Suasana di dalam ruang tamu kediaman megah keluarga Anggara yang megah bercat putih gading mendadak membeku. Cahaya lampu gantung kristal yang menggantung tinggi di langit-langit memantulkan aura ketegangan yang teramat pekat. Di atas sofa kulit Italia yang mewah, duduk sosok Diana Anggara—wanita paruh baya yang selalu tampil anggun, elegan, dan memegang kendali penuh atas tatanan kehormatan keluarga besar Anggara. Namun malam ini, keanggunan Diana menguap tanpa sisa. Wajah cantiknya yang terawat ketat mengeras bagaikan batu ukir, sementara iris matanya yang tajam bagaikan sembilu menatap lurus ke arah putra tunggalnya yang berdiri kaku di tengah ruangan. Regan Anggara mematung di hadapan ibunya. Kemeja putih mewahnya sudah diganti dengan kemeja hitam yang rapi, namun raut wajah sang CEO

