Di sisi lain Aron, Edward dan Hendra sudah berada di dalam club dengan ditemani banyak wanita-wanita yang berpakaian kurang bahan, Dengan menampakkan gudukan sintal yang menggoda.
Tak berselang lama Aron melihat sosok yang sangat familiar di matanya
"Kak...kak Edward!" Ucap Aron menepuk-nepuk bahu Edward sambil memandang ke arah pintu masuk
"Apaan sih, ganggu orang senang aja." Ucap Edward malas sambi menghentikan acara minumnya dengan wanita-wanita itu
"Itu kak lihat noh, kayaknya laki-laki itu Mirip banget sama boss Adit.," Kata Aron sambil memperhatikan orang yang membelakanginya di meja bar, tak jauh dari mereka.
"Oh iya kayaknya emang Tuan Adit deh, tapi kan gak mungkin, Tuan Adit kan lagi banyak kerjaan." Ujar Hendra menimpali
Edward yang melihat teman-teman nya menatap seseorang, matanya langsung tertuju dengan Adit yang sedang mabuk berat sambil memegang win ditangannya. Edward yang melihat itupun berdiri dan menghampiri Adit.
"Astaga Adit, apa yang kau lakukan." Tanya Edward khawatir. Aron dan Hendra yang melihat itupun ikut tercengang.
"Apa-apaan ini. Kenapa Tuan Adit jadi begini. Aku tidak pernah melihat dia sehancur ini." Ucap Hendra heran, karena boss nya tidak pernah seperti ini setelah kejadian 10 tahun yang lalu.
"Sudah tidak usah banyak tanya. Sekarang ayo kita bawa Adit ke mobil, kita pergi ke mancion nya sekarang." Ucap Edward merangkul Adit dari sebelah kanan dan Aron bagian kiri
Di mancion Adit terlihat keributan di antara Aron dan Hendra. Mereka menerka-nerka kejadian yang menimpa Adit
"Pasti boss Adit seperti ini gara-gara jr nya tidak berfungsi dengan baik." Ucap aron
"Aku rasa itu bukan masalahnya. Hmmm, apa mungkin jr nya Tuan Adit sipit atau terlalu kecil karena tidak digunakan." Ujar Hendra berani menimpali dengan perkataan seperti itu. Jika Adit sadar dan mendengarnya, pasti Hendra hanya akan tinggal nama.
Sedangkan Edward hanya dia melihat kelakuan dua makhluk didepannya. Tak lama setelah itu terdengar lah suara Adit yang membuyarkan suasana.
"Aku...aku telah membuatnya menangis. Dia marah padaku....Aku membuatnya menangis, maaf....maaf..." Kata Adit lirih di sela-sela mabuknya
Aron dan Hendra yang mendengar nya, menghentikan kegiatan mengoceh mereka dan mendekat ke tepi ranjang Adit.
"Kak Adit seperti nya mencintai seseorang sampai-sampai dia jadi seperti ini." Ucap Aron mencerna perkataan Adit
"Yah seperti nya ada seorang wanita, hingga Tuan begini. Tapi siapa yah, setauku Tuan tidak pernah berhubungan dengan wanita. Hanya saja dia membiarkan wanita malam menyentuh tubuhnya." Ujar Hendra penasaran
"Apa mungkin perempuan itu?" Batin Edward
"Oh ya kak ward, perempuan yang menarik kerah mu semalam siapa dia?" Tanya Aron mengingat-ingat wajah Valen. Yang ada dibenak nya sekarang adalah Divya dan Valen. Dua orang wanita yang bisa berkata santai dan berbuat acuh pada Adit dan Edward dua makhluk paling dingin di muka bumi
"Aku bertemu dengannya di ATM saat ingin menyusul kalian ke bar. Makanya dia berpikir aneh tentang ku karena bertemu untuk kedua kalinya dan parahnya lagi itu ada di bar." Ucap Edward menjelaskan kronologi, kenapa Valen tidak menyukai nya
"Kakak menyukainya tidak?" Tanya Aron seperti ingin memastikan sesuatu.
"Apa? Aku menyukainya?Sudah gila ya, mana ada orang yang ingin dengan Mak lampir seperti dia." Jawab Edward menyangkal perkataan Aron
"Kalau begitu dia dengan ku saja. Soalnya aku sudah terpikat dengan mata indah itu. Aku menginginkan nya, dia telah membuatku terpana dan terkagum-kagum semenjak pertama kali bertemu." Ucap Aron Tersenyum mengingat keberanian Valen saat menarik kerah Edward dengan tatapan tajam
Edward yang mendengar itu mengernyitkan dahi nya, ia terlihat tidak suka dengan pernyataan aron. Tapi ia cepat-cepat mengembalikan raut wajahnya seperti semula agar tidak ketahuan.
"Sudahlah aku mau pulang." Edward menyudahi pembicaraan lalu melangkah pergi dari kamar Adit. Mereka pulang ke mancion masing-masing.
Di kontrakan Divya
Tok...tok....tok. ..suara pintu diketuk
"Iya bentar." Ucap Valen dari dalam dalam rumah
Ceklekk...tampaklah Divya dengan mata sembab Karena baru selesai menangis.
Divya berjalan ke kamar lalu mengganti bajunya. Valen menghampiri Divya untuk mempertanyakan apa yang sedang terjadi.
"Kamu kenapa div, kayaknya habis nangis. Ada apa, cerita dong." Ucap Valen memegang tangan Divya.
"Aku Gapapa kok. Oh iya katanya Satya bakal datang ke Jakarta lho." Divya mengalihkan pembicaraan membuat velen menghembuskan nafasnya, karena lagi-lagi Divya menyembunyikan sesuatu darinya
"Iya." Menjawab seadanya
"Kalau dia ada disini pasti bakal ganggu kita " Divya memikirkan sosok Satya yang ingin sekali ia temui karena sudah lama terpisah
"Yaiya sama. Dia kan sepupu kamu. Makanya kalian berdua sama-sama nyebelin." Timpal Valen mengingat Satya yang suka menjahilinya
Sewaktu masih kecil
"Yaelah, walaupun begitu kita sama-sama cerdas dan pastinya menawan, hehhehe...." Divya membanggakan kemampuan Keluarga nya karena memang kepintaran mereka menurun dari nenek moyang.
"Kapan datangnya?" Tanya Valen mempersiapkan dirinya agar tidak mudah di ganggui oleh Satya.
Pria tampan bernama Satya ini memang suka menjahili orang-orang disekitarnya, bahkan sewaktu kecil saat Divya belajar saja ia tidak bisa tenang dibuat oleh Satya.
Walaupun begitu Satya memiliki kepribadian yang baik dan lembut pada setiap wanita. Kedua orang tua Satya sudah tiada sejak ia masih kecil dan orang tua Divya sempat mengasuhnya. namun saat berumur 15 tahun ia memutuskan untuk pergi ke Semarang dan hidup sendiri, karena tidak ingin menyusahkan Keluarga Divya. Kabarnya Sekarang, satya sudah mendapat pekerjaan di salah satu Badan usaha dalam kekuasaan negara.
Satya datang ke Jakarta karena dipindah tugaskan oleh perusahaan. Ia menerima itu karena tidak ingin mendapat gaji buta dan bersedia menerima tantangan yang akan dihadapi selanjutnya.
Bagaimana kelanjutan nya?
Ikuti terus yah