Lucas karena pengantin pria ternyata kabur keluar negeri. Meski berat mengatakan hal itu, namun Lucas tidak ada pilihan lain. Dia tidak mau menanggung malu dan kerugian secara finansial. Hotel sudah dipesan, panggung hiburan dan pihak catering tentu saja sudah menyiapkan makanan yang sudah di pesan jauh-jauh hari. "Maksud Ayah apa?" tanya Jenny terlihat tidak setuju dengan ide gila Lucas. "Memang siapa yang mau menikah mendadak? Ayah kalau punya ide ngawur saja," sahut Rossa yang meragukan ide suaminya. "Jenny kamu lebih baik diam saja, jangan membuat Ayah semakin pusing!" bentak Lucas. "Tapi Ayah, bagaimana bisa Kakak menikah dengan orang yang tidak dia kenal? Dan harus cari di mana juga orang itu? Sepertinya tidak mungkin, Yah," timpal Diane yang ikut tidak setuju dengan ide ayahnya. "Sudahlah, Ayah tidak ada pilihan lain. Ayah tidak mau menanggung malu." "Ayah tidak bisa begitu ...." Diane belum selesai dengan ucapannya, namun Lucas tidak peduli dan langsung pergi begitu saja, entah dia akan ke mana Rossa, istrinya pun tidak tahu. Di sebuah garasi miliknya, Lucas memanggil seseorang yang sedang menikmati kopi serta rokok di antara dua jarinya. "Arsenio!" Lucas memanggil seorang pria tinggi kekar yang berpenampilan biasa memakai baju kaos polos. Arsenio yang saat itu sedang bertelepon dengan seseorang menyahut sebentar panggilan dari Lucas. "Ada apa, Pak Lucas?" sahut Arsenio menjauhkan ponsel hitam dari wajahnya. "Lakukan saja tugasmu dengan baik, atau aku akan membunuhmu. Aku ada urusan dan berhentilah protes." Arsenio mengatakan kalimat itu dengan nada datar tanpa ekspresi dengan ponsel yang kini tepat berada di depan bibirnya. Entah siapa yang saat ini dihubunginya. Itu terlihat sangat penting dan rahasia. Pasalnya dia saat ini menyendiri dari kerumunan temannya yang lain dan tampak sedikit waspada. Khawatir akan ada yang mengupingnya. Mungkin. Setelah memutus panggilan misteriusnya, Arsenio mendekat ke arah Lucas yang memilih duduk di sebuah tumpukan ban bekas, jauh dari gerombolan orang-orang yang sedang beristirahat menunggu muatannya dibongkar. "Aku sedang dalam masalah, aku pikir aku harus minta bantuanmu," jawab Lucas tampak ragu namun langsung pada intinya. "Masalah apa? Santai sajalah Pak denganku." Arsenio menghisap kembali rokok miliknya. Mereka berdua memang sudah hampir sebulan ini akrab, karena Arsenio memang orang yang ramah dan menyenangkan. Banyak para pekerja Lucas yang akrab dengan dirinya. Lucas menceritakan masalahnya kepada Arsenio, soal batalnya pernikahan Jenny dengan seorang pria yang bernama Alan, padahal resepsi dan akad nikah harus dilakukan besok pagi mengingat persiapan sudah sembilan puluh sembilan persen. Arsenio tertegun, seolah sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar nama Alan. "Lalu aku harus membantu apa? Kalau untuk menarik semua undangan yang sudah disebar tentu aku tidak bisa, Pak Lucas Hehe," kelakar Arsenio yang seolah meledek Lucas. Namun Lucas tidak tersinggung, justru dia sedikit bisa terhibur dengan kekonyolan Arsenio. "Menikahlah dengan putriku, jadi menantuku." Meski ragu, akhirnya berani mengucapkan kalimat itu. Entah apa pun jawaban Arsenio, namun dia harus mencobanya dulu. "Apa? Pak Lucas ini ada-ada saja. Pak Lucas pikir menikah itu hal yang sepele? Tidak, aku tidak mau," tolak Arsenio terang-terangan. Seketika wajah Lucas berubah sendu. Arsenio juga termenung beberapa saat, seolah ada rasa bersalah terhadap Lucas atas candaannya dan juga penolakannya itu. "Baiklah. Tapi sebelumnya kalau boleh tahu kenapa bapak memilihku?" "Jujur saja, kau paling terlihat rajin di sini, dan tentunya kau lebih tampan di antara pekerja dan sopir yang lain," jawab Lucas jujur. Meski alasan yang konyol, namun memang begitulah yang sebenarnya ada di pikiran Lucas. Arsenio berkerja sebagai sopir pribadi Pak Lucas. "Haha, bapak bisa saja," balas Arsenio sambil membuang putung rokok miliknya. "Aku punya dua orang anak perempuan, yang akan menikah ini namanya Jenny. Dia memang lebih manja dan keras kepala, namun aku akan bertanggung jawab penuh atas dirinya. Yang penting aku tidak menanggung malu," beri tahu Lucas pada Arsenio soal salah satu putrinya. "Kalau dia menolak bagaimana?" tanya Arsenio ragu. "Aku akan menikahkanmu dengan putri bungsuku. Dia juga cantik, malah lebih penurut dibanding kakaknya, namanya Diane. Mungkin aku terkesan egois dan tidak tahu malu, Arsenio. Tapi aku tidak ada pilihan lain selain meminta pertolonganmu." Lucas mengusap wajahnya kasar yang terlihat sangat frustrasi. Arsenio kembali terdiam seolah memikirkan sesuatu yang tidak kalah berat. Dalam pikirannya, mungkinkah jodohnya akan dia dapatkan dengan cara seperti ini? Kalau mengingat usia, usia Arsenio sudah cukup matang untuk berumah tangga. Namun apakah pilihannya benar? Arsenio ragu, namun dia akhirnya memilih untuk menyanggupi permintaan Lucas. Lucas akhirnya kembali ke rumahnya yang hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menitan dari garasi. Dan tentu saja dia bersama Arsenio. "Jenny!" seru Lucas memanggil putri sulungnya. "Iya, Yah. Siapa dia?" Jenny muncul dari kamarnya dan melihat ada orang asing yang sudah duduk di ruang tamu samping ayahnya. "Dia yang akan menggantikan Alan di hari pernikahanmu besok," ketus Lucas pada putri sulungnya. "Apa!" teriak Jenny tidak terima. "Jaga bicaramu, Jenny!" hardik Lucas saat Jenny secara terang-terangan memperlihatkan tatapan merendahkan ke arah Arsenio. Lucas sebenarnya sudah menduga bahwa akan menjadi sedikit rumit seperti sekarang ini. Namun dirinya tidak ada pilihan lain. "Ada apa lagi, Yah?" Diane tiba-tiba muncul dari arah dapur. Dia mendengar ayah dan kakaknya saling beradu urat leher hingga terdengar sampai ke dapur yang ruangannya agak jauh dengan ruang tamu. "Kamu diamlah, Diane. Ini urusan Ayah dengan Jenny," jawab Lucas dingin tanpa menoleh ke arah Diane yang kebingungan penyebab mereka saling berteriak. Dan tunggu dulu, siapa pria asing yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu? "Ayah, ada apa?" Kemudian Rossa ikut muncul dari arah dapur. Rossa dan Diane sedari tadi menyiapkan makan malam. "Ibu, lihat Ayah! Masa aku dipaksa menikah dengan sopir pribadi dan menjijikkan seperti dia!" seru Jenny mengadu kepada ibunya sambil menunjuk ke arah Arsenio yang sedari tadi hanya diam justru memperhatikan Diane. "Siapa dia, Yah?" tanya Rossa yang kini mulai terprovokasi oleh Jenny. "Dia Arsenio, aku meminta pertolongannya untuk menggantikan Alan besok. Dan itu kalau Ibu masih ingin menjaga nama baik keluarga kita," jawab Lucas sambil menoleh ke arah Arsenio yang saat ini tersenyum padanya. Arsenio masih diam, dia memperhatikan Diane yang juga tampak sedang gelisah karena perseteruan keluarganya. Entah kenapa Arsenio justru lebih tertarik melihat Diane yang berwajah polos dari pada Jenny yang berwajah menor namun berantakan karena tangis itu. "Ayah gila? Anak kita itu cantik, berpendidikan tinggi! Ayah ngawur saja pilih calon menantu!" Arsenio melirik sekilas ke arah Rossa yang sejak tadi menghina dirinya. Namun Arsenio tentu saja tidak masalah. Dia jarang sekali tersinggung, itulah kelebihan Arsenio. Bahkan rencana ini pun dia tidak pernah meminta, dia hanya berniat membantu Lucas saja. "Jadi maunya kalian gimana? Jadi menikah atau menanggung kerugian juga menanggung malu?" tawar Lucas pasrah dengan penolakan anak dan istrinya yang sangat keras kepala. Keduanya bungkam, ibu dan anak itu tampak sama halnya bingung bagaimana mengatasi masalah yang hampir membuat seisi rumah menjadi gila ini. "Gimana kalau Diane saja yang menikah dengan pria ini?" usul Jenny kepada kedua orang tuanya dengan senyum penuh kelicikan. "A-apa, Kak! Kenapa jadi aku? Aku masih ingin melanjutkan pendidikanku! Aku tidak bisa!" Lucas tak kunjung menyahut, di ruangan keluarga mereka sempat terdiam sesaat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sedangkan Arsenio sesekali mengamati wajah ayu Diane, menurutnya gadis itu cukup manis juga. Pikirannya pun maju, ingin melanjutkan kuliah demi masa depannya berharap akan lebih cemerlang. "Baiklah," ucap Lucas setelah selesai dari diamnya. "Baiklah bagaimana maksud Ayah?" selidik Rossa menatap tajam wajah suaminya yang sudah tidak lagi muda itu. "Diane, kamu harus mau menikah dengan Arsenio. Ayah tidak menerima penolakan!" putus Lucas mengakhiri perdebatannya dengan istri dan anak sulungnya. "Ayah," lirih Diane sangat kecewa. Bukan karena dia menolak dengan siapa dia akan menikah, tapi dia sungguh merasa kedua orang tuanya terlampau tidak adil kepadanya. Bukankah ini sangat kejam? "Kau setuju, Arsenio?" tanya Lucas menyentuh pundak Arsenio yang duduk di sebelahnya. "Jujur saja, saya pun tidak terlalu menginginkan pernikahan ini. Hanya saja Pak ini sudah banyak membantu saya dalam bekerja, saya hanya berusaha membalas kebaikan beliau," tutur Arsenio seolah dia hanya berbicara dengan Diane saja. Karena sedari tadi dia tidak bisa untuk tidak memandanginya. "Tapi, saya masih ingin kuliah. Masih banyak cita-cita dan keinginan saya yang belum terwujud. Saya sungguh keberatan," balas Diane mencoba menjelaskan isi hatinya dengan menajamkan tatapannya ke arah Arsenio. d**a Diane terasa bagai di hantam batu yang sangat keras, sakit. Sangat sakit. "Heh, anak tidak tahu diri! Kamu itu kuliah juga percuma tidak akan pernah bisa jadi orang sukses, orang pikiran kamu aja kampungan gak gaul gak maju gitu. Jadi gak usahlah pakai kuliah-kuliah segala. Mending nikah sama ini orang, terus berjuang deh berdua. Kalau dilihat kalian sangat cocok," hina Rossa pada putrinya sendiri. Mata bulat milik Diane mulai mengembun, dia berusaha untuk tidak mengedipkan matanya. Berharap bendungan yang dia pertahankan tidak akan luluh begitu saja. "Kakak sepemikiran deh sama Ibu, Diane. Kamu mending nurut aja deh. Ya kali aku nikah sama berandalan kayak dia," timpal Jenny tak kalah pedas dan menyakitkan. "Diane, ini memang awal yang tidak tepat untuk membangun sebuah pernikahan, namun aku pikir aku cukup mampu mewujudkan keinginanmu, bahkan membiayai kuliahmu, aku sangat sanggup." Arsenio akhirnya memberanikan diri ikut membujuk Diane yang menolak pernikahan paksa dan darurat itu agar kemudian menyetujuinya. Entah kenapa egonya memaksa untuk menikahi gadis malang di hadapannya ini. Arsenio merasa Diane memang wanita yang tepat untuk dijadikannya sebagai seorang istri. Kedua orang tuanya pasti pun akan menyetujuinya, melihat Diane yang berparas cantik dan berperangai baik. Begitu pikir Arsenio.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook