Pagi harinya di perusahaan adit, terlihat senyuman puas dari bibir seorang pria.
"Tuan, namanya Satya Grahashia. Kami sudah menyuruh Presdir tempat perusahaan nya Bekerja untuk memecat nya." Ucap Hendra
"Bagus. Kalian memang bisa diandalkan."
"Tapi boss, gimana kalau nona Divya tau?Pasti dia akan marah karena mengetahui boss lah dalang dibalik semua ini." Ujar Aron.
"Benar bos." Balas Hendra. Mereka berdua tahu bahwa Adit telah salah paham tentang Satya.
"Kalian mendukung pria sialan itu, ha?!"
"Tidak tuan." Jawab keduanya serempak
"Boss, sepertinya anda telah salah paham." Ujar Aron memberanikan dirinya
"Salah paham kau bilang? Jelas-jelas dia berani menyentuh wanitaku. Dan apa? Divya malah senang hati menerima nya. Tidak bisa kubiarkan, aku harus memusnahkan pria itu dari muka bumi ini." Ucap Adit mengingat kejadian saat mereka berpelukan.
Aron dan Hendra yang mendengar itu membelalakkan matanya. Bagaimana tidak, Adit secara terang-terangan mengatakan bahwa Divya adalah wanitanya. Yah walaupun mereka tau bahwa Adit sudah mencintai Divya sejak awal.
"Pria itu adalah parasit untuk hubungan kami." Ucap Adit membuat Aron dan Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak Tuan, dia tidak akan pernah memiliki nona Divya. Anda tenang saja." Batin hendra
"Apa didunia ini ada orang yang menikahi Sepupunya? Emang yah Orang jatuh cinta itu udah ada sengek-sengek nya." Batin Aron merutuki kebodohan bossnya sekaligus orang yang telah dianggap sebagai kakaknya.
"Sebaiknya aku membunuh dia dengan cara apa ya? Apa perlu aku menyayat kulitnya untuk dijadikan wayang kulit? hahahaha...ya ya ya, itu pasti akan menyenangkan." Puas dengan opini nya sendiri, ia langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan menelpon seseorang.
"Bunuh orang yang bernama Satya Grahashia dan iris kulitnya sampai tak ada yang tersisa." Perintah Adit pada orang suruhannya
"Ba..." Belum sempat bicara, Aron langsung memotong perkataan orang dari seberang telpon.
"Mana ada orang yang menikahi Sepupunya sendiri, hadehhh..." Aron menghentikan rencana Adit agar kedepannya tidak terjadi kesalahpahaman.
"Apa maksudmu?" Tanya Adit penasaran
"Aduhh boss Aditya Terhormat, anda itu salah paham." Ucap Aron
"Apa?" Tanyanya lagi
"Nama kakak ipar siapa?" Tanya Aron membuat Adit bingung.
"Siapa kakak iparmu?" Tanya Adit balik bertanya. Ia tidak tahu bahwa yang dimaksud Aron adalah Divya.
"Apa kau punya kakak? Setauku kau anak tunggal." Ucap Adit. Aron yang mendengar itu hanya bisa tepuk jidat.
"Astagaa, kok ngelag kali yah otak kakak ku yang satu ini. Maksud ku itu apa nama panjang istrimu itu, eh calon istri maksud nya."
"Untuk apa itu? Apa jangan-jangan kau diam-diam menyukai Divya ku, ha?!Berani sekali kau Aron. Enyah kau!" Teriak Adit menatap tajam ke arah Aron.
"Ha kan, salah paham lagi. Bisa gila aku nangani orang kayak kak Adit. Dah lah malas aku jelasinnya." Batin Aron menyerah
"Tuan, anda salah paham. Aron tidak ada rasa sama sekali pada nona Divya. Dia hanya bertanya siapa nama asli nona Divya, supaya otak anda itu terbuka dan berfungsi dengan baik." Entah dapat keberanian dari mana sampai Hendra mengatakan hal itu.
"Wahhh, Hendra berani sekali kau. Bersiap-siap lah untuk menemui ajalmu. Say goodbye to the world Hendra..." Batin Aron mengagumi keberanian Hendra
"Astagaa, apa yang telah kukatakan? Bagaimana mungkin aku mengatakan nya...matilah aku." Batin hendra yang baru menyadari perkataan yang akan membuatnya menyesal seumur hidup
"HENDRA! HABIS KAU!" Teriak Adit dengan suara lantang membuat keadaan ruangan itu menjadi mencekam
"Tuan, maafkan saya. Saya pasti sudah gila sampai berani mengatakan itu, saya tidak sadar Tuan sampai mengatakan nya di hadapan Anda." Ucap Hendra sambil memohon di kaki Adit
"Oh jadi saat kau tidak sadar kau selalu mengataiku ha?!" Adit semakin salah paham. Aron yang menyadari situasi semakin runyam, memutuskan untuk turun tangan
"Divya Aleshia dan Satya Grahashia. Ada yang sama gak dari nama mereka?" Tanya Aron tiba-tiba. Adit menoleh pada Aron seraya mengernyitkan dahinya
"Apa maksudmu?Apa mereka punya hubungan keluarga?" Tanya Adit kembali pada mode off wolf nya.
"Makanya kalau orang bicara itu di dengerin. Jangan langsung nyolot aja." Ucap Aron
"Mereka itu sepupu kakak ku yang garang." Sambung Aron
"Apa?! Jadi selama ini aku...." Adit menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilakukannya
"Iya kau telah membuang waktumu hanya untuk menyingkirkan orang yang kau anggap parasit itu. Tapi itu sama sekali tak ada gunanya, toh mereka satu nenek dan dari keluarga yang sama yaitu Shia." Jelas Aron menarik tangan Hendra agar keluar dari ruangan itu.
"Sudahlah kami pergi duluan yah kak. Resapi saja dulu apa yang telah kau lakukan.... Sepupu oh sepupu kau membuatku galau, hehehe...." Ledek aron. Keduanya keluar dari ruangan itu, tak mau mendapat semburan kawah panas dari mulut boss nya.
"Heyy, lupakan perintah ku yang tadi." Ujar Adit pada orang suruhannya.
Ya, hp itu masih tersambung. Hanya Adit yang boleh mematikan telepon itu, karena dia yang memulai maka dia pula yang akan mengakhiri nya.
"Baik tuan." Jawab orang itu
Sementara itu di perusahaan tempat Valen bekerja, terlihat Valen sedang duduk di kursinya dengan damai dan masih berkutat pada laptop nya.
"Len, gw bisa mintol gak?" Tanya salah satu karyawan yang lumayan dekat dengan Valen
"Apa? Kalau mampu gw pasti bantu kok." Jawab Valen Tersenyum
"Bisa bellin inhaler gak di apotek? Lo kan udah mau selesai nih kerjanya juga bentar lagi mau istirahat. Jadi Lo mau gak bantu gw? Nanti gw traktirin dehh, hehehe...." Ucap karyawan yang menderita penyakit asma Tersebut.
"Bisa kok. Mana uang nya?" Setelah memberi uang nya, Valen langsung pergi menuju apotek terdekat.
Saat selesai membeli barang itu, Valen kembali ke perusahaan dengan berjalan kaki, karena memang jarak antara apotek dan perusahaan nya tidak terlalu jauh. Jadi hemat ongkos deh, biasalah anak kos-kosan pasti tau lah beban pikiran Valen.
Saat dalam perjalanan, Valen memutuskan untuk memakai earphone agar tidak terlalu membosankan.
Sekitar 150 meter lagi agar sampai di perusahaan, tapi.....
Tinn....tin....tinnn....bunyi suara klakson mobil yang mendekat ke arah Valen, tapi sayangnya Valen tidak mendengarnya
Dan ....... Bruakkkkk.....
Valen terpental ke jalan raya dan mengeluarkan banyak darah.
Para pejalan kaki yang melihat itu langsung mengerumuni Valen.
" Apa dia masih hidup?"
"Sayang sekali, tapi dia masih muda."
"Makanya kalau di jalan raya jangan pake yang di telinga itu lho." Ucap salah satu emak-emak yang tidak tau nama benda yang di pakai Valen pada kuping nya.
"Malang sekali nasib anak ini."
Begitulah perkataan Para orang-orang yang mengerumuni Valen, tanpa ada yang menelpon ambulance.
Di sisi lain ada bapak-bapak yang menghampiri si pengendara mobil dan meminta pertanggungjawaban dari nya.
"Heyy kamu tanggung jawab." Ucap salah satu bapak-bapak yang memiliki wajah sangar
"Iya-iya tenang Napa." Ucap si pengendara mobil yang merupakan seorang pria.
"Awas ibu-ibu, saya mau bawa dia kerumah sakit. Nanti saya dikeroyok lagi." Ujar pria tersebut masuk dalam kerumunan itu. Betapa terkejutnya pria itu saat mengenali wajah Valen.
"Valen!"
Siapakah pria itu?
Apakah Valen bisa selamat?
Ikuti terus ceritanya yah
Bersambung