Kesadisan Aditya

1073 Kata
Sudah hampir satu setengah jam, belum ada kabar tentang Divya dan itu membuat Adit tambah cemas. Ceklekk...saat pintu terbuka, Adit langsung menyambar dokter itu dengan berbagai pertanyaan. "Bagaimana dok keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa perlu perawatan yang intensif?atau dia perlu tambahan do...." Belum selesai bicara, dokter itu langsung memotong perkataan Adit yang menurutnya terlalu berlebihan. "Pasien sudah melewati masa kritisnya, untuk sekarang dia hanya perlu istirahat yang cukup dan beberapa hari ke depan dia masih harus dirawat disini." Jelas sang dokter Mendengar perkataan sang dokter, ada rasa lega dan sedih di hati Adit. Disisi lain ia senang jika Divya sudah mulai baikan tapi di sisi lain ia sedih karena pernikahan nya harus ditunda. Sudahlah tak apa yang penting Divya selamat. Pikir Adit. "Baik dok, Terimakasih." Ucap Adit "Syukurlah Divya sudah baikan, mujizat Tuhan memang luar biasa." Ucap Edward datang dari kantin bersama Valen dan Satya. "Tuan, bagaimana keadaan nona Divya?" Tanya Aron dan Hendra yang datang lagi ke RS "Dia sudah baikan." Jawab edward menenangkan mereka "Fiuhh, selamat kita Ron." Bisik Hendra dan diangguki oleh Aron "Bagaimana? Apa tugas kalian sudah selesai?" Tanya Adit  "Boss, kami sudah menanyainya bahkan sampai menyiksa dia, tapi orang itu tetap tidak mau mengakui nya." Jawab Aron "Baiklah sepertinya aku harus turun tangan. Aron, Hendra ayo kita ke markas." Ajak Adit "Baik Tuan." Ucap Hendra "Habislah tuh orang kalau tidak mati pasti cacat tuh manusia." Batin Aron "Memang benar kata orang, cinta bisa mengubah segalanya." Batin Edward Sesampainya di markas, Hendra membawa kursi kayu dan Adit duduk di kursi itu sambil menyalakan rokok mahalnya. Sedangkan aron membawa pembunuh yang telah mencelakai calon kakak iparnya. Tampak jelas kalau orang itu sangat ketakutan, tangannya diikat ke belakang. Ikatannya begitu erat dan tebal sampai ke perut, dari bibirnya terlihat darah yang keluar sudah mengering dan kukunya juga dilepas dengan paksa. Adit menatap orang itu dengan tatapan tajamnya, membuang asap rokoknya ke wajah orang yang ada dihadapannya. Note: Adegan selanjutnya sedikit mengerikan, dan terdapat unsur kekerasan. Tolong jangan ditiru yah, terutama pada musuhnya.  Kalau gak tahan langsung skip aja :) "Katakan, siapa yang menyuruhmu mencelakai wanitaku?" Tanya Adit dan tidak ada jawaban dari orang itu "Siapa orang ini, kenapa dia sangat menakutkan?" Batin orang yang tertangkap itu "Kau tidak mau menjawabnya?" Tanya Adit lagi "Apa gunanya aku memberitahumu? Kau tetap akan membunuhku kan?" Ucap orang itu dengan suara gemetar. "Hahahah.....tentu saja, kalau itu pasti. Tapi ada dua pilihan mati secara perlahan atau cepat." "Kalau begitu aku minta dibunuh cepat, karena aku tidak akan memberitahukan mu. Hahah...." "Aron..." Ujar Adit meminta sesuatu pada aron. Aron memberikan sebuah pisau kecil, namun sangat tajam. "Bukan kau yang memberikan keputusan akhir." Ucap Adit menunjukkan pisau kecilnya "Buka talinya." Perintah Adit Anak buahnya membuka ikatan itu semantara Aron dan Hendra berdiri di samping Adit Sambil menelan ludah kasar. "Tunjukkan tangan kanannya padaku." Adit berdiri menghampiri Orang itu Srekkk...."Aaaaakkkkhhhhh." Teriak orang itu. Adit memotong jari kelingking orang itu sampai ke pangkalnya. "Kau tidak akan mendapatkan jawabannya, hahhahahah...." Ucap orang itu membuat Adit semakin geram "Aaaakhhhhhhhh...." Teriaknya lagi karena Adit memotong kelima jari tangan kanannya. "Berikan tangan kirinya!" Teriak Adit tak kalah keras "Jangaaaannnnn..." Teriak orang itu "Bagaimana? Apa perlu aku menghabiskan semua jari tanganmu?" Tanya Adit dengan senyum sinisnya "Kau tidak tahu siapa aku. Lepaskan aku, maka akan aku kurangi hukumanmu." Ucap orang yang menahan sakit itu "Hahahaha...." Tawa Adit menggelegar di seluruh ruangan membuat keadaan semakin mencekam Dengan kakinya, ia menendang wajah orang itu. "Tidak ada kompromi atau tawar menawar dalam prinsip ku." Ucap Adit Tanpa menunggu waktu lagi, Adit kembali memotong jari tangan orang itu. "Akkkkhhhhh...." Teriaknya lagi dan lagi "Kau akan menyesal, aku adalah salah satu anak buah dari kelompok mafia paling kejam di negara ini."  "Bagaimana? apa kau sudah ketakutan sekarang? Hahaha, lepaskan aku Ban*sat!"  "Aku takut sekali, aku benar-benar sangat takut." Setelah mengatakan itu muncul senyum jahat di bibir Adit "Kau takut, lepaskan aku!" "Hendra, nyalakan api." Perintah Adit "Baik Tuan." Jawab Hendra "Apa yang akan dilakukan nya padaku?" Batin orang itu "Hei, apa kau tidak dengar, lepaskan aku." "Kau masih tidak memberitahukanku siapa yang menyuruhmu." "b******k, apa kau mau cari mati?!" Adit menarik tangan kanan orang itu mendekati kayu yang sudah dibakar. "Lepaskan aku, apa yang akan kau lakukan." "Tolong lepaskan aku." Adit tidak mendengarkannya, dia tetap berjalan menarik tangan orang itu. Semua anak buah Adit ikut merasa ketakutan melihat kejadian itu, termasuk Aron dan Hendra. Beberapa kali mereka melap keringat yang membasahi kemeja. Adit mengulurkan tangan kanan yang sudah tidak memiliki jadi itu ke arah tumpukan kayu yang menyala dengan api membara. "Akhhh.....hentikaaaannnn.....akhhhhhh." Teriak orang itu "Hahahahah...." Adit tertawa menandakan bahwa dia belum puas Kemudian dia mengganti tangan orang itu dengan tangan kiri ke kayu yang masih menyala. "Akhhhhhh.....Tolongggggggg.....lepaskaaaann akuuuuu..... akhhhhhh...." Teriaknya histeris "Sadis! Kakak ku ini sangat sadis sekali." Batin Aron membuka sedikit mulutnya "Huhhhh, inilah akibatnya melawan Tuan Adit. Aku hanya bisa mendoakan agar hidupmu tenang di alam baka sana." Batin hendra "Bagaimana, masih belum mau bicara? Aku masih punya banyak bagian tubuhmu untuk dibakar, dikuliti,atau dimutilasi." Bisik Adit "Baiklah, aku....aku akan memberitahukan nya padamu, tapi lepaskan aku." Pinta orang yang sudah sekarat itu "Aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu itu, tapi aku bisa memberikan mu kematian cepat. Bagaimana hmm?"  "Sialan....kau hanya ingin menyiksaku, lebih baik bunuh aku." "Tentu...tentu....aku akan membunuhmu tapi aku menyiksamu dulu perlahan-lahan menuju kematian."  Adit menarik kaki kanan orang itu seraya membuka sepatu dan kaos kakinya. "Apa lagi yang akan dilakukan boss Adit?" Batin Aron Adit memotong lima jari kaki kanannya satu persatu. "Akhhhhhh.... uhhhhhukkkkk.....akhhhhh....." "Bbaiklah...baikkklahhh...aku akannn memberitahu mu." Ucapnya terbata-bata "Siapa?" Tanya Adit "Uhhukkk... uhhuk...dia adalah Dean." Jawab orang itu "Sudah kuduga." Batin Aron Adit berdiri memberikan perintah pada anak buahnya. "Ikat tangan dan kakinya, tutup mulutnya dan besarkan api ini." Begitulah isi perintahnya "WTF." Batin hendra "Baik Tuan." Jawab anak buahnya "Lepaskan....lepaskaannn....apa yang mau kau lakukaannn!" "Hahahha....aku akan mengakhiri penderitaan mu." Ujar Adit Dia mengangkat tubuh laki-laki nya tak berdaya itu, dan melemparkannya ke tumpukan kayu bakar yang sangat besar apinya "Aakkkkhhh.... keluuaarrrkannn aku dari siniiii." Teriak orang malang itu "Mengerikan." Bisik anak buahnya "Aron, bawa Dean ke markas. Sekarang giliran dia merasakan panasnya api neraka." Ucap Adit "Baik boss." "Apakah akan ada pertunjukan lagi?" Tanya anak buahnya berbisik "Mungkin." Jawab rekannya "Bereskan tempat ini, aku tidak mau melihat sisa-sisa tulang dan abunya."  "Baik Tuan." "Kita kerumah sakit." Ucap Adit Adit, Aron dan Hendra pergi meninggalkan tempat terkutuk itu Dan.... Bersambung❤️ Tq untuk yang udah baca Jangan lupa follow yah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN