Divya Tertembak

1168 Kata
"Tuan, ada kabar tentang Adit bahwa dia akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi." Ucap si penelepon misterius kepada boss nya "Hahaha, itu berita yang sangat bagus. Selama ini tubuhnya selalu disentuh oleh para jalang liar, tanpa mau berhubungan dengan mereka." bawahannya masih menunggu boss nya menyelesaikan perkataan. "Sekarang dia tiba-tiba membawa kabar pernikahannya, jelas sekali bahwa dia sangat mencintai perempuan yang akan menjadi calon istrinya itu. Tapi sayang sekali, karena sebentar lagi aku akan membuat perempuan itu hanya tinggal nama dan kenangan. Hahahaha...ini kesempatan yang bagus untuk membuat si Adit b******k itu menderita." Si penelepon masih tetap diam, memikirkan apa rencana bossnya. "Tapi bagaimana caranya Tuan?" Tanya si penelepon bingung "Sebenarnya otak mubitu terbuat dari apa sih? Aku yakin kelemahannya terletak pada perempuan itu." Ucap pria yang sedari dulu ingin membunuh Adit tapi selalu gagal. "Apa Tuan ingin membunuh perempuan itu?" Tanya si penelepon menebak pikiran sang boss "Yap. I'll do it." Pria itu tersenyum puas dengan rencana nya "Sekarang ada dimana perempuan itu?" Tanya pria itu lagi "Mereka sedang berada di rs GECEFA Tuan, saudari perempuan itu kecelakaan." Jawab si penelepon "Hahahah, mungkin ini akan semakin menyenangkan. Sang kakak kecelakaan dan adiknya menuju kematian." Ucap pria itu "Beberapa hari lagi saudarinya sudah boleh pulang Tuan. Jadi bagaimana cara kita bisa mencelakai calon istrinya?" Tanya si penelepon berpikir keras "Saat mereka keluar dari rumah sakit, kita akan melakukan aksi terbaik sepanjang masa. Kerahkan semua anak buah kita, dan pilih penembak profesional untuk melukai perempuan itu, semakin bagus lukanya semakin bagus pula penderitaan Adit bangke itu." Ucap pria itu jahat "Baik Tuan." Balas si penelepon yang merupakan anak buahnya. Sementara itu di rumah sakit GECEFA terlihat wajah seorang pria sangat lesu. "Ya! Kok bisa sampe kecelakaan sih? Yang nabrak juga bener-bener gak ada akhlak. Main tabrak lari aja, awas aja kalau ketemu gw  sumpel tuh mulutnya." Ucap pria yang tak lain adalah Satya. Ia diberitahu oleh Divya agar segera datang ke rumah sakit karena Valen mengalami kecelakaan. Sedangkan Edward sudah mengepalkan tangan menahan amarah karena mendengar perkataan satya. Sebenarnya dia ingin bertanggungjawab tapi demi melancarkan aksi sahabatnya, ia rela menjadi bahan pembicaraan oleh Satya. "Jadi gak bisa makan masakan Valen deh. Tapi aku udah lapar banget, gimana dong sekarang?" Satya memasang wajah sedih yang dibuat-buat nya. "Makan teruss....sampai kembung tuh perut. Jangan kasih kendor, cusss lah." Ucap Valen menimpali "Cuss? Valen mau masak?" Tanya Satya bingung karena ia tidak yakin Valen bisa memasak dalam keadaan seperti ini "Ya gak lah, bukan aku yang masak tapi kamu! Udah tau aku lagi sekarat, masih aja mikir aku yang bakal masak. Enak banget hidup kamu. Udah sana pergi beli makanan, aku gak mau makan makanan di rumah sakit rasanya membagongkan." Ucap Valen menolak rasa yang disediakan oleh pihak rs "Tapi Len itukan juga demi kesehatan kamu." Ucap Divya khawatir "Udah gapapa santai aja napa. Udah sat beliin, aku udah lapar nih." Bantah Valen "Okay dokee." Satya pergi ke rumah makan terdekat. *~*~*~*~*~*~*~*~*~ Beberapa hari kemudian, keadaan Valen sudah mulai membaik dan dinyatakan sudah boleh pulang.  "Ah, akhirnya pulang juga." Valen merentangkan tangannya lega Dalam perjalanan Edward, Valen, Divya dan Satya satu mobil. Sedangkan di mobil yang lain ada Adit, Aron, dan Hendra yang mengikuti dari belakang. Dorr....dorrr.....dorrrr....suara tembakan membuat Valen dan yang lainnya menutup telinga. Citttttt.....citttttt... Empat peluru ditembakkan pada ban mobil dengan tepat sehingga membuat mobil berhenti mendadak, diikuti oleh mobil yang dikemudikan oleh aron. "Aku ingin memeriksa keadaan,kalian didalam dulu, jangan ada yang keluar diluar berbahaya." Edward mengingatkan  "Iya, kamu hati-hati yah." Ujar Valen yang berada disamping Edward Saat Edward ingin turun, terdengar suara tembakan yang mengarah pada kursi belakang.  Dan dorr...dorr...dor...peluru itu menembus kaca mobil Edward membuat Divya yang berada dibelakang terkena serangan dan tak lama kemudian darah segar keluar dari kepala dan bahu Divya. "Akhhh." Teriak Divya membuat semua orang yang ada didalam mobil khawatir. Adit, dan dua lainnya yang berada dalam mobil belakang terkejut bukan main karena mendengat teriakan Divya. Apalagi sekarang Adit sudah berlari menuju mobil Edward, saat membuka pintu terlihatlah Divya yang tergeletak tak berdaya di pangkuan Satya. "Divya!" Adit menangis sambil mengambil alih tubuh Divya. "Ti-tidak, tidak.....tidak....tidak...tidak...Divya....bangun, jangan seperti ini....tidak sayang kumohon bertahanlah."  Edward, Valen, Satya, Adit, dan Divya keluar dari mobil yang sudah tertembak menuju mobil yang lain untuk membawa Divya ke rumah sakit agar mendapat penanganan lebih lanjut. Sedangkan Aron dan Hendra sudah keluar dari mobil kemudian mengejar para penjahat itu. "Hiks...hiks....bangun sayang." Kepala Divya berada di paha Adit dan terus mengeluarkan darah. Sesekali Adit mengelus rambut Divya, tidak sanggup melihat darah yang keluar Adit mengalihkan pandangannya keluar kaca.  Dalam waktu dekat kematian sudah pasti terjadi pada para penjahat itu,sekarang Adit sedang memikirkan cara bagaimana membuat penjahat itu menderita karena telah berani menyakiti wanita nya. Adit memeluk Divya dengan mata yang sudah memerah akibat mengeluarkan banyak air dari pelupuk matanya. "Akan kubuat mereka yang menyakitimu tersiksa. Itu pasti!" Tegas Adit  "Ya Tuhan, apa ini tanda dari akhir zaman? Aku melihat Adit menangis, apa itu mungkin atau mataku yang sudah rabun." Batin Edward mengusap wajah tak percaya. "Edward, tambah kecepatan!" Teriak Adit yang sudah tak sanggup melihat darah keluar dari kepala Divya "Baiklah." Jawab Edward gugup Sesampainya di RS, Adit langsung berlari menggendong Divya ke ruang pemeriksaan. "Dokter....dokter...." Teriak Adit memanggil dokter  "Ada apa ini?" Dokter datang dengan tergesa-gesa "Tolong, selamatkan dia hiks...hiks....Kumohon." Adit tak henti-hentinya menangis "Ikut saya, bawa dia ke ruang pemeriksaan." Ajak dokter itu. Adit membaringkan Divya di ranjang dengan hati-hati dan lagi-lagi memohon agar Divya selamat. "Tolong tunggu di luar pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Ucap sang dokter Pintu tertutup. Adit menunggu di luar dan sesekali berjalan mondar-mandir dengan perasaan kacau.  "Tuan, kami sudah menangkap penjahat itu." Ucap Aron dan Hendra yang menyusul ke RS  "Dimana dia?" Tanya adit "Ada di markas bos." Jawab aron "Hmmm....siksa dia dan tanya siapa dia."  "Baik Tuan." Aron dan Hendra meninggalkan Adit yang duduk dengan tangan yang menutupi wajahnya "Aron..." Panggil Adit Aron membalikkan tubuhnya dan menjawab " Iya, ada Tuan?" "Lepas semua kuku dan jari-jari tangan-kakinya, rontokkan giginya jangan ada yang tersisa. Hajar dia, tapi jangan sampai mati." Ucap Adit "Ba-baik boss." Jawab Aron gugup Keduanya pergi meninggalkan RS "Sepertinya tuan Adit sangat marah Ron." "Iya, kau benar. Ada yang membangunkan 'Harimau Tidur'." "Sudah lama Tuan Adit tidak semarah ini." Hendra mengingat kejadian terakhir kali kemarahan Adit membludak "Kata kak Edward tadi boss Adit menangisi kakak ipar Divya. Sungguh moment langka, tapi sayang kita melewatkan nya."  "Kalau sampai nona Divya meninggal?" Tanya Hendra tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi. "Aku takut jiwa iblis boss Adit muncul lagi lalu dia menjadi tak terkendalikan dan...." "Dan apa Ron?" "Kita akan terkena imbas nya." Keduanya saling menatap dengan wajah berkeringat. "Semoga nona Divya selamat." Ucap Hendra "Semoga Tuhan melindungi nona Divya dan memberkatinya di setiap jalan yang ia pilih." Aron menambahi kalimat Hendra "Biarlah kehendak- Nya yang terjadi dalam hidup ini, didalam nama Anak- Nya Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa."  "Haleluya Amin." Ucap keduanya bersamaan Bersambung Bab selanjutnya lagi author pertimbangkan, karena bakal ada paragraf yang sedikit mengerikan. Semoga saja bisa di terima
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN