Adit menarik pelatuk nya
Dannnnn...............
Tutt....tuttt.....tuttt.... Handphone Adit berbunyi. Adit melihat nomor yang ada di hp nya, nomor itu tidak tersimpan dan tampak asing, berarti itu tidak penting. Mungkin salah salah sambung. Pikir Adit menggambarkan panggilan itu.
Saat telepon itu datang, mereka sedikit lagi. Namun Adit kembali ke posisinya, mengambil ancang-ancang untuk menembakkan peluru itu pada seorang pria.
Dannnn........
Lagi-lagi bunyi suara handphone Adit terdengar mengganggu aksinya, dan ternyata masih dengan nomor yang sama.
Adit menekan tombol hijau, tanda ia menerima panggilan itu. "Apa? Mengganggu saja." Kesal Adit
"Heyy pria sinting, siapa juga yang ingin mengganggu mu." Ucap seorang perempuan yang tidak lain adalah Divya. Adit yang mendengar suara Divya, seketika raut wajahnya berubah menjadi tenang. Tidak ada kemarahan yang terlihat disana. Perubahan itu membuat semua orang yang ada disana berpikir siapa orang yang bisa dengan mudahnya mengubah mood seorang Aditya.
"Ada apa?" Tanya Adit Tersenyum tipis dan dilihat oleh semua orang Yang ada disana.
Mereka mendengar suara perempuan yang sedang berbicara dengan Adit, tapi mereka tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan itu karena Adit tidak mengaktifkan speaker.
Sebenarnya Adit tau alasan mengapa Divya menelpon nya. Divya menelpon menggunakan hp Valen Karena...yah hp nya diambil oleh Adit.
"Kembalikan Hp ku!"
"Tidak mau."
"Dasar kadal busuk! Jangan membuat ku marah dan nanti nya akan membuatmu menyesal."
"Hahaha, memangnya kau bisa berbuat apa?" Tanya Adit sambil menyunggingkan senyuman sinis.
"Heyy pencuri aku tidak tau kenapa kau mengambil hp ku. Tapi jika dalam waktu 15 menit kau tidak mengembalikan hp itu, maka aku akan resign dari perusahaan mu."
"He, maka utang mu akan bertambah. Apa kau bisa melunasi nya? Tidak kan?" Adit puas dengan perkataan nya.
"Tentu saja ada. Berapa? 1 Milyar? Baiklah akan kukirim." Divya berbohong. Nyatanya dia tidak memiliki uang sebanyak itu. Selama ini Adit tidak peduli tentang hutang, hanya saja dia menggunakan nya agar bisa memperdalam hubungannya dengan divya.
Adit yang mendengar perkataan Divya menjadi bungkam. "Bagaimana ini? Darimana dia mendapat uang sebanyak itu? Tidak. Dia tidak boleh pergi." Batin Adit
"Baiklah akan ku kembalikan." Ucap Adit pasrah. Terlihat jelas bahwa Adit sangat mencintai Divya, sampai dia tidak ingin Divya pergi dan keluar dari hubungan yang telah ia bangun ini.
Panggilan berakhir.
Sekarang apa? Semua orang yang ada di sana terkejut karena selama ini boss mereka tidak pernah kalah dan menyerah begitu saja. Tapi hanya karena seorang wanita dia jadi penurut.
Adit bergegas pergi dari club itu karena dia hanya diberi waktu 15 menit.
Namun sebelum itu....
Dddduuuuuuuaaaaarrrrr.....
Adit melepaskan timahnya di bagian kepala seorang pria, dan orang itu adalah salah satu anak buah Dean.
Semua yang mendengar suara itu, serentak melihat ke arah asalnya.
"Aron, antar bangkai nya ke rumah keluarganya. Jangan lupa katakan pada mereka agar tidak melakukan perlawanan." Ujar Adit
"Baik Tuan." Jawab Aron
Aron mengajak beberapa rekannya untuk mengangkat Mayat Orang yang di tembak Adit.
"Dean, dia anak buahmu kan?"
" I...Iya Tuan."
"Berikan kompensasi pada keluarga nya." Perintah Adit
"Baik Tuan." Jawab Dean takut-takut
"Aku tidak suka ada yang berkhianat di kelompok ku. Meskipun aku sudah sering kali mengatakannya, tapi tetap ada yang berani berkhianat. Dan aku yakin, peluru tadi bukanlah yang terakhir, pasti akan ada lagi." Setelah mengatakan itu Adit keluar bersama Hendra
"Ckckck, dia tau semua rencana busuk kalian. Jadi berhati-hatilah." Edward memperingati mereka semua yang ada disana, dan perkataan nya itu sangat jelas ditujukan pada Dean.
Perhatian! Ingatlah ini....
Adit tidak pernah tanggung-tanggung dalam melakukan sesuatu. Seperti tadi, walaupun Divya menelepon nya ia tetap melanjutkan aksinya. Karena Adit yakin orang yang melakukan pekerjaan dengan tanggung, maka hidupnya juga akan menggantung.
*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Sesampainya di kontrakan Divya dan Valen, Adit beserta Aron dan Hendra langsung mengetuk pintu rumahnya.
Cekkkleeekkk...."Mana hp ku?" Tanya Divya to the point tanpa mempersilahkan ketiganya masuk.
"Ya! Orang datang gak disambut, mana sopan santunnya?" Tanya Valen
"Malas aku basa-basi. Cepat mana?" Divya sudah berkacak pinggang. Saat Adit ingin memberikannya, ada seseorang yang merampas hp nya.
"Jadi kamu yang buat kekacauan ini?" Tanya Satya yang baru saja mendapat apartemen yang dekat dengan kontrakan mereka. Setelah itu dia kembali ke kontrakan karna melihat mobil yang terparkir di depan rumah sepupu nya.
Adit yang mengingat wajah Satya saat bermesraan dengan divya, langsung mendorong keras tubuh pria tampan itu sampai terjatuh dan kepalanya mengenai batu sehingga membuat darah segar mengalir dari keningnya.
"Satya!" Divya menghampiri Satya lalu membawanya masuk ke kontrakan. Tapi sebelum itu Divya menatap tajam ke arah Adit "Aku membencimu." Ucap Divya dingin.
Deg....entah kenapa Adit yang mendengar itu merasa sakit. Ia menatap punggung Divya dengan tatapan nanar.
"Tuan sebaiknya anda pulang saja dulu. Dan untuk perkataan Divya tadi jangan di ambil hati. Wajar jika dia khawatir karena Satya itu sep...." Belum sempat bicara, perkataan Valen dipotong.
"Oh jadi namanya Satya. Dimana dia bekerja?" Tanya Adit setelah mengetahui nama yang telah membuat hubungannya dengan Divya rusak.
Valen yang bingung kenapa Adit mempertanyakan pekerjaan Satya, hanya menjawab seadanya.
"Dia Bekerja di salah satu market place Tuan."
"Menarik." Ucap Adit menyeringai
"Apa mungkin tuan cemburu?" Batin hendra bertanya
"Mungkin saja, ditambah hubungan nona Divya dan tuan akhir-akhir ini lumayan dekat." Batin Aron. Keduanya seakan-akan bisa bertelepati
"Kenapa senyum nya mengerikan sekali." Batin Valen yang merasa tengkuk nya dingin
Adit bersama rekannya pulang ke apartemen
Sebelum Aron dan Hendra pergi Adit memberi tugas pada mereka. "Selidiki dimana pria itu kerja, setelah itu suruh owner nya memecat dia dengan keji." Perintah Adit
"Baik Tuan." Menjawab dengan serempak. Keduanya tau pasti yang dimaksud Tuannya adalah pria yang ditolong Divya tadi.
Keduanya pamit undur diri, sedangkan Adit masuk ke dalam apartemen dengan senyuman penuh kemenangan.
"Dia hanya Milikku dan akan seperti itu untuk seterusnya. Hanya aku yang boleh menyentuh nya. Titik!" Bermonolog sendiri lalu tersenyum lagi.
Bersambung
Note: Untuk para readers setia Terpaksa Menikahi Sang Mafia.
Author minta maaf yah, karna udah lama gak update
Itu dikarenakan karna deadline yang lagi banyak-sebanyak banyaknya, ditambah kerja sampingan buat biaya hidup