Di kantor Aditya
Divya sedang fokus menatap layar komputernya dan tiba-tiba.... Ceklekk, suara pintu dibuka.
Tampaklah seorang perempuan yang tidak lain adalah Hanna sekretaris Adit.
"Divya kau diminta pak Presdir ke ruangannya." Ucap Hanna
"Memangnya ada apa mbak?" Tanya Divya penasaran karena memang tugas nya sudah diserahkan pagi tadi.
"Hmm, entahlah... mungkin pak presdir ada urusan mendadak." Jawab Hanna
"Oh begitu yah. Yaudah saya kesana Sekarang." Divya bergegas pergi
"Ada apa iblis itu memanggil ku? Perasaan ku juga nggak enak nih." Batin Divya sambil berjalan menuju lift
Tok...tok...tok....suara pintu diketuk
Adit yang mendengar ketukan itu langsung menyeringai penuh semangat. Entah apa yang sedang direncanakan nya hanya dia dan Tuhan yang tau. "Masuk." Ucapnya dingin
Mendengar ucapan Adit yang dingin, Divya menghela nafas panjang.
"Fyuhh, tenangkan dirimu Divya. Slow, ok....dia tidak akan memakanmu." Gumam Divya pelan nyaris tak terdengar
Divya masuk dan melibat Adit sedang duduk dengan gagahnya di kursi kebesarannya.
"A..ada apa bapak memanggil saya kesini." Kata Divya gugup, ia takut kejadian waktu itu terulang lagi, sehingga membuat Adit marah.
Mendengar ucapan Divya yang gugup, Adit menyeringai menampakkan gigi putih Pepsodent nya.
"Kau tak ingin duduk atau mau berdiri disitu sampai malam menjelang pagi sayang." Ucap Adit menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya.
Melihat itu Divya bukannya menggila seperti wanita-wanita yang selalu ada di dekatnya tapi malah menjadi jijik. "Cih sayang pala kau. Aku gak sudih dipanggil sayang sama kadal busuk kayak kau, huhh....menyebalkan." batin Divya dan segera duduk di depan kursi yang berhadapan dengan Adit
"Ada apa pak memanggil saya?" Tanya Divya lagi, kali ini dengan menunduk.
"Sayang tegakkan kepalamu. Apakah wajahku seburuk itu hingga kau tak sudih menatapku?" Tanya Adit dengan lembut
Mendengar perkataan Adit, Divya langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah Adit. Tatapan mereka terkunci satu sama lain. Mata cokelat milik Adit bertemu dengan mata biru milik Divya, seketika mereka bertatapan cukup lama.
"Mata yang indah nan cantik." Adit membatin. Sama halnya dengan Adit yang mengagumi mata perempuan yang ada dihadapannya, begitu juga dengan Divya yang terperangah melihat ketampanan Adit. "Tampan sekali. Tapi sayang m***m dan gilanya kelewatan. Ha, apaan sih kok jadi muji dia." Batin Divya sambil mengalihkan pandangan ke segala arah.
"Ada apa bapak memanggil saya? Oh iya pak, saya mohon jangan panggil saya dengan sebutan Sayang lagi. Bersikaplah selayaknya atasan dan bawahan." Ucap Divya menekankan kata sayang. Mendengar ucapan Divya, bukannya berhenti Adit malah mendekatinya.
"Pak ada appp..." Belum selesai mengakhiri kalimatnya, Divya terbelalak kaget mendapati Adit yang dengan cepat menyambar bibirnya.
Divya meronta-ronta dalam pelukan Adit dan memukul-mukul d**a bidang milik Adit.
Adit menarik tangan Divya ke atas dan mengunci pergerakannya. Sedangkan tangan satunya lagi menekan tengkuk Divya, berniat untuk memperdalam ciuman mereka. Divya menutup mulutnya rapat dan tak membiarkan lidah Adit masuk. Ini adalah kali kedua Adit mencium Divya secara tiba-tiba.
Tapi bukan Adit namanya kalau tidak bisa membukanya. Ia menggigit kecil bibir Divya sehingga Divya kaget dan membuka mulutnya.
"Oh shitt, kenapa dia segila ini sih?" Batin Divya merutuki boss nya
Lidah Adit mengabsen setiap lorong mulut Divya, dan setelah kehabisan nafas Adit melepaskan ciumannya dengan Divya yang terengah-engah sambil menghirup oksigen dengan rakus.
"Menikahlah denganku." Ucap Adit menatap Divya penuh harap
Plakkk....satu tamparan mendarat tepat di pipi mulus milik Adit. "Apa kau sudah gila, ha?! Ak takkam pernah sudih menikah dengan iblis berwujud manusia seperti mu." Ucap Divya emosi
"Aku akan memenuhi semua yang kau inginkan. Jadi aku mohon menikahlah denganku." Ujar Adit lembut
Melihat perubahan sikap Adit, Divya memiringkan senyumannya. "Hee, dalam mimpimu Kep*rat." Ucap Divya tajam sampai menusuk hati Adit lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Melihat Divya yang mulai pergi meninggalkannya, Adit Tersenyum miris.
"Inilah alasan mengapa aku menyukaimu. Aku merasa tertantang untuk menaklukkan mu. Selama ini aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, tanpa aku suruhpun banyak wanita yang mengantri untuk bersama denganku. Tapi kau sangatlah berbeda, tidak ada satu ruang pun untukku dihatimu." Adit bermonolog Sendiri meratapi penolakan dari Divya
"Aku tak akan melepaskan mu. Kau itu milikku! Aku akan mendapatkan mu bagaimana pun caranya."
Sementara itu di rumah sakit GECEFA.
"Dok, tolong selamatkan dia." Ucap pria yang menabrak Valen samb mengantar Valen ke depan pintu ruang ICU
"Maaf pak. Apa bapak keluarga dari pasien?"
"Eh aku harus jawab apa ini? Aku kan baru mengenalnya Beberapa hari yang lalu. Ahhh, bodo amatlah jawab in aja situ." Batin pria itu
"Iyalah, saya ini kekasihnya. Jadi tolong selamatkan dia yah." Ucap pria itu
"Baik pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin pak. Mohon tunggu disini biar dokter yang menangani nya." Ucap salah satu suster dan langsung menutup pintu
Pria itu bingung harus bagaimana sekarang, jadi ia memutuskan untuk menelfon seseorang yang lumayan dekat dengan saudaranya Valen
Di telpon
"Hallo dit." Ucap pria itu
"Hallo ada apa?" Tanya pria yang ada diseberang. Dia adalah Aditya dan yang meneleponnya Sekarang adalah Edward. Dengan kata lain Edward lah yang menabrak Valen
"Itu....emmm...saudaranya Divya....dia..dia...lagi..."
"Apa? Kalau ngomong yang jelas!" Tegas Adit.
Ia baru kali ini mendengar Edward berbicara segugup itu.
"Itu saudaranya Divya kecelakaan."
"What?Kok bisa?"
" Itu gw gak sengaja nabrak dia." Ujar Edward dengan penuh rasa bersalah. Seketika itu terlintas ide licik dibenak Adit
"Udah Lo pergi dari sana!Cepat!"
"Lah kok gitu sih, kan gw harus tanggung ja..." Perkataan Edward dipotong Karena Adit tiba-tiba mengakhiri telpon itu.
Edward hanya bisa pasrah dan meninggalkan Valen sendirian disana. Sebenarnya Edward tak tega dengan keadaan Valen sekarang, tapi karena keinginan sang sahabat akhirnya dia pergi saja. Selama di perjalanan Edward berfikir akan apa yang direncanakan sahabatnya itu.
Kembali di kantor JAYA GROUP
Terlihat wanita yang sedang memaki-maki seseorang.
"Hmm apa-apaan sih bos kadal setan itu. Enak saja mau menikahiku, aku saja takut dengan yang namanya pernikahan. Membayangkan malam pertama dengannya saja kakiku sudah gemetaran, apalagi melakukan nya. Ihhh.... mengerikan." Ucap Divya
Tak lama handphone Divya berdering dan tertera nomor asing disana.
"Hallo, apa ini dengan saudari Divya?" Ucap pihak rumah sakit yang menelpon Divya, karena tidak melihat pria yang mengantar Valen tadi.
" Iya dengan saya. Ada apa ya?" Tanya Divya
"Begini kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahu bahwa saudari Valen mengalami kecelakaan yang cukup parah dan harus agar di Operasi." Jelas pihak rumah sakit
"Apa? Tidak....tidak....Valen!" Divya tertunduk lesu tanpa diduga air matanya keluar.
"Tolong segera datang ke rumah sakit GECEFA. Terimakasih." Divya tidak mendengar perkataan pihak rumah sakit tersebut dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari kantor.
Semua mata tertuju pada Divya yang menangis terisak-isak dan sampailah ia didepan lobi untuk menunggu taksi di seberang jalan. Divya tak menyadari kalau ada sepasang mata melihatnya dari kejauhan.
"Sudah aku duga akan menjadi seperti ini."
"Baiklah permainan akan segera dimulai." Ucap Adit Tersenyum smirk dan mendekati Divya yang lesu.
Bersambung