Kembali bekerja

1111 Kata
"Divya." Teriak Valen mendekat ke arah sekolompok orang itu. Tak lama kemudian mata Valen tertuju pada salah satu orang disitu "Oh..jadi kau dalang nya." Valen menarik kerah Edward. Semua orang yang ada disana terkejut termasuk Divya dan Adit "Lepaskan Dasar tidak tau sopan santun." Edward menepis tangan Valen dengan kasar "Tidak tau sopan santun kau bilang?Hey, daripada kau tidak ada akhlak sampai menyuruh saudariku datang ketempat kotor seperti ini."Tegas Valen menekankan kata 'Kotor'. Valen memang seperti saudara, ditambah wajah keduanya mirip membuat semua orang percaya bahwa mereka adalah saudara kandung. Hanya Mata mereka lah yang membedakannya, jika Divya berwarna biru kristal maka Valen memiliki bola mata berwarna amber terang. "Dia sudah merusak mobil temanku, dan aku mengajaknya kesini agar bisa memperjelas jaminan nya!" Suara Edward tak kalah keras dari Valen "Mengapa harus ke tempat seperti ini?" Tanya Valen tidak suka "Terserah kami. Disini yang jadi korban adalah kami."  "Kau bilang Kalian korban?Hey, dengar baik-baik dan camkanlah dalam otak udang mu itu. Divyalah yang Korban disini. Kenapa?Jika aku tidak datang dan membawanya, bisa saja dia infeksi akibat menghirup alkohol yang kalian minum. Setelah infeksi dia bisa berpulang pada yang Kuasa. Kau mengerti sekarang?" Valen menarik tangan Divya yang sedang duduk di dekat Dean dengan alkohol beragam jenis. Divya memang memiliki riwayat penyakit yang tidak bisa berlama-lama di dekat benda yang memiliki kandungan obat keras terlalu tinggi, contoh nya seperti alkohol dan itulah yang membuat Valen marah. Tidak ada satupun orang yang membuka suara setelah Valen berkata seperti itu. Apalagi kemarahan Valen sudah tidak bisa dilerai lagi. Saat ingin melangkah pergi dari tempat itu,..."Tunggu." Cegah Adit berdiri dari kursinya "Apa?" Tanya Divya malas sedangkan Valen berkacak pinggang karena sudah tidak tahan berlama-lama di tempat itu. "Besok datanglah, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Adit tetap pada gaya coolnya "Hmmm" "Apa sudah selesai bicaranya?" Tanya Valen kesal. Adit menganggukkan kepalanya, mungkin karena dia pikir harus menghormati Valen Karena Valen mengatakan kaalau Divya adalah saudarinya(adiknya) Keduanya pulang dengan kendaraan masing-masing. Sesampainya dirumah Valen tidak bicara dan memilih untuk diam "Ayolah Len. Jangan diam seperti ini. Aku minta maaf, aku tidak berniat untuk membohongi mu." "Aku kecewa padamu div, sebenarnya kamu anggap aku ini apa. Kita sudah mengenal sedari kecil, tapi kau malah menyembunyikan hal ini. Kau tau, jika aku tidak datang maka kau akan terus menghirup minuman itu. Setelah itu apa?Bapak dan ibu tidak akan mempercayaiku lagi karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Valen menitikkan air matanya, Isa sudah menganggap keduanya orangtua nya sendiri. Ia ingin membuat mereka bahagia dan tindak ingin mengecewakan mereka. Divya merasa bersalah pada sahabatnya itu, ia memegang kedua telinganya seraya minta maaf dengan wajah memelas. "Sudah, tidurlah. Besok kau akan kembali bekerja di perusahaan itu kan?" Tanya Valen yang sudah mendengar percakapan mereka saat berada di bar  "Iya." Jawab Divya. Valen masuk ke kamar duluan meninggalkan Divya sendirian. "Baiklah, mulai sekarang aku akan memberitahu semua masalahku pada Valen." Gumam Divya lalu ia masuk ke kamar dan tidur di sebelah Valen. Keesokan harinya, saat Divya bangun ia sudah tidak melihat Valen disamping nya. Mungkin sudah pergi kerja. Pikir divya. Setelah itu Divya bersiap-siap, saat ingin makan ia mendapati surat di meja. "Semangat kerjanya. Remember, I always together with you." Diakhiri tanda Emot senyum, begitulah pesan Valen. Divya terharu, ternyata Valen tidak marah padanya Setibanya di kantor, Divya kembali pada pekerjaan nya yang semula. Divya bekerja dan matanya tak lepas dari laptop yang ada dihadapannya. Tak terasa hari mulai gelap. Disamping itu Aron, Edward dan Hendra tengah asik mengobrol disebuah bar kecil di dalam mancion milik Edward. Mereka memang sering menghabiskan waktu bersama, tapi kali ini Adit tak bergabung dengan alasan yang masuk akal. Flashback on Adit sedang berada dikantornya  Tut...Tut....suara handphone Adit berbunyi dan tertera nama Edward disana. "Ya, halo ada apa?" tanya Adit "Apakah pekerjaan mu sudah selesai?" Bertanya dengan wajah datar "Aku masih banyak pekerjaan." Jawab Adit dingin dan mematikan telponnya secara sepihak Flashback off "Hufthh...membosankan sekali disini." Kata Divya malas dan merasa lelah dikarenakan dari pagi Bekerja tanpa henti. Divya sedikit melenturkan jari tangannya Yang agak kaku karena harus menyiapkan persentase untuk besok. Tak lama kemudian datanglah seseorang. "Oh iya divya, kamu diminta pak Presdir untuk memberikan berkas persentasi nya." Jelas Hanna kepada Divya Divya hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Hanna. Hanna pun pergi meninggalkan Divya yang sangat malas menemui boss gaibnya. Tapi apa boleh buat dia hanya seseorang bawahan yang memungut uang dari atasannya Saat sudah sampai di depan pintu ruangan Adit, Divya sesekali menghela nafas "Ok Divya tenang. Kau tidak akan dimakan oleh boss bermuka keset kaki itu." Ucap Divya sedikit tersenyum. Lalu masuk dan duduk dihadapan dihadapan Adit "Ini pak catatan yang sudah saya siapkan." Kata Divya sambil menyodorkan sebuah map yang dibawanya Adit mendongak dan seringai kecil muncul diujung bibirnya Adit mengambil map yang diberikan divya, melihatnya sejenak dan kembali menatap Divya dengan tatapan mesumnya. Entah kenapa Adit yang selama ini tak pernah tertarik berhubungan dengan wanita, setelah bertemu dengan Divya ia menjadi sangat ingin melihat wanita dihadapannya. Divya yang menangkap tatapan tak biasa dari Adit, langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Ada apa ha? Apa kau tergoda melihatku, hmm? Kau ingin menemaniku malam ini, kita bisa bisa bersenang-senang sebentar. Aku janji akan membayar setimpal dengan pelayanan panasmu padaku." Ujar Adit sambil menyeringai Sebenarnya Adit tak berniat mengatakan nya tapi dia penasaran akan jawaban Divya atas ajakan nya. Kalau Divya menerimapun adit akan senang hati melakukannya. Divya yang mendengar ucapan Adit menatap tajam mata pria yang ada dihadapannya. Wajahnya memerah menahan amarah yang tak lagi tertahan dan seketika Divya berdiri lalu menepuk meja dengan keras sambi memberi tatapan membunuh pada Adit "KAU!Enak saja mulutmu berkata seperti itu. Jangan samakan aku dengan wanita-wanita yang sering menemani dan memberi tubuhnya padamu, hanya demi uang. Aku tau kalau aku gadis miskin yang mencoba mengadu nasib diperusahaan mu ini. Tapi kau tak berhak memperlakukan aku sesukamu. Dasar boss gatal, gak ada akhlak, dan gak bisa menghargai wanita." Teriak Divya dan tak lama air bening itupun mengalir dipipi Divya nan putih bersih tak bernoda Adit yang melihat Divya seperti itu merasakan sesak di dadanya dan sakit yang membuatnya tak bisa bernafas sempurna. Dia langsung mendekap tubuh Divya seraya meminta maaf Greeeppp... "Ma...maaf aku tak berniat mengatakan nya." Kata Adit penuh penyesalan Entah mengapa mulut Adit begitu mudah mengatakan maaf padahal itu adalah kata haram yang tak pernah dia ucapkan selama hidupnya Mendengar ucapan maaf dari Adit, divya bukannya berhenti menangis malah menambah volume tangisnya dan mendorong tubuh Adit agar menjauh "Jangan menyentuh ku dengan tangan kotor mu itu." Ucap Divya "Itu adalah file persentasi besok yang kau minta. Jangan menggangguku dengan ajakan murahmu itu." Melemparkan map ke wajah Adit dan pergi meninggalkan Adit yang menatap penuh penyesalan. Lanjut
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN