Kecelakaan Valen berujung pernikahan

1073 Kata
"Kalau bukan karena aku yang tidak memperhatikannya dengan baik, valen tidak akan begini. Maafkan aku len..." Divya menangis sesenggukan karena tidak bisa menahan sesal di dadanya. Tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang memeluk Divya. "Ada apa hmm?Kenapa kau menangis?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Adit. Ia juga telah mengetahui penyebab Divya seperti ini, tapi tetap saja berrtanya. Dasar Kurang Kerjaan! "Pak Adit, Valen...dia, dia kecelakaan...hiks...hikss..." Kata Divya yang masih terisak dalam pelukan Adit "Sudahlah ayo kita ke rumah sakit. Saudarimu pasti membutuhkanmu." Ujar Adit lembut menenangkan divya "Tapi pak aku harus mencari biaya operasinya, aku tidak bisa kesana tanpa membawa uang itu dan aku akan mendapatkan nya bagaimanapun caranya." Ucap Divya menangis dan menunduk Mendengar itu senyum licik milik Adit merekah sempurna. "Oh benarkah kau akan melakukan apapun?" Tanya Adit menatap Divya Divya mengangguk dan berjalan pergi. Namun tangan kekar itu menarik tangan Divya sehingga bertabrakan dengan d**a Adit. "Aku yang akan membayarnya tapi berjanjilah untuk menepati perkataan mu tadi." Ucap Adit serius. Tanpa pikir panjang Divya langsung mengangguk setuju. "Baiklah aku berjanji." Balas Divya yakin. Mereka pun pergi menuju rumah sakit tempat Valen dirawat Rumah Sakit GECEFA "Dok, bagaimana keadaan Valen. Dia baik-baik saja kan dok, iya kan?" Tanya Divya penuh harap "Keadaan pasien sudah lebih baik, dia sudah melewati masa kritisnya. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan-Nona." Pamit sang dokter melangkah pergi. Divya pun masuk diikuti Adit dari belakang. Sebenarnya Valen sudah dipindahkan ke ruangan VIP yang diberikan oleh Adit. "Maaf Len, selama ini kamu telah menjagaku dengan baik tapi sekarang aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak bisa menjagamu dan selalu ceroboh, maaf..." Ucap Divya memeluk tubuh Valen. Tanpa disadari tangan yang masih lemah mengusap punggung Divya lembut. "Div....ya." Valen berusaha membuka matanya Mendengar itu Divya melepaskan pelukannya dan menatap mata sahabat dengan berlinang air mata. "Valen kamu sudah sadar, maaf..." "Itu bukan salahmu, itu hanyalah kecelakaan. Tidak ada yang tau kalau itu akan terjadi. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Valen tersenyum tipis "Seandainya aku punya mereka yang juga menyayangiku seperti ini, mungkin akan sangat menyenangkan." Batin Adit iri melihat keakraban kedua orang yang ada dihadapannya. Ia menyembunyikan kesepian yang mendalam dihatinya. "Dia...bukankah dia boss mu?" Tanya Valen "I-iya." Menjawab dengan gugup "Kenapa dia ada disini?" "Itu, dia....dia ada karena....emmm..." "Kita sudah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya, tapi aku akan memperkenalkan diriku secara resmi padamu." Ucap Adit tetap pada gaya cool nya "Ha?" Valen mengangkat satu alisnya, tidak paham dengan perkataan Adit. "Perkenalkan namaku Adit Prananta Wijaya, pemilik JAYA GROUP dan calon adik iparmu." Ucap Adit dengan bangga dan masih belum tau kalau sebenarnya Valen dan Divya hanya sahabat saja, tapi sudahlah toh muka mereka mirip. Jadi tidak akan ada yang menyadarinya, biarlah waktu yang menjelaskan. Divya yang mendengar itu terbelalak kaget begitu juga dengan Valen. "Wahh, benarkah itu? Kan benar dugaan ku kalau kalian itu berjodoh, hehehe..." Ucap Valen antusias dan memandang Divya dengan senyum menggoda "Sebentar ya Len, aku mau bicara dulu sama pak Adit." Divya menarik tangan Adit dan Valen lagi-lagi hanya bisa tersenyum bahagia. Setibanya diluar ruangan, Divya langsung memperjelas maksud dari perkataan Adit. "Ada apa sih sayang. Kayaknya kamu pengen banget berduaan sama aku." "Maaf ya pak. Kenapa bapak bilang gitu sama Valen? Kan bapak itu atasan saya, bukan calon suami saya!" Seketika raut wajah Adit berubah menjadi dingin "Kan saya sudah bilang sama kamu, kalau saya ingin menikah dengan kamu!" Divya yang melihat tatapan Adit jadi terdiam dan mengingat apa yang ia katakan tadi. "I-iya pak saya lupa, ya sudah hmm.... saya mau menikah dengan bapak." Ucap Divya gemetar karena tatapan Adit yang menakutkan Setelah mendengar ucapan Divya, sontak Adit pun langsung memeluk dengan hangat dan mengusap-usap kepala Divya dengan lembut. "Makasih sayang, kamu udah mau jadi istri aku. Thanks for that honey!" Ucap Adit terharu sedangkan Divya terdiam mencerna apa yang baru saja ia katakan. "Iya...tapi..." Divya menghentikan kalimatnya. Adit melepas pelukannya dan menangkap kedua pipi Divya. "Tapi apa sayang?" Tanya Adit dengan wajah tegang, takut Divya berubah pikiran. "Tapi aku tidak bisa membalas cintamu." Divya menundukkan kepalanya dan berbicara dengan suara pelan tapi masih bisa terdengar Adit. Mendengar itu Adit tersenyum dan mengusap pipi Divya. "Dengan kau membiarkan amh mencintaimu, itu sudah cukup. Kau tidak perlu membalasku sayang kalau kau belum siap untuk semua itu." Ucap Adit penuh kasih dan memeluk Divya erat. Di mancion Adit Adit datang dengan senyum mengembang di wajahnya. Edward, Aron, dan Hendra yang melihat perubahan Adit hanya bisa melongo sambil menepuk-nepuk pipi mereka. Apalagi pelayan serta bodyguard didalam mancion nampak ternganga dengan apa yang mereka lihat. Karena tak biasanya seorang Aditya yang arogan, kejam, dan tak berhati nurani itu tersenyum lebar. "Hai bro." Sapa Adit dengan senyum sumringah nya dan mendekat ke arah tiga makhluk itu. "Tumben bos senyam-senyum, lagi datang bulan tak?" Kata Aron keceplosan dan refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan "Awas lu Ron, abis tuh si jr lu. Bisa dibuat buntung ama Tuan adit." Ucap Hendra menakut-nakuti Aron Bukan tanpa alasan mereka takut tapi kalau mengingat Adit sudah marah, ia tidak akan pernah terkendali dan menyerang tanpa ampun, bahkan bisa membunuh dengan senang hati. "Maaf bos, aku nggak bilang bos datang bulan kok, tapi hmmm...itu..." Aron gugup harus memberi alasan apalagi. "Sudahlah, aku ingin memberitahu kalian kalau sebentar lagi aku akan menikah." Ucap Adit lancar tanpa basa-basi Mendengar ucapan Adit mereka tertegun dan tidak percaya dengan perkataan Adit barusan. "Hey bro, jangan bercanda. Ini soal pernikahan." Kata Edward menepuk-nepuk punggung Adit "Aku tidak bercanda, dan yah aku akan menikah dalam waktu dekat, aku harap kalian suka akan hal ini." "Mana mungkin kami keberatan. Aku sangat setuju dengan keputusan bos Adit." Ucap Aron penuh semangat dan mendapat anggukan dari teman-teman nya "Baiklah untuk keberhasilan Tuan Adit yang telah menaklukkan hati nona Divya, mari kita rayakan!" Ajak hendra membuat Edward diam menatap lurus kedepan. "Ahh jadi kakak ipar kita itu nona Divya, selamat yah kak Adit." Aron tersenyum manis "Sebentar...." Ucap Edward tiba-tiba membuat semua orang yang ada disana menatapnya "Apa jangan-jangan kau menyuruh ku pergi agar kau bisa...." Belum sempat meneruskan perkataannya, Adit langsung memotong "yah aku menggunakan kesempatan itu, agar bisa menikahinya." Ucap Adit jujur, ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menikahi Divya, jadi ia hanya bisa menggunakan cara ini. Edward mengangguk mengerti, ia tahu perasaan tulus sahabatnya. Sedangkan Aron dan Hendra mengernyitkan dahi, pertanda mereka tidak mengerti arah pembicaraan boss nya itu. Akhirnya mereka menjalani malam dengan penuh canda tawa dengan sesekali melempar candaan yang menyenangkan bagi mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN