Satya

1132 Kata
Paginya Divya bekerja seperti biasanya. Hanya saja dia mencoba menghindari Adit Karena masih kesal dengan perkataannya semalam. Saat ingin ke kantin pun, Divya berjalan dengan sedikit mengendap-endap agar tidak terlihat oleh mata elang Aditya. Waktu istirahat sudah selesai, Divya kembali ke dalam ruangannya dengan tenang tanpa ada kekhwatiran. Tapi tidak sangka kekhawatiran yang sebenarnya sudah menunggunya di dalam ruangan itu sedari jam istirahat. Adit menatap tajam ke arah Divya dan berjalan maju ke tempat Divya berada. "Mau apa kau?" Tanya Divya ingin lari tapi sayangnya pintu itu sudah dikunci oleh suruhan Adit, saat Divya telah masuk. "Kenapa kau menghindari ku?" Tidak menjawab pertanyaan Divya, malah memberi pertanyaan sambil memegang dagu perempuan itu dengan kuat. "Aku...aku...aku tidak me...." Belum sempat bicara, Adit langsung menyambar bibir Semerah delima itu. Awalnya Adit hanya ingin mencium sekilas, tapi bibir Divya membuatnya ketagihan dan ciuman itu berlangsung lumayan lama. Sedangkan Divya hanya bisa terdiam seperti batu, Karena ini adalah kali pertama dia berciuman. Hal itu membuatnya gugup ditambah dia tidak ahli didalamnya. Adit memegang tengkuk Divya agar ia lebih leluasa untuk memperdalam ciuman yang telah ia ciptakan itu. Saat Adit ingin mengakhirinya ia memegang pinggang Divya lalu memasukkan tangannya ke kantong rok divya, ia mengambil handphone Divya entah untuk apa, yang pasti karena dia ingin maka ia lakukan. Dan clupp...Adit menjauhkan bibirnya dari bibir Divya. "Kenapa kau tidak membalasnya?" Tanya Adit sedikit kesal, tapi tak bisa dipungkiri sebuah senyuman manis muncul di bibir Adit, dan terlihat jelas bahwa Adit sekarang sedang bahagia. Adit meninggalkan ruangan itu dan berjalan dengan santai menuju ruangannya. Sedangkan Divya masih berdiri dan menatap lurus ke depan. Divya tidak bisa berkata-kata lagi, walaupun dia diam bukan berarti ia menerimanya begitu saja. Jauh dalam lubuk hati Divya terdengar sebuah makian yang hanya bisa di ketahui oleh hatinya dan Tuhan saja. "Sialan!Itu adalah ciuman pertama ku dan dia mengambilnya begitu saja."  "Dia pikir aku ini seperti perempuan yang selalu menemani nya apa, benar-benar laki-laki gila. Hanya tampang nya saja tampan tapi kelakuannya sangat menjijikkan. Terkutuklah kau Buaya Busuk!"  Batin Divya  Divya melupakan kejadian tadi dan mengganggap nya tak pernah terjadi. Sementara itu Adit senyam-senyum sendiri mengingat wajah gugup Divya, baginya itu sangatlah lucu. Anderson, asisten pribadi Adit dibuat kebingungan karena tingkah laku sang majikan yang menurutnya langka dan tidak boleh dilewatkan. Rasanya ingin sekali Ander bertanya tapi ia tidak seberani itu untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tuannya. Jadi ia hanya bisa melihat raut wajah bahagia yang terpancar jelas dari boss nya.  "Apa yang membuat Tuan Adit sebahagia ini?" Batin Anderson Jam 5 sore, Divya bersiap-siap untuk pulang kerumah Karena pekerjaan nya sudah selesai dan sejujurnya dia juga tidak betah berlama-lama di kantor itu. Jika tidak karena hutang, mana mungkin Divya Bekerja disitu. Adit yang mengetahui kalau Divya akan pulang, langsung mengambil mobil dari parkiran. Tujuannya agar ia bisa mengantar pulang Divya dengan alasan bahwa ada meeting yang jalannya searah dengan kontrakan djvya. Adit turun dari mobil dan hendak untuk menemui divya agar semobil dengan nya, tapi ia malah harus melihat pemandangan yang tidak diinginkan. Bahkan Anderson yang sudah tahu bahwa Tuannya sedang jatuh cinta pada Divya, mengepalkan tangannya menahan amarah. Terpancar aura ketidaksukaan dari Anderson. Ia mengintip Divya dan pria yang tidak diketahui namanya itu sedang berpelukan bahkan Divya membalas pelukan itu dengan senang hati. Ander melihat diam-diam hal itu agar sang boss tidak mengetahui keberadaannya yang kepo akan Divya. "Ayo bawa aku ke rumahmu." Ujar pria itu membuat Adit dan Anderson salah paham. Mereka mengira bahwa keduanya akan berbuat hal-hal yang sepatutnya tidak dilakukan sebelum menikah. Ditambah keduanya berpengangan tangan dan berjalan beriringan membuat wajah Adit memerah seperti cabe kering. Padahal sebenarnya Adit tidak perlu khawatir karena pria itu tidak lain adalah Satya , sepupu divya yang dibicarakan oleh Valen dan Divya kemarin malam. Memang jika keduanya berjalan bersama, banyak orang yang mengira bahwa mereka adalah pasangan, tapi kenyataannya bukanlah seperti itu.  Sesampainya di kontrakan Eva, keduanya masuk setelah mengucapkan salam "Syalom." ucap keduanya bersamaan "Syalom." Valen menjawab balik  "Oh masih hidup ternyata kau ya." Ucap Valen sambil memberi Satya teh. "Kok gitu banget sih bicaranya." Ujar Satya tidak senang, bukannya disambut malah dikatain. "Hmm. Terserah lah." Jawab Valen "Gimana kabarmu?dan bagaimana dengan pekerjaan mu, apa semuanya lancar?" Tanya Divya "Ya, aku baik dan pekerjaan lancar tanpa ada kendala."  "Baguslah kalau begitu. Jadi kau akan tinggal dimana?" Tanya Divya lagi "Hmmm, aku ingin mencari apartemen yang Deket dari kontrakanmu saja va." Balas Satya. Dia berkata seperti itu agar nanti saat pagi-paginya ia bisa datang, lalu makan masakan Divya dan Valen. Selain masakan keduanya yang enak, secara Satya juga akan mendapat makanan gratis, jadi intinya dia tidak perlu repot-repot beli makanan, dan kantong pun akan aman. *~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~ Malam ini adalah rapat perkumpulan anggota mafia yang diketuai oleh adit. Pertemuan dilakukan di salah satu club malam terkenal di Jakarta. TX(THIRD XIREC)  Third XIREC adalah nama perkumpulannya. Tergabung dalam tiga kelompok, yaitu kelompok FIRELETRIC yang diketuai oleh Dean, kemudian kelompok COLDVILLAIN yang diketuai oleh Edward, yang tidak lain adalah sahabat Adit. Dan terakhir kelompok SMOLDERING TIE yang ketuanya adalah Raka. Sedangkan pemimpin besar dari THIRD XIREC adalah Adit, masing-masing kelompok bebas menentukan jumlah anggota nya. Mereka tidak membunuh wanita dan anak-anak, tapi tetap tidak bisa menghindari siksaan jika mereka melakukan serangan. Adit sudah lama memimpin kelompok itu, dia dipilih oleh Jack Kyle, ketua sebelumnya. Jack memilih Adit Karena merasa ada jiwa 'IBLIS' didalam tubuh Adit. Apalagi Adit adalah orang yang tidak takut dengan kematian dan selalu setia pada kelompok nya Sebelum Jack meninggal, dia menyuruh Adit untuk berhati-hati karena tidak semua anggota kelompok menyukai nya. Akan ada yang berkhianat, dengan kata lain 'Musuh Dalam Selimut'. Banyak anggota kelompok yang tidak setuju  jika Adit menjadi pemimpin, tali mereka tidak bisa menunjukkan nya secara langsung karena takut. "Aku dengar ada yang berani mengizinkan senjata nuklir masuk ke negara ini. Ada yang mau mengakuinya? Kalau berani mengaku, aku akan mengurangi sepertiga hukuman nya. " Ucap Adit santai tapi suasana sudah menegangkan "Gawat!Bagaimana dia tahu?" Batin Dean Suasana hening, mereka saling menatap. Sementara Adit menatap satu persatu anggota nya dengan tajam. "Tidaka ada?" Tanyanya "Hmm....baiklah." ucap Adit sambil berdiri Adit berjalan mengitari anggota-anggota nya, perlahan Berhenti pada seseorang. Kemudian berjalan lagi dengan santai sambil bersiul. Semua orang ketakutan sampai keringat dingin, kecuali Adit dan Edward. "Dean, apakah kau mengetahui nya?" Tanya Adit sedikit membungkuk ketika berbicara dengan Dean yang duduk di kursi "Ti...ti...tidak Tuan, sa...saya tidak tahu Tuan." Ucapnya gemetaran "Oke, sebaiknya langsung aku lenyapkan saja." Adit melanjutkan mengitari anggotanya. Perlahan-lahan dia mengeluarkan pistol kesayangan nya yang disimpan dibelakang nya Klikk..... Semua orang panik dan takut , jika menjadi sasaran timah panas Adit. Dalam hati mereka bertanya-tanya siapa orang yang berani membuat Ketua marah. Sekarang kemarahan Adit menjadi dua kali lipat. Selain orang yang berkhianat padanya, kemarahan nya juga belum reda kala melihat Divya berduaan dengan pria lain. Dannn.................... Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN